PROGRES.ID – Konfrontasi antara Amerika Serikat dan Iran kini dinilai memasuki fase baru, setelah Washington kembali mengandalkan tekanan ekonomi usai gagal melemahkan Tehran melalui konfrontasi militer langsung.
Blokade ekonomi yang selama ini menjadi senjata utama Amerika Serikat terhadap sejumlah negara dianggap tidak lagi sepenuhnya efektif terhadap Iran, yang selama puluhan tahun hidup di bawah sanksi dan tekanan internasional.
Sejumlah pengamat menilai perbedaan utama dalam konflik saat ini bukan terletak pada besarnya kekuatan ekonomi kedua negara, melainkan pada kemampuan Iran untuk memberikan dampak balasan terhadap ekonomi global, khususnya melalui pengaruhnya di Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia setiap hari. Jalur itu juga menjadi rute utama ekspor gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia menuju pasar Asia dan Eropa.
Kondisi tersebut membuat setiap eskalasi di kawasan berpotensi langsung memicu lonjakan harga energi global dan berdampak pada ekonomi Amerika Serikat sendiri.
Meski ekonomi AS jauh lebih besar dibanding Iran, Tehran disebut telah membangun daya tahan menghadapi tekanan ekonomi sejak Revolusi Islam 1979.
Selama lebih dari empat dekade, Iran hidup di bawah sanksi internasional dan berbagai pembatasan perdagangan. Situasi itu mendorong negara tersebut memperkuat kapasitas produksi domestik, jaringan perdagangan alternatif, hingga strategi pengelolaan mata uang untuk bertahan dari tekanan luar.
Laporan tersebut juga menyoroti perang selama 50 hari antara AS-Israel dan Iran yang disebut gagal mencapai tujuan utama untuk melumpuhkan struktur ekonomi Iran.
Serangan terhadap infrastruktur Iran justru dinilai memperlihatkan kemampuan balasan Tehran yang semakin presisi dan memiliki jangkauan lebih luas dibanding sebelumnya.
Setelah fase militer dianggap tidak berhasil, Washington kemudian beralih pada strategi blokade ekonomi. Namun kali ini Iran disebut memiliki alat tekanan baru melalui kontrol strategis terhadap Selat Hormuz.
Selain Hormuz, kawasan Bab el-Mandeb di pintu masuk selatan Laut Merah juga disebut sebagai titik strategis lain yang dapat memengaruhi jalur perdagangan energi dunia jika konflik terus meningkat.
Kelompok-kelompok perlawanan di kawasan bahkan dikabarkan telah menyatakan kesiapan untuk mengambil tindakan apabila serangan AS dan Israel terhadap Iran berlanjut.
Penutupan jalur Bab el-Mandeb berpotensi mengganggu akses menuju Terusan Suez, salah satu jalur utama distribusi minyak global.
Di sisi lain, infrastruktur energi di Saudi Arabia dan United Arab Emirates juga dinilai rentan terhadap serangan presisi.
Pipa-pipa minyak di kawasan tersebut selama ini menjadi jalur alternatif ekspor minyak Teluk Persia menuju Laut Merah dan Samudra Hindia tanpa melewati Selat Hormuz.
Iran disebut memiliki kemampuan teknis untuk menargetkan fasilitas-fasilitas strategis tersebut, meski hingga kini masih menahan diri untuk tidak melakukannya.
Analis juga menilai Amerika Serikat kini menghadapi tantangan berbeda dibandingkan dengan dekade sebelumnya. Jika dulu Washington mampu memberi tekanan ekonomi tanpa menerima dampak besar di dalam negeri, kini setiap gejolak harga energi langsung memengaruhi biaya hidup masyarakat Amerika.
Kenaikan harga bahan bakar di AS disebut telah mencapai level tertinggi sejak krisis energi besar pada dekade 1970-an dan awal 2000-an.
Situasi ini memperlihatkan bahwa konflik ekonomi antara AS dan Iran bukan lagi sekadar soal sanksi, melainkan perang daya tahan jangka panjang yang dapat memengaruhi stabilitas energi global.
Pengamat menilai Iran kini memiliki kemampuan untuk memberikan tekanan timbal balik terhadap kepentingan ekonomi Amerika Serikat, sesuatu yang sebelumnya sulit dilakukan selama lebih dari 40 tahun terakhir.












