PROGRES.ID – Seorang komandan senior Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan bahwa Israel secara efektif telah mengakui perubahan keseimbangan kekuatan setelah meninggalkan kota-kota di wilayah utara, di tengah gempuran rudal Iran ke wilayah Haifa.
Majid Mousavi, komandan Angkatan Dirgantara IRGC, mengatakan langkah tersebut menunjukkan pengakuan de facto atas kekalahan. Pernyataan itu disampaikan melalui unggahan di platform X.
“Dengan meninggalkan kota-kota utara di wilayah pendudukan, rezim (Zionis) secara praktis telah menerima kekalahan dalam keseimbangan (kekuatan),” ujarnya.
Ia juga mengklaim bahwa dalam 24 jam terakhir, sejumlah infrastruktur penting di kawasan Teluk Haifa, termasuk kilang, instalasi listrik, pelabuhan, dan jalur kereta api, menjadi sasaran serangan rudal Iran. Menurutnya, tidak ada laporan mengenai keberhasilan pencegatan rudal dalam serangan tersebut.
Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari, menyusul terbunuhnya pemimpin Revolusi Islam Iran saat itu, Ayatollah Seyed Ali Khamenei, bersama sejumlah komandan militer senior dan warga sipil.
Serangan tersebut dilaporkan mencakup gelombang serangan udara intensif yang menargetkan fasilitas militer dan sipil di berbagai wilayah Iran, yang mengakibatkan korban jiwa serta kerusakan infrastruktur dalam skala luas.
Sebagai balasan, angkatan bersenjata Iran melancarkan serangkaian operasi menggunakan rudal dan drone yang menyasar posisi Amerika Serikat dan Israel di wilayah pendudukan serta pangkalan-pangkalan militer di kawasan tersebut.










