Gencatan Senjata Lebanon Disepakati, Kelompok Perlawanan Klaim Israel Dipaksa Menyerah

favicon progres.id
juru bicara houthi ansar Allah yaman yahya saree
Juru Bicara Ansarullah (Houthi) Yaman, Yahya Saree (Dok. Houthi)

PROGRES.ID – Kelompok perlawanan di Yaman dan Palestina menyambut pengumuman gencatan senjata di Lebanon dengan menyebutnya sebagai kemenangan besar bagi Hizbullah serta poros perlawanan dalam menghadapi Israel.

Biro politik gerakan Ansarullah di Yaman menyampaikan ucapan selamat kepada pejuang Hizbullah dan rakyat Lebanon atas apa yang mereka sebut sebagai kemenangan bersejarah.

Dalam pernyataannya, Ansarullah menilai keberhasilan tersebut merupakan hasil dari keteguhan perlawanan yang disebut mampu memberikan kekalahan memalukan bagi militer Israel serta menggagalkan target utama perang yang telah diumumkan sebelumnya.

Mereka juga menyatakan kerugian besar yang dialami Israel pada akhirnya memaksa negara itu menerima kesepakatan gencatan senjata di Lebanon.

Ansarullah menambahkan bahwa kemenangan ini menjadi bukti kuatnya solidaritas antaranggota poros perlawanan yang mencakup Palestina, Iran, Lebanon, Yaman, dan Irak.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan gencatan senjata tersebut dalam pidato di Gedung Putih. Ia menyebut kesepakatan mulai berlaku pada tengah malam waktu Lebanon.

Sementara itu, anggota parlemen Lebanon dari blok Loyalty to the Resistance, Hassan Fadlallah, mengatakan duta besar Iran di Beirut telah memberi tahu pejabat Lebanon bahwa gencatan senjata akan dimulai pada Kamis malam (16/04/2026).

Ia menyebut kesepakatan itu merupakan hasil dari upaya diplomatik Iran. Menurutnya, pihak Iran juga akan memantau komitmen Amerika Serikat dalam menjalankan isi perjanjian tersebut.

Fadlallah menegaskan kepatuhan Hizbullah terhadap gencatan senjata bergantung pada penghentian total seluruh tindakan permusuhan.

Politikus Israel Bereaksi Keras

Sejumlah tokoh politik Israel mengecam kesepakatan tersebut, terutama terkait peran Iran dalam proses diplomasi.

Kepala permukiman ilegal Margaliot, Itan Davidi, mengatakan kepada Channel 12 Israel bahwa perjanjian itu bukan kemenangan, melainkan bentuk penyerahan diri kepada Iran dan Amerika Serikat.

Beberapa laporan juga menyebut Washington sempat menerima proposal 10 poin dari Iran yang mencakup gencatan senjata di Lebanon, namun kemudian berubah sikap setelah adanya tekanan lobi dari Israel.

Iran bahkan dikabarkan mengancam memboikot perundingan Islamabad jika serangan ke Lebanon tidak dikurangi, yang kemudian mendorong Amerika Serikat untuk menekan Israel.

Hamas: Israel Kembali Gagal

Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, menyatakan perlawanan Islam di Lebanon kembali menunjukkan ketidakmampuan Israel mencapai tujuannya.

Menurut dia, Israel gagal memaksakan kehendaknya terhadap rakyat Lebanon dan kekuatan perlawanan di lapangan.

Komite Perlawanan Palestina Sebut Kekalahan Israel

Popular Resistance Committees juga menyebut gencatan senjata tersebut sebagai kemenangan besar bagi Hizbullah dan kelompok perlawanan.

Mereka menilai sikap Iran yang bersikeras memasukkan Lebanon dalam kesepakatan gencatan senjata dengan Amerika Serikat menunjukkan solidaritas kuat di antara poros perlawanan.

Kelompok itu menambahkan keteguhan Hizbullah serta serangan-serangan yang dilancarkan terhadap Israel telah mengubah situasi di lapangan, menggagalkan target musuh, dan memaksa Amerika Serikat menempuh jalur diplomatik demi melindungi kepentingannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *