AS Dikabarkan Pangkas Besar-besaran Kekuatan Militernya di Eropa, Kapabilitas NATO Terancam Menurun

favicon progres.id
nato
Bendera negara-negara NATO (Foto: Istimewa/PROGRES.ID)

PROGRES.ID, WASHINGTON – Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan berencana mengurangi secara signifikan aset militer AS yang ditempatkan di Eropa untuk mendukung operasi NATO. Langkah tersebut berpotensi melemahkan kemampuan aliansi militer Barat dalam menjalankan misi pengintaian dan serangan jarak jauh.

Laporan yang disiarkan Channel 12 Israel, mengutip sebuah kajian yang disiapkan oleh The New York Times, menyebut bahwa Washington telah memberi tahu sejumlah negara Eropa mengenai rencana pengurangan kekuatan militernya di kawasan tersebut.

Menurut laporan itu, pengurangan aset militer AS akan berdampak langsung pada kemampuan operasional NATO. Kapasitas aliansi dalam melakukan serangan jarak jauh dan menjalankan misi intelijen serta pengawasan disebut akan mengalami penurunan yang cukup besar.

Salah satu perubahan terbesar adalah pengurangan jumlah jet tempur Amerika yang ditempatkan di Eropa. Armada pesawat tempur F-16 dan F-15 dilaporkan akan dipangkas dari sekitar 150 unit menjadi hanya 100 unit.

Selain itu, jumlah pesawat patroli dan pengintaian maritim juga akan berkurang dari 26 unit menjadi 15 unit. Seluruh delapan pesawat tanker pengisian bahan bakar di udara yang selama ini beroperasi di Eropa juga disebut akan ditarik dari kawasan tersebut.

Tidak hanya aset udara, sejumlah kekuatan laut Amerika Serikat juga akan direlokasi. Sebuah kapal selam serang, satu kapal induk, serta beberapa kapal perang dilaporkan akan meninggalkan wilayah Eropa.

Laporan yang sama menyebut dua skuadron pesawat pengebom yang berada di bawah Komando Eropa Amerika Serikat juga akan ditarik, menambah daftar panjang pengurangan kekuatan militer Washington di benua itu.

Jika terealisasi, langkah tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu restrukturisasi terbesar kehadiran militer AS di Eropa dalam beberapa tahun terakhir. Kebijakan ini juga berpotensi memicu kekhawatiran di kalangan sekutu NATO yang selama ini mengandalkan dukungan militer Amerika sebagai tulang punggung pertahanan kolektif aliansi.

Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Amerika Serikat maupun NATO terkait rincian dan jadwal pelaksanaan rencana pengurangan aset militer tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *