PROGRES.ID, SEOUL – Korea Utara kembali meluncurkan sejumlah rudal balistik jarak pendek ke arah perairan timurnya, Sabtu. Peluncuran tersebut dilakukan hanya sehari setelah Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Jepang mengakhiri latihan militer trilateral di kawasan.

Militer Korea Selatan menyebut beberapa rudal ditembakkan dari wilayah Wonsan di pantai timur Korea Utara. Proyektil tersebut terbang sekitar 250 kilometer sebelum jatuh ke perairan.

Korea Selatan kini menganalisis jenis dan karakteristik rudal yang diluncurkan. Seoul juga berkoordinasi dengan Amerika Serikat dan Jepang untuk bertukar informasi terkait aktivitas militer Pyongyang.

Laporan Yonhap menyebut Korea Utara diduga menggunakan rudal balistik seri Hwasong-11 serta sistem peluncur roket multipel berkaliber 600 milimeter. Senjata-senjata tersebut disebut diluncurkan secara berurutan dalam beberapa kesempatan.

Komando Indo-Pasifik Amerika Serikat (USINDOPACOM) mengonfirmasi telah mengetahui peluncuran tersebut. Washington menyatakan sedang melakukan konsultasi erat dengan sekutu dan mitranya di kawasan.

“Amerika Serikat tetap berkomitmen terhadap pertahanan wilayah Amerika Serikat dan sekutu-sekutu kami,” kata Komando Indo-Pasifik AS.

Diluncurkan Usai Latihan Freedom Edge

Peluncuran terbaru terjadi setelah berakhirnya latihan militer Freedom Edge, yang melibatkan Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Jepang.

Latihan tersebut menjadi sasaran kritik keras Pyongyang. Korea Utara menyebut kegiatan militer ketiga negara sebagai ancaman terhadap keamanannya.

Pyongyang juga menuduh Washington meningkatkan aktivitas pengintaian udara serta melakukan serangkaian tindakan militer yang dianggap sebagai provokasi terhadap Korea Utara.

Peluncuran rudal kali ini menjadi perkembangan terbaru dalam ketegangan militer di Semenanjung Korea. Pyongyang secara berkala melakukan uji coba senjata sebagai respons terhadap latihan militer gabungan yang digelar Seoul dan Washington bersama sekutunya.

Korut Kembali Unjuk Kekuatan

Korea Utara sebelumnya juga melancarkan rentetan rudal balistik jarak pendek pada bulan lalu. Sekitar 10 rudal ditembakkan dalam sebuah peluncuran yang berlangsung hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan dirinya berencana bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un pada akhir tahun ini.

Namun, Pyongyang sejauh ini justru menunjukkan sikap skeptis terhadap kemungkinan dimulainya kembali dialog dengan Washington.

Pemerintah Korea Utara menilai pemerintahan Trump kembali menunjukkan kebijakan yang dianggap bermusuhan terhadap negaranya. Pyongyang menuduh Washington berupaya melanggar kedaulatan, sistem politik, dan kepentingan keamanan Korea Utara.

Sikap tersebut membuat peluang pertemuan Trump dan Kim Jong Un diperkirakan tidak mudah diwujudkan.

Kim Jong Un Ajukan Syarat untuk Dialog

Sejumlah analis menilai upaya Trump untuk kembali membangun hubungan dengan Kim Jong Un akan menghadapi tantangan besar.

Kim disebut hanya bersedia membuka kembali pembicaraan dengan persyaratan yang menguntungkan Pyongyang. Salah satu tuntutan utama Korea Utara adalah pengakuan terhadap statusnya sebagai negara berkekuatan nuklir.

Selain itu, Pyongyang menginginkan Washington menghentikan apa yang mereka sebut sebagai kebijakan bermusuhan terhadap Korea Utara.

Peluncuran rudal terbaru menunjukkan bahwa ketegangan militer antara Korea Utara dan negara-negara yang menjadi sekutu Amerika Serikat di Asia Timur masih tinggi. Di tengah situasi tersebut, upaya membuka kembali jalur diplomasi antara Washington dan Pyongyang masih menghadapi ketidakpastian.