PROGRES.ID, HAWAII – Kecelakaan mengerikan menimpa pesawat Aloha Airlines Penerbangan 243 pada 28 April 1988. Seorang pramugari bernama Clarabelle “C.B.” Lansing tewas setelah sebagian besar bagian atas badan pesawat Boeing 737-200 terlepas ketika pesawat sedang mengudara di atas Kepulauan Hawaii, Amerika Serikat.

Pesawat yang melayani rute Hilo menuju Honolulu itu membawa 95 orang, terdiri atas 89 penumpang dan enam awak. Saat berada pada ketinggian sekitar 24.000 kaki atau 7.300 meter, pesawat mengalami kerusakan struktural yang menyebabkan dekompresi eksplosif.

Lansing, pramugari senior berusia 58 tahun yang telah bekerja selama 37 tahun untuk Aloha Airlines, tersapu keluar dari pesawat bersama bagian badan pesawat yang terlepas. Jenazahnya tidak pernah ditemukan.

Meski mengalami kerusakan sangat parah, pilot berhasil mengendalikan pesawat dan melakukan pendaratan darurat di Bandara Kahului, Pulau Maui. Seluruh penumpang dan awak lainnya berhasil selamat, meskipun delapan orang mengalami luka serius.

Atap Pesawat Mendadak Terlepas di Ketinggian 7.300 Meter

Peristiwa bermula ketika Aloha Airlines Penerbangan 243 lepas landas dari Bandara Hilo pada pukul 13.25 waktu setempat. Penerbangan antarpulau tersebut merupakan perjalanan rutin yang biasanya ditempuh dalam waktu relatif singkat.

Sekitar 20 menit setelah lepas landas, ketika pesawat berada pada ketinggian 24.000 kaki, terdengar suara keras dari bagian atas badan pesawat.

Tidak lama kemudian, sekitar 18 kaki atau 5,5 meter bagian kulit dan struktur atas pesawat terlepas. Lubang besar terbuka di bagian kabin, menyebabkan udara bertekanan tinggi di dalam pesawat keluar secara tiba-tiba.

Angin kencang langsung menerjang kabin. Penumpang yang berada di bagian depan pesawat mendapati sebagian besar atap di atas mereka telah hilang dan langit terlihat langsung dari dalam kabin.

Lansing, yang ketika itu sedang bertugas di sekitar baris kelima kursi penumpang, ikut terseret keluar bersama puing-puing pesawat.

Sejumlah penumpang juga mengalami luka akibat tekanan udara, puing, dan kondisi darurat yang terjadi dalam waktu sangat singkat.

Pilot Berjuang Menyelamatkan Pesawat

Di tengah kondisi kabin yang rusak parah, kapten penerbangan Robert Schornstheimer segera mengambil alih kendali pesawat.

Kehilangan sebagian besar struktur atas badan pesawat membuat situasi sangat sulit. Suara angin yang masuk ke kabin dan kokpit juga mengganggu komunikasi antara pilot.

Schornstheimer bersama kopilot Madeline “Mimi” Tompkins berusaha mempertahankan kendali pesawat sambil melakukan prosedur darurat.

Pilot kemudian memutuskan mengalihkan penerbangan menuju Bandara Kahului di Pulau Maui. Pesawat melakukan penurunan darurat sebelum akhirnya berhasil mendarat.

Pendaratan tersebut mengakhiri penerbangan yang berubah menjadi salah satu kecelakaan paling dramatis dalam sejarah penerbangan komersial.

Dari 95 orang di dalam pesawat, hanya Lansing yang meninggal dunia. Delapan orang mengalami luka serius, sedangkan penumpang dan awak lainnya berhasil selamat.

Hasil Investigasi Ungkap Kelelahan Struktur Pesawat

Setelah kecelakaan, Badan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat atau National Transportation Safety Board (NTSB) melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab terlepasnya bagian badan pesawat.

Hasil investigasi menyimpulkan bahwa penyebab utama kecelakaan adalah kegagalan program perawatan Aloha Airlines dalam mendeteksi kerusakan serius pada sambungan kulit badan pesawat.

Kerusakan tersebut berkaitan dengan metal fatigue atau kelelahan material, yakni kondisi ketika logam mengalami kerusakan secara bertahap akibat tekanan berulang selama penggunaan.

Pesawat Boeing 737-200 dengan nomor registrasi N73711 itu telah mencatatkan sekitar 89.680 siklus penerbangan dan 35.496 jam terbang ketika kecelakaan terjadi.

Siklus penerbangan merupakan jumlah proses lepas landas dan pendaratan. Setiap siklus menyebabkan perubahan tekanan pada badan pesawat, sehingga komponen struktural mengalami beban berulang.

NTSB menemukan bahwa kerusakan pada sambungan badan pesawat tidak terdeteksi sebelum akhirnya menyebabkan kegagalan struktur di udara.

Lembaga tersebut juga menyoroti kelemahan pengawasan terhadap program perawatan dan pemeriksaan keselamatan pesawat.

Tragedi Aloha Airlines Mengubah Perhatian terhadap Keselamatan Penerbangan

Kecelakaan Penerbangan 243 menjadi peringatan penting bagi industri penerbangan, khususnya mengenai risiko penggunaan pesawat yang telah menjalani ribuan siklus penerbangan.

Peristiwa tersebut mendorong perhatian lebih besar terhadap pemeriksaan kelelahan material, kondisi sambungan badan pesawat, serta efektivitas program perawatan maskapai.

Kasus Aloha Airlines juga menjadi salah satu contoh penting dalam pembahasan keselamatan pesawat berusia tua. Kerusakan yang tidak terlihat dari luar dapat berkembang selama bertahun-tahun sebelum akhirnya menyebabkan kegagalan struktural.

Hingga kini, kisah Clarabelle Lansing tetap dikenang sebagai salah satu tragedi dalam sejarah penerbangan sipil. Sementara itu, keberhasilan pilot mendaratkan pesawat dengan kerusakan luar biasa menjadi bagian penting dari catatan keselamatan penerbangan dunia.