Mengenal Lima Pasaran dalam Kalender Jawa
Berbeda dengan kalender Masehi yang menggunakan siklus tujuh hari, kalender Jawa memadukan tujuh hari dalam sepekan dengan lima hari pasaran.
Lima pasaran tersebut adalah Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.
Kombinasi antara tujuh hari dan lima pasaran menghasilkan siklus 35 hari yang dikenal sebagai weton.
Dalam tradisi Jawa, weton sering digunakan untuk mengetahui karakter seseorang berdasarkan hari kelahirannya serta menjadi salah satu unsur dalam perhitungan adat.
Berikut nilai neptu masing-masing hari dan pasaran:
Neptu hari:
- Minggu: 5
- Senin: 4
- Selasa: 3
- Rabu: 7
- Kamis: 8
- Jumat: 6
- Sabtu: 9
Neptu pasaran:
- Legi: 5
- Pahing: 9
- Pon: 7
- Wage: 4
- Kliwon: 8
Nilai neptu weton diperoleh dengan menjumlahkan neptu hari dan pasaran.
Sebagai contoh, Senin Pon memiliki neptu 11. Angka tersebut berasal dari Senin bernilai 4 dan Pon bernilai 7.
Sementara itu, Sabtu Pahing mempunyai neptu 18, hasil penjumlahan Sabtu bernilai 9 dan Pahing bernilai 9.
Weton dengan Neptu Tertinggi pada November 2026
Berdasarkan daftar kalender Jawa November 2026, weton dengan nilai neptu tertinggi adalah Sabtu Pahing.
Weton tersebut jatuh pada 21 November 2026 dengan jumlah neptu 18.
Dalam tradisi perhitungan Jawa, angka neptu kerap digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk perhitungan kecocokan pasangan dan pemilihan hari untuk kegiatan tertentu.
Selain Sabtu Pahing, beberapa weton lain juga memiliki nilai neptu cukup tinggi, yaitu:
- Sabtu Kliwon, 14 November: neptu 17.
- Kamis Pahing, 26 November: neptu 17.
- Sabtu Pon, 7 November: neptu 16.
- Rabu Pahing, 11 November: neptu 16.
- Kamis Kliwon, 19 November: neptu 16.
Perlu diketahui bahwa nilai neptu merupakan bagian dari tradisi penanggalan Jawa. Angka tersebut tidak secara ilmiah menentukan nasib, keberuntungan, maupun karakter seseorang.
Sejarah Singkat Kalender Jawa
Kalender Jawa memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan perkembangan kebudayaan masyarakat Jawa.
Sistem penanggalan yang dikenal sebagai kalender Sultan Agungan mulai diberlakukan pada masa pemerintahan Sultan Agung dari Kerajaan Mataram Islam pada 1633 Masehi.
Sistem tersebut memadukan unsur kalender Saka dengan kalender Hijriah. Perubahan dilakukan agar penanggalan yang digunakan masyarakat Jawa dapat selaras dengan sistem kalender Islam.
Kalender Jawa tetap mempertahankan perhitungan tahun Saka, tetapi menggunakan sistem peredaran bulan atau lunar seperti kalender Hijriah.
Dalam perkembangannya, kalender Jawa tidak hanya menjadi alat untuk menghitung waktu, tetapi juga bagian dari tradisi dan kebudayaan masyarakat.
Hingga sekarang, sejumlah masyarakat Jawa masih menggunakan weton dan pasaran sebagai referensi dalam berbagai kegiatan adat.
Kesimpulan
Kalender Jawa November 2026 terdiri atas 30 hari dengan dua periode bulan, yaitu Jumadilawal dan Jumadilakir 1960 Jawa.
Pergantian bulan berlangsung pada Kamis, 12 November 2026, ketika penanggalan memasuki 1 Jumadilakir.
Setiap tanggal memiliki weton dan nilai neptu berbeda. Sabtu Pahing pada 21 November 2026 menjadi weton dengan neptu tertinggi, yakni 18.
Informasi kalender Jawa ini dapat menjadi referensi untuk mengetahui tanggal tradisional, pasaran, dan weton sepanjang November 2026 sekaligus membantu melestarikan warisan budaya penanggalan masyarakat Jawa.

Komentar