PROGRES.ID, WASHINGTON – Penguasaan wilayah dan pulau-pulau di sekitar Selat Bab al-Mandab oleh kelompok Ansarullah (Houthi) disebut menghadirkan tantangan baru bagi Amerika Serikat. Media Amerika Serikat, The Atlantic, menilai perkembangan tersebut menjadi kejutan pahit bagi pemerintahan Presiden Donald Trump.

Dalam laporan yang dikutip dalam pemberitaan terkait perkembangan Yaman, The Atlantic menyoroti posisi strategis Bab al-Mandab yang menjadi salah satu jalur pelayaran penting dunia.

Media tersebut menyebut keberhasilan Houthi menguasai sejumlah wilayah dan pulau di sekitar selat membuat lawan-lawan Amerika Serikat kini memiliki pengaruh terhadap dua selat strategis di Timur Tengah.

Kedua jalur tersebut disebut memiliki peran besar dalam lalu lintas energi global, dengan hampir sepertiga pengiriman minyak dunia setiap hari melewati keduanya secara gabungan.

Perkembangan itu berpotensi menimbulkan konsekuensi lebih luas, terutama apabila ketegangan di kawasan terus meningkat dan mengganggu kelancaran pelayaran maupun distribusi energi.

“Houthi Bekerja dalam Diam”

Dalam laporan tersebut, seorang pejabat pemerintah Yaman yang tidak disebutkan namanya memberikan kritik terhadap kinerja pihaknya sendiri dalam menghadapi perkembangan di lapangan.

Pejabat itu menyindir bahwa ketika para aktivis yang disebutnya tidak berarti sibuk menyebarkan informasi mengenai kemenangan yang belum terbukti, Houthi justru menjalankan operasinya secara diam-diam.

Pernyataan tersebut menggambarkan adanya kesenjangan antara narasi kemenangan yang beredar dan perkembangan strategis yang terjadi di lapangan.

Penguasaan kawasan sekitar Bab al-Mandab menjadi salah satu perkembangan penting karena selat tersebut merupakan pintu masuk strategis menuju Laut Merah dari Teluk Aden.

Posisinya membuat setiap perubahan kendali di kawasan tersebut berpotensi berdampak terhadap aktivitas pelayaran internasional.

Disebut Mengendalikan Dua Chokepoint Strategis

Komentator politik Amerika Serikat, Cenk Uygur, juga menyoroti perkembangan tersebut dengan nada peringatan.

Uygur membandingkan situasi terbaru dengan pengalaman Amerika Serikat dalam perang-perang sebelumnya yang kerap berujung pada keterlibatan panjang dan sulit keluar dari konflik.

Menurutnya, situasi kali ini bahkan berpotensi berkembang lebih jauh.

Ia menilai penguasaan Bab al-Mandab oleh Houthi berarti terdapat dua selat penting di Timur Tengah yang kini berada di bawah pengaruh Iran dan kelompok-kelompok yang menjadi sekutunya.

Uygur memperingatkan kondisi tersebut dapat memberikan tekanan serius terhadap perekonomian Amerika Serikat.

Bab al-Mandab Jadi Titik Strategis

Bab al-Mandab merupakan selat sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi bagian penting dari rute pelayaran antara Asia, Timur Tengah, dan Eropa.

Kawasan tersebut juga memiliki keterkaitan langsung dengan jalur menuju Terusan Suez. Kapal yang melewati rute Laut Merah dapat menggunakannya sebagai jalur yang jauh lebih pendek dibandingkan harus memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika bagian selatan.

Karena itu, gangguan terhadap Bab al-Mandab dapat meningkatkan biaya transportasi, memperpanjang waktu pengiriman, serta berpotensi memengaruhi harga energi dan berbagai komoditas.

Situasi tersebut menjadi semakin sensitif karena Bab al-Mandab berada di tengah konflik Yaman dan ketegangan yang lebih luas antara Iran, Amerika Serikat, Israel, serta kelompok-kelompok bersenjata yang berafiliasi atau memiliki hubungan dengan Teheran.