PROGRES.ID, BEIRUT – Kelompok Hizbullah mengklaim berhasil menggagalkan upaya infiltrasi pasukan Israel ke sejumlah wilayah di Lebanon selatan melalui serangkaian penyergapan yang melibatkan serangan roket, artileri, dan drone bunuh diri.
Dalam beberapa pernyataan yang dirilis pada Minggu, Hizbullah menyebut para pejuangnya mendeteksi pergerakan konvoi militer Israel yang memasuki kawasan Majdal Zoun, sebuah kota yang berada di Distrik Tyre, Lebanon selatan.
Menurut Hizbullah, para pejuang kemudian melancarkan penyergapan menggunakan senjata ringan, senjata menengah, serta granat berpeluncur roket. Bentrokan dilaporkan berlangsung selama sekitar dua jam.
Kelompok tersebut mengklaim sejumlah kendaraan militer Israel yang mengawal pasukan mengalami kerusakan dan terbakar selama pertempuran berlangsung. Bersamaan dengan itu, Hizbullah juga meluncurkan tiga gelombang serangan roket yang menyasar konsentrasi pasukan Israel di sisi selatan dan tenggara Majdal Zoun.
Pertempuran disebut berlanjut hingga malam hari. Sejumlah gambar yang beredar di media lokal memperlihatkan kepulan asap yang diduga berasal dari kendaraan militer yang terkena serangan saat mencoba bergerak lebih jauh ke dalam wilayah tersebut.
Dalam insiden terpisah, Hizbullah menyatakan telah mendeteksi unit infanteri Israel yang berupaya memasuki kawasan Kfar Tebnit sesaat setelah tengah malam.
Kelompok itu mengklaim pasukan Israel diarahkan ke area yang telah dipersiapkan sebelumnya sebagai lokasi penyergapan. Menurut Hizbullah, bahan peledak diledakkan sebelum terjadi kontak langsung antara kedua pihak, yang akhirnya memaksa pasukan Israel mundur dari area tersebut.
Setelah itu, Hizbullah menyebut telah melancarkan tembakan artileri intensif dan rentetan roket yang menargetkan sejumlah kendaraan militer Israel di sekitar Kfar Tebnit.
Eskalasi terbaru ini terjadi ketika militer Israel dilaporkan meningkatkan upaya untuk menguasai sejumlah wilayah dataran tinggi strategis di Lebanon selatan, terutama di sekitar Nabatieh dan Tyre.
Perkembangan di lapangan juga berlangsung bersamaan dengan meningkatnya aktivitas diplomatik terkait kemungkinan tercapainya nota kesepahaman antara Iran dan Amerika Serikat. Sejumlah laporan menyebut pembahasan kedua negara turut mencakup isu gencatan senjata di Lebanon serta masa depan keberadaan pasukan Israel di kawasan tersebut.
Beberapa analis menilai ofensif terbaru Israel bertujuan memperkuat posisi tawarnya menjelang kemungkinan tercapainya kesepakatan politik yang dapat mengubah situasi keamanan di Lebanon selatan.
Konflik di Lebanon terus berlanjut sejak Israel melancarkan operasi militernya pada awal Maret. Menurut laporan yang dikutip berbagai sumber, ribuan orang telah tewas dan terluka, sementara lebih dari satu juta warga terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka akibat pertempuran yang berlangsung.
Meski gencatan senjata sempat diumumkan pada April lalu, bentrokan dan serangan lintas perbatasan masih terus terjadi di sejumlah wilayah, memperlihatkan bahwa situasi keamanan di perbatasan Lebanon-Israel masih jauh dari stabil.












