Douglas MacGregor Kritik Tajam Strategi AS: Konflik Iran–Israel Disebut Jalan Buntu Kekuatan Amerika

favicon progres.id
douglas macgregor
Douglas Macgregor (Foto: CNN)

PROGRES.ID – Purnawirawan militer Amerika Serikat, Douglas MacGregor, melontarkan kritik keras terhadap strategi luar negeri Washington dalam konflik Iran–Israel. Dalam sebuah wawancara terbaru, ia menyebut pendekatan Amerika Serikat sebagai “jalan buntu” yang berisiko mempercepat kemunduran kekuatan globalnya.

MacGregor menilai situasi saat ini bukan sekadar konflik regional, melainkan bagian dari perubahan besar tatanan dunia. “Seluruh tatanan global sedang dinegosiasi ulang—jalur perdagangan, aliansi, hingga arsitektur energi dunia,” ujarnya.

Pakistan Diragukan Jadi Mediator

Terkait munculnya Pakistan sebagai mediator antara Amerika Serikat dan Iran, MacGregor menyebut langkah itu tidak realistis.

Ia mengibaratkan peran Pakistan “seperti seseorang di gedung yang terbakar menawarkan kamar kosong kepada orang lain.” Menurutnya, Pakistan tidak akan dipandang netral, khususnya oleh Israel.

“Mustahil Israel mau mempercayai Pakistan sebagai tempat negosiasi,” katanya.

Sebaliknya, MacGregor menilai India memiliki posisi yang jauh lebih kredibel. Ia bahkan menyebut Narendra Modi sebagai sosok yang dapat memainkan peran penting dalam meredakan konflik.

“India dihormati oleh Rusia, Iran, Israel, dan juga Amerika. Itu modal besar untuk menjadi penengah,” ujarnya.

Kritik terhadap Kebijakan Trump

MacGregor juga menyoroti kebijakan Presiden Donald Trump yang dinilainya memperburuk situasi. Ia menyebut Washington telah “salah perhitungan besar” dalam menghadapi Iran.

Menurutnya, Amerika terjebak dalam konflik yang sulit diakhiri. “Tidak ada jalan keluar yang mudah. Kita masuk terlalu jauh,” katanya.

Ia menilai keputusan menyerang Iran didorong oleh ekspektasi yang keliru, termasuk asumsi bahwa konflik akan berlangsung cepat dan mudah dimenangkan.

Risiko Perang Lebih Luas

MacGregor memperingatkan bahwa opsi invasi darat ke Iran hampir mustahil dilakukan secara efektif. Ia mencontohkan kondisi geografis strategis seperti Selat Hormuz yang sulit dikendalikan secara militer.

“Di mana Anda akan menempatkan pasukan untuk menguasai wilayah itu? Secara fisik hampir tidak mungkin,” ujarnya.

Selain itu, ia menekankan bahwa teknologi militer modern telah berubah drastis. Sistem pengawasan berbasis satelit dan rudal presisi kini memungkinkan negara seperti Iran mendeteksi dan menyerang target secara real-time.

Ia bahkan menyebut Iran mendapat dukungan data dari satelit Rusia dan China, yang memperkuat kemampuan militernya.

Perang Modern Tak Lagi Dimonopoli AS

Menurut MacGregor, keunggulan teknologi yang dulu dimiliki Amerika kini telah menyebar ke banyak negara.

“Dulu kita memonopoli senjata presisi. Sekarang kemampuan itu ada di banyak tangan,” katanya.

Hal ini, lanjutnya, membuat kekuatan militer Amerika semakin sulit digunakan secara efektif, terutama menghadapi negara dengan sistem pertahanan terintegrasi.

Dampak Global dan Krisis Energi

MacGregor juga menyoroti dampak ekonomi global dari konflik ini, terutama terhadap harga energi. Ia menyebut Selat Hormuz secara praktis telah terbatas bagi negara tertentu, memicu lonjakan harga minyak.

Kenaikan harga energi, menurutnya, akan berdampak langsung pada sektor lain seperti pangan dan pupuk. “Ketika harga bahan bakar naik, semuanya ikut naik,” ujarnya.

Ia memperkirakan pasar global bisa mengalami tekanan lebih besar, termasuk potensi penurunan signifikan di pasar saham.

Kritik terhadap Upaya Diplomasi

MacGregor turut mengkritik tim negosiasi Amerika, termasuk Jared Kushner, yang disebutnya dipandang lebih mewakili kepentingan Israel daripada Amerika sendiri.

Ia menilai kondisi tersebut membuat Iran enggan bernegosiasi.

“Bagaimana Anda bicara damai saat pasukan terus dikerahkan?” katanya.

Solusi: Mundur dan Negosiasi

Sebagai solusi, MacGregor menyarankan Amerika Serikat untuk menarik mundur pasukannya secara sepihak dan membuka ruang dialog dengan Iran.

Ia menegaskan langkah tersebut bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk realisme strategis.

“Kita harus mengakui kenyataan dan menghentikan perang yang tidak perlu,” ujarnya.

Dunia Berubah, AS Dinilai Tertinggal

Di akhir wawancara, MacGregor menekankan bahwa dunia telah berubah, sementara Amerika masih berpegang pada pola lama.

Ia juga memperingatkan bahwa pendekatan militer agresif justru mendorong lebih banyak negara untuk mengembangkan senjata nuklir sebagai alat pertahanan.

“Jika ingin mencegah proliferasi nuklir, jangan memulai perang seperti ini,” katanya.

Konflik Iran–Israel, menurutnya, bukan sekadar perang regional, melainkan ujian besar bagi peran Amerika di panggung global—dan sejauh ini, hasilnya dinilai belum menggembirakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *