Ali Larijani Ungkap Dugaan Skenario “9/11 Baru” untuk Menyalahkan Iran, Tegaskan Teheran Siap Membalas

favicon progres.id
Ali Larijani
Ali Larijani (Foto: Marwan Naamani/ZumaPress)

PROGRES.ID – Pejabat keamanan tertinggi Iran memperingatkan adanya dugaan rencana operasi “false flag” yang bertujuan menjebak Iran dalam sebuah serangan besar mirip tragedi 11 September 2001. Peringatan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menyampaikan pernyataan tersebut melalui unggahan di akun media sosialnya pada Minggu.

Dalam pernyataannya, Larijani menegaskan bahwa Iran menolak segala bentuk terorisme dan tidak memiliki niat untuk berkonflik dengan rakyat Amerika Serikat.

Iran Waspadai Dugaan Operasi “False Flag”

Larijani mengungkapkan bahwa pihaknya menerima informasi mengenai dugaan rencana untuk menciptakan sebuah insiden besar yang kemudian akan dituduhkan kepada Iran.

Menurutnya, skenario tersebut disebut-sebut mirip dengan pola serangan seperti dalam peristiwa September 11 attacks.

Ia juga menyebut adanya kelompok tertentu yang diduga merancang rencana tersebut dengan tujuan menyalahkan Iran di mata dunia.

“Iran secara prinsip menolak program-program teror seperti itu dan tidak memiliki perang dengan rakyat Amerika,” tegas Larijani dalam pernyataannya.

Iran Tegaskan Sikap Bertahan

Meski memperingatkan potensi skenario tersebut, Larijani menegaskan bahwa Iran saat ini berada dalam posisi defensif dan hanya bertindak untuk mempertahankan kedaulatan negaranya.

Ia menambahkan bahwa Iran tetap siap menghadapi segala bentuk agresi dari pihak luar, terutama setelah meningkatnya ketegangan militer di kawasan.

Menurutnya, jika terjadi serangan terhadap Iran, negara tersebut tidak akan ragu memberikan respons tegas terhadap pihak yang dianggap sebagai agresor.

Latar Belakang Ketegangan Iran, AS, dan Israel

Pernyataan Larijani muncul di tengah konflik yang semakin memanas antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Ketegangan meningkat setelah operasi militer besar-besaran dilancarkan terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang terjadi setelah terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, bersama sejumlah komandan militer senior dan warga sipil.

Serangan tersebut dilaporkan melibatkan gelombang serangan udara yang menargetkan berbagai lokasi di Iran, baik fasilitas militer maupun area sipil. Serangan itu menyebabkan korban jiwa serta kerusakan luas pada infrastruktur.

Iran Balas dengan Serangan Rudal dan Drone

Sebagai tanggapan, Angkatan Bersenjata Iran meluncurkan berbagai operasi balasan dengan menargetkan posisi militer Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah.

Serangan balasan tersebut dilakukan menggunakan gelombang rudal balistik dan drone tempur yang diarahkan ke wilayah Israel serta sejumlah pangkalan militer Amerika di kawasan regional.

Situasi ini membuat konflik di Timur Tengah semakin memanas dan meningkatkan kekhawatiran dunia terhadap kemungkinan eskalasi perang yang lebih luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *