PROGRES.ID, WASHINGTON – Central Intelligence Agency (CIA) Amerika Serikat membuka puluhan dokumen intelijen yang sebelumnya belum pernah dipublikasikan terkait serangan teror 11 September 2001 atau 9/11.

Sebanyak 71 laporan intelijen dirilis CIA pada Jumat (11/09/2026), berisi informasi dan analisis mengenai ancaman al-Qaeda serta pemimpinnya, Osama bin Laden, pada periode sebelum serangan yang menewaskan ribuan orang tersebut.

Dokumen-dokumen itu memberikan gambaran baru mengenai informasi yang diterima dan disampaikan CIA kepada pemerintahan Presiden Bill Clinton dan George W. Bush pada tahun-tahun menjelang serangan.

Rilis tersebut bertepatan dengan rangkaian peringatan 25 tahun serangan 9/11.

Dari 71 dokumen yang dibuka, 70 berasal dari periode sebelum serangan 2001, sedangkan satu dokumen dibuat sehari setelah serangan. Dua dokumen di antaranya sebenarnya pernah dipublikasikan dalam proses penyelidikan Komisi 9/11, lembaga yang dibentuk Kongres AS untuk menyelidiki tragedi tersebut.

Direktur CIA John Ratcliffe menyebut rilis terbaru itu sebagai pengungkapan analisis CIA terkait 9/11 dalam jumlah terbesar yang pernah dilakukan badan intelijen tersebut.

“25 tahun lalu, serangan 9/11 menghantam bangsa kami, tetapi tidak menghancurkan kami,” ujar Ratcliffe dalam pernyataannya.

Ia mengatakan generasi pejabat CIA setelah serangan tersebut terus bekerja untuk menegakkan keadilan bagi warga Amerika yang menjadi korban sekaligus memastikan al-Qaeda tidak kembali melakukan serangan terhadap AS.

Peringatan tentang Bin Laden Sudah Muncul Sejak 1998

Dokumen yang dirilis memperlihatkan bahwa CIA telah mengidentifikasi ancaman dari Bin Laden dan jaringan yang dipimpinnya jauh sebelum serangan ke New York dan Washington.

Laporan paling awal dalam kumpulan tersebut bertanggal 13 Februari 1998. Dokumen itu menyebut Bin Laden dan sejumlah ekstremis Islam telah bertemu dengan pihak yang namanya masih disensor dan membahas upaya memperoleh bahan kimia, biologis, serta nuklir dari pasar terbuka.

CIA juga mencatat bahwa Bin Laden memiliki perusahaan, jaringan bisnis, dan kekuatan finansial yang berpotensi mendukung upayanya memperoleh senjata tersebut.

Pada saat itu, Bin Laden dan para pengikutnya bermarkas di Afghanistan di bawah perlindungan Taliban.

Sejumlah laporan kemudian membahas hubungan Bin Laden dengan Taliban serta semakin besarnya pengaruhnya di Afghanistan.

Salah satu laporan Oktober 1999 bahkan menyebut Bin Laden melakukan investasi besar pada 57 laboratorium narkotika yang terkait dengan Mullah Omar, pemimpin Taliban saat itu. Laporan tersebut juga menuduh adanya upaya merekrut tenaga ahli untuk mengembangkan narkotika yang lebih adiktif.

Namun, temuan tersebut kemudian dipertanyakan. Komisi 9/11 menyatakan tidak menemukan bukti yang dapat diandalkan bahwa Bin Laden terlibat dalam perdagangan narkotika atau memperoleh kekayaannya dari bisnis tersebut.

Ada Peringatan Pesawat Digunakan sebagai Senjata

Dokumen lain menunjukkan bahwa ancaman serangan terhadap Amerika Serikat sudah menjadi perhatian serius CIA sebelum 9/11.

Sebuah laporan Februari 1998 menyebut Bin Laden dan kelompok lainnya telah mengeluarkan fatwa yang menyerukan umat Muslim menyerang kepentingan serta warga sipil Amerika di seluruh dunia sampai Washington menarik diri dari Arab Saudi dan Palestina.

Lebih mengejutkan, sebuah memo tertanggal 10 September 1998 memperingatkan kemungkinan kelompok ekstremis menggunakan pesawat yang dipenuhi bahan peledak untuk menyerang sebuah kota di AS.

Meski demikian, laporan tersebut juga menyatakan informasi yang tersedia saat itu belum memberikan bukti konklusif mengenai rencana serangan Bin Laden.

CIA mencatat bahwa Bin Laden disebut memiliki keinginan untuk menyerang Amerika Serikat di wilayahnya sendiri, termasuk Washington.

Komisi 9/11 kemudian menyinggung memo tersebut dalam laporan akhirnya. Komisi menyimpulkan bahwa Pusat Kontraterorisme CIA tidak melakukan analisis lanjutan mengenai kemungkinan pesawat yang dibajak atau membawa bahan peledak digunakan sebagai senjata.

Menurut komisi, analisis semacam itu kemungkinan akan segera menunjukkan salah satu kendala penting yang harus dihadapi para pelaku, yakni kebutuhan menemukan pelaku bom bunuh diri yang mampu menerbangkan pesawat jet berukuran besar.

“Sistem Berkedip Merah” pada Musim Panas 2001

Memasuki pertengahan 2001, peringatan mengenai ancaman serangan semakin meningkat.

Sejumlah dokumen yang berasal dari musim panas tahun itu menunjukkan adanya informasi intelijen mengenai kemungkinan serangan di dalam wilayah Amerika Serikat.

Pada saat itu, Direktur CIA George Tenet kemudian menggambarkan kondisi sistem intelijen AS sebagai “berkedip merah” ketika memberikan kesaksian kepada Komisi 9/11.

Salah satu memo bertanggal 24 Juli 2001 menyebut operasi teror yang disponsori Bin Laden dan diperkirakan segera terjadi kemungkinan ditunda. Namun, laporan tersebut memperingatkan bahwa persiapan untuk serangan lain dalam waktu dekat masih dapat berlangsung.

CIA juga kembali merilis memo terkenal berjudul “Bin Ladin Determined To Strike in US” yang dibuat pada Agustus 2001.

Dokumen tersebut sebenarnya telah dideklasifikasi pada 2004 atas permintaan Komisi 9/11. Isinya antara lain menyebut informasi FBI mengenai pola aktivitas mencurigakan di Amerika yang dinilai konsisten dengan persiapan pembajakan pesawat atau jenis serangan lainnya.

Laporan itu juga menyinggung pengawasan terhadap sejumlah gedung federal di New York.

Komisi 9/11 menyatakan memo Agustus tersebut merupakan item ke-36 dalam President’s Daily Brief (PDB) sepanjang 2001 yang berkaitan dengan Bin Laden atau al-Qaeda. Namun, memo itu menjadi laporan pertama yang secara khusus membahas kemungkinan serangan di dalam wilayah Amerika Serikat.

Tidak Semua Informasi Telah Dibuka

Meski rilis terbaru disebut sebagai salah satu pengungkapan terbesar terkait 9/11, sejumlah informasi intelijen masih belum dibuka untuk publik.

Dari pemerintahan Bush saja, terdapat 18 dokumen sebelum serangan yang masuk dalam rilis terbaru. Artinya, sebagian materi dalam President’s Daily Brief mengenai ancaman Bin Laden menjelang 9/11 masih tetap dirahasiakan.

Seorang mantan pejabat senior intelijen juga mengatakan sejumlah laporan peringatan tentang ancaman Bin Laden yang sudah muncul sejak 1996 atau bahkan lebih awal tidak termasuk dalam dokumen yang dirilis kali ini.

Beberapa laporan tambahan dari 2001 juga belum dibuka.

Komisi 9/11 sebelumnya menyimpulkan bahwa sebagian besar komunitas intelijen Amerika pada musim panas 2001 menyadari jumlah dan tingkat keseriusan laporan ancaman berada pada level yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Banyak pejabat, menurut komisi tersebut, mengetahui adanya rencana besar yang sedang dipersiapkan dan berupaya menghentikannya.

Dokumen Sehari Setelah Serangan

Dokumen terakhir dalam paket yang dirilis CIA bertanggal 12 September 2001, sehari setelah empat pesawat dibajak dan digunakan dalam serangkaian serangan terhadap World Trade Center, Pentagon, serta sebuah lokasi di Pennsylvania.

Laporan situasi tersebut memuat perkembangan informasi intelijen mengenai Bin Laden dan kemungkinan keterlibatannya dalam serangan.

Menurut laporan itu, semakin banyak bukti menunjukkan bahwa sejumlah ekstremis Sunni di Afghanistan dan kawasan Teluk Persia telah mengetahui bahwa serangan yang diarahkan Bin Laden akan segera dilakukan.