Mantan Perdana Menteri Yair Lapid Sebut Kesepakatan Iran-AS Berpotensi Gagalkan Tujuan Perang Israel

favicon progres.id
Pemimpin oposisi yair lapid
Pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid (Foto: Reuters)

PROGRES.ID – Pemimpin oposisi sekaligus mantan perdana menteri Israel, Yair Lapid, menilai potensi kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat dapat menjadi pukulan bagi target strategis yang selama ini diklaim ingin dicapai pemerintah Israel.

Dalam pernyataannya melalui media sosial X pada Sabtu, Lapid mengatakan bahwa jika kesepakatan tersebut benar-benar terwujud, maka pemerintahan Iran akan tetap bertahan dan program rudal negara itu tidak akan mengalami perubahan signifikan.

Menurut Lapid, kondisi tersebut menunjukkan bahwa tujuan utama yang selama ini dikemukakan pemerintah Israel dalam menghadapi Iran tidak akan tercapai melalui hasil negosiasi yang sedang berlangsung.

Komentar itu muncul di tengah laporan mengenai kemungkinan penandatanganan nota kesepahaman antara Teheran dan Washington yang bertujuan mengakhiri ketegangan menyusul konflik terbaru yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Jika nota kesepahaman tersebut berhasil dicapai, kedua negara disebut dapat melanjutkannya ke tahap perjanjian yang lebih komprehensif.

Lapid sebelumnya juga melontarkan kritik keras terhadap kebijakan pemerintah yang dipimpin Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Pada April lalu, sehari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan gencatan senjata sepihak, Lapid menyebut langkah tersebut sebagai “bencana politik” bagi pemerintah Israel.

Ia menilai Israel tidak memiliki peran yang cukup dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut isu-isu keamanan strategis negara tersebut.

Saat itu, Lapid juga menuduh Netanyahu gagal mencapai berbagai target yang sebelumnya ditetapkan sendiri oleh pemerintahannya, baik dari sisi politik maupun strategi militer.

Ketegangan antara Iran dan Israel dalam beberapa bulan terakhir telah memicu serangkaian serangan dan serangan balasan di kawasan Timur Tengah. Iran mengklaim telah melancarkan puluhan gelombang serangan terhadap target-target strategis Amerika Serikat dan Israel sebagai respons atas operasi militer yang dilakukan kedua negara tersebut.

Situasi tersebut turut berdampak pada stabilitas kawasan, termasuk terganggunya aktivitas pelayaran di kawasan Teluk. Penutupan jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz yang dilakukan Iran sebagai respons terhadap serangan lawan juga sempat memicu kekhawatiran di pasar energi global dan mendorong volatilitas harga minyak dunia.

Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Israel terkait kritik terbaru Lapid mengenai kemungkinan kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat. Namun, perdebatan mengenai dampak diplomasi Washington-Teheran terhadap kepentingan keamanan Israel diperkirakan akan terus menjadi isu utama dalam politik domestik negara tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *