PROGRES.ID – Jutaan warga di Amerika Serikat turun ke jalan dalam aksi bertajuk “No Kings” yang digelar serentak di berbagai wilayah negara tersebut pada Sabtu waktu setempat. Aksi ini disebut sebagai salah satu hari aksi politik terkoordinasi terbesar dalam sejarah Amerika Serikat.
Lebih dari 3.200 aksi dilaporkan berlangsung di kota besar maupun kota kecil di seluruh 50 negara bagian. Demonstran menyuarakan penolakan terhadap Presiden Donald Trump, termasuk kebijakan perang dengan Iran, kebijakan deportasi massal, serta kebijakan yang dinilai mengancam demokrasi dan memperluas kekuasaan pemerintah secara berlebihan.
Aksi di berbagai daerah diikuti oleh warga dari berbagai latar belakang usia dan ras. Para peserta membawa poster buatan sendiri, mengenakan berbagai kostum, serta meneriakkan slogan protes, sementara pengendara yang melintas membunyikan klakson sebagai bentuk dukungan.
Di Washington DC, massa diperkirakan mencapai sekitar 200.000 orang yang berkumpul di sekitar Gedung Capitol. Sementara di New York City, aksi di Manhattan menarik lebih dari 300.000 orang. Aksi tersebut turut diikuti sejumlah tokoh publik, termasuk aktor Robert De Niro, aktivis Al Sharpton, serta Jaksa Agung New York Letitia James.
Di negara bagian Minnesota, aksi utama di St. Paul dihadiri hingga 100.000 orang. Musisi Bruce Springsteen juga dijadwalkan tampil membawakan lagu terbarunya dalam aksi tersebut.
Aksi serupa juga diikuti puluhan ribu peserta di berbagai kota lain, termasuk di Athens, Georgia; San Diego; Kansas City; dan Houston, Texas. Bahkan di kota kecil seperti Hagerstown, Maryland, lebih dari 1.000 demonstran tetap turun ke jalan membawa poster dan mengikuti aksi di pusat kota.
Aksi kali ini merupakan “No Kings Day” ketiga setelah demonstrasi nasional sebelumnya pada Juni dan Oktober 2025. Namun, aksi terbaru disebut sebagai yang terbesar sejauh ini, dengan gelombang protes tidak hanya terjadi di Amerika Serikat, tetapi juga meluas ke berbagai negara.
Demonstrasi solidaritas juga berlangsung di sejumlah negara seperti Inggris, Italia, Prancis, Spanyol, Jerman, Belanda, Yunani, Belgia, Meksiko, Jepang, dan Australia. Di London, sekitar 500.000 orang dilaporkan berkumpul dalam aksi yang disebut sebagai salah satu pawai multikultural terbesar dalam sejarah Inggris.












