PROGRES.ID, TEHERAN — Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang enam kapal di kawasan Selat Hormuz sebagai tindakan balasan terhadap serangan militer Amerika Serikat terhadap sejumlah kapal tanker Iran.

Dalam pernyataannya pada Sabtu, IRGC menyebut tiga kapal tanker minyak milik Iran sebelumnya menjadi sasaran serangan militer AS. Menurut kelompok tersebut, serangan itu menimbulkan kerusakan pada kapal-kapal yang diserang.

Sebagai respons, Angkatan Laut IRGC mengatakan pihaknya kemudian menargetkan tiga kapal tanker minyak yang disebut melintas melalui jalur yang tidak diizinkan di Selat Hormuz. Selain itu, tiga kapal yang diklaim memiliki keterkaitan dengan Amerika Serikat juga menjadi sasaran di wilayah lain.

IRGC menyatakan tindakan tersebut merupakan respons atas apa yang mereka sebut sebagai agresi militer AS terhadap Iran.

Selat Hormuz Kembali Ditutup

Ketegangan di Selat Hormuz meningkat setelah Iran memberlakukan penutupan jalur strategis tersebut menyusul serangkaian serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran penting bagi perdagangan minyak dunia karena menghubungkan kawasan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.

Pada Juni, Iran dan Amerika Serikat disebut menyepakati periode 60 hari untuk membuka kembali jalur tersebut melalui sebuah nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan.

Iran kemudian merancang Persian Gulf Strait Authority (PGSA) sebagai mekanisme untuk mengatur lalu lintas kapal sekaligus memastikan perjalanan melalui Selat Hormuz berlangsung secara aman dan sesuai ketentuan.

Namun, pemerintah Iran menyatakan sejumlah pelanggaran oleh Amerika Serikat membuat Teheran kembali memberlakukan penutupan jalur pelayaran tersebut.

Iran Tetapkan Syarat Pembukaan Selat Hormuz

Teheran menyatakan pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada terpenuhinya sejumlah persyaratan. Di antaranya adalah pencabutan blokade laut dan ekonomi Amerika Serikat terhadap Iran serta penghentian agresi secara permanen di berbagai wilayah, termasuk Lebanon.

Iran juga meminta adanya kejelasan mengenai situasi terkait blokade terhadap Yaman sebelum akses melalui jalur strategis tersebut kembali dibuka.

Di tengah ketegangan itu, pemerintah Iran memperingatkan kapal-kapal yang berada di kawasan Teluk Persia agar tidak mengandalkan pernyataan Washington yang menyebut Selat Hormuz masih terbuka.

IRGC memperingatkan bahwa kapal yang mencoba melintasi selat tersebut dengan berpedoman pada klaim tersebut akan menanggung risiko sendiri.

Angkatan Laut IRGC juga meminta seluruh kapal di Teluk Persia dan sekitar Selat Hormuz menghindari pergerakan yang dianggap mencurigakan, khususnya upaya menggunakan jalur yang dinilai tidak sah.

IRGC menegaskan kapal yang tetap melakukan pelanggaran terhadap peringatan tersebut dapat menjadi sasaran serangan.