Kolonel Douglas Macgregor: Iran Diprediksi Menang dan AS-Israel Terancam?

favicon progres.id
douglas macgregor
Douglas Macgregor (Foto: CNN)

PROGRES.ID – Wawancara terbaru antara analis geopolitik Norwegia Glenn Diesen dan mantan Penasihat Sekretariat Pertahanan Amerika Serikat Kolonel (Purn.) Douglas Macgregor mengguncang narasi arus utama tentang perang Israel-Iran. Dalam video berjudul Youtube “A New World Emerges: Iran Will Win & Israel May Not Survive”, Macgregor menyampaikan analisis tajam: konflik ini bukan perang singkat, melainkan awal dari perubahan besar tatanan global.

Dan menurutnya, hasil akhirnya mungkin tidak seperti yang dibayangkan Washington maupun Tel Aviv.

Perang Regional, Bukan Sekadar Konflik Israel-Iran

Macgregor menilai perang telah berubah menjadi konflik regional penuh. Iran disebut telah menargetkan sedikitnya 27 pangkalan militer dan fasilitas pelabuhan di Timur Tengah, dari Turki hingga Teluk.

Dampaknya langsung terasa di pasar global. Harga minyak melonjak tajam, bahkan diprediksi menembus 100 dolar per barel dalam waktu dekat. Jalur strategis seperti Selat Hormuz dan Laut Merah terganggu, memicu kepanikan ekonomi dari Eropa hingga Asia.

Uni Emirat Arab dan Dubai, yang selama ini menjadi pusat perdagangan internasional, disebut mengalami gangguan besar akibat serangan drone murah yang berhasil menembus sistem pertahanan mahal.

“Perang ini sudah menjadi masalah dunia,” tegas Macgregor.

AS Kehabisan Amunisi?

Salah satu poin paling mengkhawatirkan dari analisis Macgregor adalah soal logistik militer Amerika Serikat. Ia mengungkapkan bahwa cadangan rudal AS terbatas, sementara Iran memiliki stok jauh lebih besar.

Untuk mencegat satu rudal hipersonik, sistem pertahanan membutuhkan dua hingga tiga rudal pencegat. Masalahnya, rudal Iran kini melaju dengan kecepatan Mach 3 hingga Mach 6, bahkan dilengkapi umpan untuk mengecoh pertahanan udara.

“Secara teknologi, mereka sudah melampaui perkiraan kita,” ujarnya.

Macgregor memperingatkan bahwa jika perang berlarut-larut, AS dan Israel bisa kehabisan amunisi lebih dulu. Sementara Iran, menurutnya, hanya perlu bertahan untuk memenangkan narasi global.

Strategi atau Sekadar Reaksi?

Macgregor mengkritik keras pemerintahan Donald Trump, yang menurutnya tidak memiliki strategi jangka panjang.

Serangan awal memang berhasil menargetkan tokoh penting Iran, termasuk pemimpin tertinggi. Namun, secara strategis, Iran tidak runtuh. Negara berpenduduk 93 juta jiwa itu tetap solid.

“Kita mungkin menang secara taktik, tapi taktik tidak memenangkan perang. Strategi yang menentukan,” katanya.

Ia juga menyebut bahwa ambisi “regime change” di Iran hampir mustahil tercapai tanpa invasi darat besar-besaran, sesuatu yang secara politik dan militer sangat berisiko.

Apakah Israel Bisa Bertahan?

Pernyataan paling kontroversial Macgregor adalah prediksinya bahwa Iran akan bertahan, sementara Israel belum tentu.

Ia menilai mobilisasi besar-besaran tentara cadangan Israel menunjukkan tekanan yang meningkat. Sistem Iron Dome tidak sepenuhnya efektif menghadapi teknologi rudal baru Iran. Jika konflik meluas ke Lebanon atau ke front lain, beban militer Israel bisa menjadi tak tertahankan.

“Pertanyaannya bukan lagi apakah Iran akan selamat. Pertanyaannya, apakah Israel akan tetap seperti sekarang setelah ini,” ujarnya.

Risiko Eskalasi Nuklir

Macgregor juga memperingatkan potensi penggunaan senjata nuklir taktis oleh Israel jika tekanan terus meningkat. Jika itu terjadi, Rusia dan China disebut hampir pasti akan turun tangan.

Intervensi dua kekuatan besar tersebut, menurutnya, bisa mengubah konflik regional menjadi krisis global.

Hegemoni Amerika di Ujung Tanduk

Di luar medan perang, Macgregor melihat dampak geopolitik yang jauh lebih besar. Kredibilitas Amerika sebagai kekuatan tak terkalahkan mulai dipertanyakan.

Negara-negara seperti Turki, India, bahkan Jepang dan Korea Selatan disebut akan meninjau ulang ketergantungan keamanan mereka pada Washington. Jika AS terlihat lemah atau mundur tanpa hasil, reputasi globalnya bisa runtuh.

Ia juga menyoroti risiko krisis finansial besar akibat lonjakan imbal hasil obligasi AS dan percepatan dedolarisasi global.

“Kita menyaksikan akhir dari hegemoni militer Amerika di Timur Tengah,” tegasnya.

Dunia Baru Sedang Terbentuk

Bagi Macgregor, perang ini bukan sekadar konflik militer. Ini adalah momen transisi sejarah. Ia menyebut era lama dominasi Barat perlahan berakhir, digantikan oleh tatanan baru yang lebih multipolar.

Iran, sebagai negara berperadaban kuno Persia, diyakini mampu bertahan. Sementara Amerika Serikat, yang relatif muda sebagai kekuatan global, menghadapi ujian eksistensial.

“Perang ini bisa menjadi titik balik. Dunia baru sedang lahir,” pungkasnya.

Kesimpulan

Analisis Douglas Macgregor menghadirkan perspektif berbeda dari narasi arus utama Barat. Ia melihat perang Israel-Iran sebagai konflik panjang yang berpotensi melemahkan Amerika Serikat dan mengubah peta geopolitik global.

Apakah prediksinya akan terbukti benar? Satu hal yang pasti: dampak konflik ini sudah melampaui batas Timur Tengah dan mulai mengguncang fondasi sistem internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *