PROGRES.ID – Pemerintah Iran mempertanyakan pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengaku berhasil membujuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk membatalkan serangan besar ke Beirut, Lebanon. Teheran menilai klaim tersebut justru mengungkap keterlibatan langsung Washington dalam berbagai operasi militer Israel di kawasan Timur Tengah.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional, Kazem Gharibabadi, menyampaikan kritik tersebut melalui akun X miliknya pada Selasa, hanya beberapa jam setelah Trump mengungkap percakapannya dengan Netanyahu.
Menurut Gharibabadi, perkembangan yang terjadi di Lebanon, Suriah, dan Al-Quds yang diduduki menunjukkan bahwa ketidakstabilan kawasan bukanlah akibat ketegangan sesaat, melainkan buah dari tindakan Israel yang terus berlangsung tanpa konsekuensi berarti dari komunitas internasional.
Ia menuduh Israel berulang kali melanggar kedaulatan negara lain, mengabaikan kesepakatan gencatan senjata, serta melakukan tindakan yang memperburuk konflik regional.
Diplomat senior Iran itu juga mendesak Dewan Keamanan PBB mengambil langkah yang lebih tegas terhadap Israel. Menurutnya, kecaman dan seruan menahan diri tidak lagi cukup untuk menghentikan eskalasi.
“Dewan Keamanan harus melampaui pernyataan keprihatinan dan mulai menerapkan langkah-langkah hukuman yang mengikat. Hukum internasional tidak dapat ditegakkan hanya dengan kecaman yang murah dan tidak efektif,” tegasnya.
Gharibabadi menilai pernyataan Trump bukan sekadar menunjukkan keinginan Amerika Serikat menjaga perdamaian. Sebaliknya, ia melihatnya sebagai bukti bahwa Washington memiliki pengaruh langsung terhadap keputusan militer Israel.
Ia kemudian mempertanyakan mengapa pelanggaran gencatan senjata, serangan ke Lebanon, pengungsian warga sipil, serta ancaman terhadap kedaulatan negara tersebut terus terjadi selama berbulan-bulan jika serangan terhadap ibu kota Lebanon ternyata dapat dibatalkan hanya melalui satu panggilan telepon.
“Jika keputusan untuk menyerang ibu kota negara merdeka bisa diubah dengan satu panggilan telepon, maka pertanyaannya adalah mengapa pelanggaran gencatan senjata, agresi terhadap Lebanon, dan ancaman terhadap kedaulatannya terus berlangsung dengan dukungan politik dan militer Barat,” tulisnya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan terkait implementasi gencatan senjata di Lebanon. Teheran selama ini berulang kali menuduh Israel melanggar kesepakatan yang mulai berlaku pada 8 April lalu.
Sebelumnya, Trump melalui platform Truth Social menyatakan telah melakukan pembicaraan yang “sangat produktif” dengan Netanyahu. Ia mengklaim tidak akan ada pasukan Israel yang dikirim ke Beirut dan setiap unit yang sudah bergerak menuju ibu kota Lebanon telah diperintahkan untuk kembali.
Trump juga mengatakan bahwa melalui sejumlah perwakilan senior, pihaknya melakukan komunikasi konstruktif dengan kelompok perlawanan Hizbullah dan memperoleh kesepakatan untuk menghentikan aksi saling serang.
Pengumuman tersebut disampaikan setelah Iran memperingatkan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam jika terjadi gelombang agresi baru terhadap Beirut. Teheran juga kembali menyerukan penghentian seluruh aksi militer di berbagai front konflik kawasan, termasuk di Lebanon.












