PROGRES.ID — Iran mengklaim sistem pertahanan udara buatan dalam negeri memainkan peran penting selama perang yang berlangsung selama 40 hari. Sejumlah sistem tersebut disebut berhasil membantu menembak jatuh lebih dari 200 pesawat milik pihak lawan.

Pernyataan itu disampaikan Komandan Pasukan Pertahanan Udara Angkatan Darat Iran. Ia mengatakan, sebagian sistem pertahanan udara produksi domestik sebelumnya telah dikerahkan ke medan pertempuran selama konflik berlangsung.

Menurutnya, penggunaan teknologi pertahanan udara lokal memberikan keuntungan strategis bagi Iran. Salah satu faktor utamanya adalah terbatasnya informasi yang dimiliki pihak lawan mengenai spesifikasi, kemampuan, hingga mekanisme pengoperasian sistem tersebut.

Kondisi tersebut disebut membuat upaya pihak lawan untuk menghadapi pertahanan udara Iran menjadi lebih sulit. Mereka tidak selalu dapat mengetahui jenis sistem yang sedang digunakan untuk menghadapi serangan udara.

“Dalam sejumlah kasus, pihak lawan bahkan tidak mengetahui sistem apa yang sedang menargetkan mereka maupun bagaimana cara menghadapi sistem tersebut,” ujar komandan tersebut.

Ia menjelaskan, minimnya pengetahuan mengenai kemampuan sistem pertahanan udara lokal menjadi salah satu faktor yang meningkatkan efektivitasnya selama perang.

Menurut Iran, pengembangan sistem pertahanan udara secara mandiri juga memungkinkan negara tersebut mengurangi ketergantungan terhadap teknologi militer dari luar negeri. Sistem-sistem tersebut kemudian dapat disesuaikan dengan kebutuhan operasional di medan konflik.

Klaim mengenai keberhasilan menjatuhkan lebih dari 200 pesawat itu menjadi salah satu penekanan Iran terhadap kemampuan industri pertahanan dalam negerinya selama konflik 40 hari.

Meski demikian, pernyataan tersebut merupakan klaim dari pihak Iran dan tidak disertai rincian mengenai jenis pesawat maupun sistem pertahanan udara yang disebut terlibat dalam operasi tersebut.