Fakta Mengejutkan! Ratusan Tentara Israel Pulang Perang dengan Cedera Otak, Keluarga: “Anak Kami Berubah Total”

favicon progres.id
anak zionis otak rusak
Niv Alfa-Reches dan putranya, Uri. "Ketika mereka sampai di gedung terakhir, pintu itu meledak menimpa mereka, dan dialah yang paling dekat." (Foto: Daniel Rolide-Haaretz)

PROGRES.ID – Media Israel Haaretz mengungkapkan bahwa ratusan tentara Israel dilaporkan kembali dari medan perang dengan cedera otak serius, memicu kekhawatiran besar terkait dampak jangka panjang konflik terhadap kondisi fisik dan mental para prajurit.

Salah satu kasus yang mencuat adalah seorang prajurit muda bernama Uri Reches, yang mengalami cedera parah saat operasi militer di Gaza pada Desember 2023. Dalam insiden tersebut, ledakan terjadi saat timnya memasuki sebuah bangunan, yang meninggalkannya dengan luka berat terutama di bagian kepala dan wajah.

Menurut ibunya, Niv Alfa-Reches, putranya harus memulai kembali hampir seluruh fungsi dasar kehidupan. “Dia tidak bisa berbicara selama berminggu-minggu. Bahkan harus belajar ulang hal-hal sederhana,” ujarnya. Kondisinya sempat kritis dengan kerusakan parah di sisi kiri wajah.

Kasus ini hanyalah satu dari ratusan. Data menunjukkan lebih dari 400 tentara mengalami cedera otak akibat perang, dengan tingkat keparahan yang beragam. Namun, jumlah sebenarnya diperkirakan jauh lebih tinggi—mencapai sekitar 24.000 orang—karena banyak kasus tidak langsung terdeteksi atau tidak mendapat penanganan medis sejak awal.

Cedera otak traumatis atau traumatic brain injury (TBI) di medan perang umumnya disebabkan oleh ledakan atau serpihan proyektil. Berbeda dengan kecelakaan sipil, cedera ini sering kali bersifat tidak terlokalisasi dan menyebabkan gangguan saraf menyeluruh.

Direktur rehabilitasi Kementerian Kesehatan Israel, Yaron Sachar, menjelaskan bahwa dampak cedera ini mencakup gangguan memori, kesulitan konsentrasi, perubahan perilaku, hingga masalah tidur. “Otak mengalami guncangan hebat yang merusak fungsi saraf secara luas,” ujarnya.

Proses diagnosis pun menjadi tantangan tersendiri. Banyak gejala TBI yang tumpang tindih dengan gangguan stres pascatrauma (PTSD), sehingga sulit dibedakan secara klinis. Peneliti dari Sheba Medical Center menyebut bahwa sebagian besar cedera otak pada tentara justru disebabkan oleh gelombang ledakan, yang sering tidak terlihat dalam pemeriksaan awal.

Profesor Alon Friedman menegaskan bahwa dalam banyak kasus, prajurit mengalami kombinasi trauma fisik dan psikologis sekaligus. “Ini bukan hanya soal satu jenis cedera. Otak yang sama bisa mengalami dua jenis trauma berbeda,” katanya.

tentara zionis meratapi temannya tewas
Tentara zionis Israel meratapi rekannya yang tewas (Foto: PressTV)

Dampak jangka panjang dari kondisi ini sangat signifikan. Banyak tentara yang mengalami perubahan kepribadian, kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari, hingga ketergantungan pada bantuan keluarga.

Kasus lain dialami Oz Ocampo, yang terluka parah di Khan Yunis pada Maret 2024. Meski telah menjalani rehabilitasi panjang, keluarganya mengakui bahwa perubahan pada dirinya sangat terasa. “Kami menerima anak yang berbeda dari yang kami kirim ke medan perang,” kata ibunya, Smadar Ocampo.

Kondisi ini juga berdampak luas pada keluarga. Banyak orang tua terpaksa meninggalkan pekerjaan untuk merawat anak mereka, sementara sistem rehabilitasi dinilai belum sepenuhnya terkoordinasi.

Sejumlah keluarga kemudian membentuk kelompok advokasi untuk mendorong perbaikan sistem rehabilitasi nasional. Mereka menilai banyak korban cedera otak belum mendapatkan penanganan optimal, meskipun jumlah kasus terus meningkat.

Pejabat Kementerian Pertahanan Israel, Gili Givati, mengakui bahwa perang telah menciptakan tantangan medis jangka panjang. Ia menekankan pentingnya kebijakan rehabilitasi yang terstruktur dan berkelanjutan.

Meski demikian, sebagian korban berhasil kembali ke kehidupan normal melalui program rehabilitasi khusus. Namun, para ahli menegaskan bahwa tanpa sistem yang jelas dan terintegrasi, keberhasilan tersebut sering kali bergantung pada faktor kebetulan, seperti lokasi perawatan dan akses layanan.

Para pakar menilai bahwa dampak cedera otak akibat perang ini akan dirasakan selama puluhan tahun ke depan, terutama karena mayoritas korban masih berusia muda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *