Jika Israel Masih Serang Lebanon, Iran Ancam Hentikan Dialog dengan AS

favicon progres.id
ledakan besar di beirut
Asap mengepul setelah serangan Israel di pinggiran selatan Beirut, seperti terlihat dari Baabda, Lebanon, 8 April 2026. REUTERS/Mohamed Azakir

PROGRES.ID – Ketegangan diplomatik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran dikabarkan mempertimbangkan penghentian seluruh komunikasi tidak langsung dengan Amerika Serikat menyusul berlanjutnya operasi militer Israel di Lebanon.

Menurut laporan kantor berita Iran, Tasnim News Agency, para pejabat dan tim perunding Iran menilai situasi di Lebanon merupakan bagian dari syarat utama dalam kesepakatan gencatan senjata yang tengah dibahas dengan Washington.

Laporan tersebut menyebut Teheran tidak akan melanjutkan pertukaran pesan maupun pembicaraan melalui mediator selama serangan Israel di Lebanon dan Gaza masih berlangsung.

Sumber yang dikutip Tasnim mengatakan pemerintah Iran telah menegaskan tuntutan penghentian segera operasi militer Israel di kedua wilayah tersebut, sekaligus meminta penarikan penuh pasukan Israel dari area yang masih diduduki di Lebanon.

Menurut laporan itu, para pejabat Iran menilai tidak ada dasar untuk melanjutkan proses diplomasi apabila tuntutan tersebut tidak dipenuhi.

“Tidak akan ada pembicaraan selama pandangan Iran dan kelompok perlawanan terkait isu ini belum dipenuhi,” demikian isi laporan yang dikutip Tasnim.

Selain ancaman penghentian dialog, laporan tersebut juga menyinggung kemungkinan langkah-langkah strategis yang lebih luas apabila konflik terus berlanjut.

Disebutkan bahwa Iran dan kelompok-kelompok yang tergabung dalam apa yang mereka sebut sebagai “front perlawanan” tengah mempertimbangkan berbagai opsi tekanan terhadap Israel dan para pendukungnya, termasuk isu terkait jalur pelayaran internasional.

Laporan itu menyebut Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb Strait masuk dalam pembahasan strategis sebagai bagian dari respons terhadap perkembangan konflik regional.

Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia karena menjadi rute utama ekspor minyak dari kawasan Teluk. Sementara Bab el-Mandeb merupakan koridor vital yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia dan menjadi jalur utama perdagangan global.

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat setelah serangkaian serangan lintas batas serta perdebatan mengenai implementasi gencatan senjata di kawasan.

Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari Washington maupun Tel Aviv terkait laporan tersebut. Namun, ancaman penghentian dialog dan kemungkinan gangguan terhadap jalur pelayaran strategis berpotensi menambah kekhawatiran pasar energi global yang selama ini memantau perkembangan konflik di Timur Tengah dengan cermat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *