Analis Israel Khawatir Iran Jadikan Perlindungan Hizbullah Bagian dari Kesepakatan dengan AS

favicon progres.id
drone hizbullah
Pejuang Hizbullah bersiap menerbangkan drone serang (Foto: Hizbullah/PROGRES.ID)

PROGRES.ID – Kekhawatiran mulai muncul di kalangan pengamat dan analis Israel terkait kemungkinan masuknya isu Hizbullah dalam kesepakatan yang sedang dirundingkan antara Iran dan Amerika Serikat.

Analis militer Israel, Amir Bukhbut, dalam komentarnya yang dikutip media Israel Walla, menyatakan bahwa keberhasilan Iran mengaitkan status dan keamanan Hizbullah dengan perjanjian bersama Washington akan menjadi pukulan diplomatik bagi Israel.

Menurut Bukhbut, skenario tersebut dapat menunjukkan bahwa kepentingan strategis Israel tidak sepenuhnya terakomodasi dalam proses negosiasi yang berlangsung antara Teheran dan Washington.

“Jika Iran berhasil menghubungkan kekebalan Hizbullah dengan kesepakatan bersama Amerika Serikat, maka itu berarti Donald Trump kembali menipu kita dalam skala besar,” kata Bukhbut.

Ia menilai perkembangan semacam itu akan mencerminkan kegagalan politik baru bagi Israel, terutama setelah berbagai upaya yang dilakukan Tel Aviv selama bertahun-tahun untuk menekan pengaruh Iran dan kelompok-kelompok sekutunya di kawasan.

Pernyataan tersebut muncul di tengah spekulasi mengenai isi perundingan yang tengah berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat. Sejumlah laporan sebelumnya menyebut pembahasan kedua negara tidak hanya mencakup isu nuklir dan sanksi ekonomi, tetapi juga menyentuh aspek keamanan regional yang lebih luas.

Bagi Israel, Hizbullah merupakan salah satu tantangan keamanan terbesar di kawasan. Kelompok yang berbasis di Lebanon itu selama ini mendapat dukungan politik dan militer dari Iran serta memiliki peran penting dalam poros perlawanan yang dibangun Teheran di Timur Tengah.

Sejumlah pengamat menilai apabila status Hizbullah benar-benar menjadi bagian dari kesepakatan Iran-AS, maka hal itu berpotensi mengubah keseimbangan politik dan keamanan regional. Di sisi lain, perkembangan tersebut juga dapat memperlebar perbedaan pandangan antara Washington dan Tel Aviv terkait pendekatan terhadap Iran.

Hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Amerika Serikat maupun Iran mengenai apakah isu Hizbullah termasuk dalam agenda negosiasi yang sedang berlangsung. Namun, pernyataan dari kalangan analis Israel menunjukkan adanya kekhawatiran bahwa hasil akhir perundingan dapat memberikan keuntungan strategis bagi Teheran dan sekutunya di kawasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *