PROGRES.ID – Perusahaan energi asal Jepang, Inpex Corporation, mempercepat proses menuju final investment decision (FID) untuk proyek gas raksasa Abadi LNG di Blok Masela, Indonesia, yang diperkirakan memiliki nilai investasi lebih dari US$20 miliar.
Mengutip laporan Upstreamonline, proyek strategis tersebut menjadi salah satu pengembangan energi terbesar di kawasan Asia Pasifik dengan target produksi mencapai 9,5 juta ton LNG per tahun.
Selain itu, proyek Abadi juga diproyeksikan memasok sekitar 150 juta kaki kubik gas per hari untuk kebutuhan domestik Indonesia serta menghasilkan sekitar 35.000 barel kondensat per hari pada puncak produksinya.
Operator proyek menargetkan keputusan investasi final dapat dicapai pada 2027. Namun, pemerintah Indonesia disebut terus mendorong agar proses FID bisa dipercepat sebelum akhir tahun ini.
Sebagai bagian dari percepatan proyek, Inpex mengungkapkan telah mencapai kesepakatan prinsip penjualan LNG dengan empat perusahaan besar, yakni BP, Perusahaan Gas Negara, PLN Energi Primer Indonesia, dan Shell.
Kesepakatan awal tersebut nantinya akan dilanjutkan ke tahap finalisasi sales and purchase agreement (SPA) yang diperkirakan mencakup sebagian besar produksi LNG dari proyek Abadi.
“Kesepakatan prinsip terkait pengambilan LNG menjadi tonggak penting bagi proyek ini dan mendukung kemajuan menuju keputusan investasi final,” kata Inpex.
Selain kontrak LNG, perusahaan juga mencapai kesepakatan prinsip pasokan gas dengan Pupuk Indonesia untuk distribusi gas pipa dari proyek tersebut.
Inpex menilai pengembangan pasar LNG dan gas domestik sejalan dengan strategi pemerintah Indonesia dalam memaksimalkan pemanfaatan sumber daya alam serta memenuhi peningkatan kebutuhan energi di Asia Pasifik.
Di sisi teknis, proses front-end engineering and design (FEED) untuk sejumlah paket proyek masih terus berlangsung. Bahkan, beberapa tender kontrak engineering, procurement, construction, and installation (EPCI) utama telah mulai dibuka.
Pengerjaan FEED fasilitas terapung FPSO ditangani dua konsorsium besar yang melibatkan Technip Energies, Saipem, McDermott, serta Tripatra.
Sementara itu, fasilitas liquefaction darat dikerjakan konsorsium yang dipimpin JGC Holdings bersama KBR, Samsung E&A, dan Adhi Karya.
Adapun pengerjaan FEED untuk sistem pipa gas, SURF, dan fasilitas carbon capture and storage (CCS) dipimpin oleh Worley.
Struktur kepemilikan proyek Abadi LNG saat ini terdiri dari Inpex sebesar 65 persen, Pertamina Hulu Energi sebesar 20 persen, dan Petronas sebesar 15 persen.










