PROGRES.ID – Perang Amerika Serikat (AS) dengan Iran terus menguras anggaran Washington. Hingga 1 Agustus 2026, konflik bersenjata tersebut diperkirakan telah membuat Departemen Pertahanan AS mengeluarkan sekitar US$38 miliar atau setara Rp671,9 triliun.

Angka tersebut berpotensi terus meningkat apabila perang berkepanjangan. Congressional Budget Office (CBO), lembaga nonpartisan di AS, memperkirakan biaya konflik dapat mencapai US$2 miliar hingga US$3 miliar atau sekitar Rp35,3 triliun-Rp53 triliun setiap bulan, tergantung pada intensitas pertempuran.

Estimasi tersebut disampaikan CBO dalam laporan yang dirilis pada Selasa (15/9/2026) waktu setempat dan dikutip AFP pada Rabu (16/9/2026).

Biaya Perang AS-Iran Sudah Capai Rp671 Triliun

Menurut CBO, pengeluaran sekitar US$38 miliar tersebut merupakan biaya yang telah ditanggung Departemen Pertahanan AS hingga 1 Agustus 2026.

CBO mengaitkan pengeluaran itu dengan konflik yang bermula daripada serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Besarnya biaya perang membuat dampak konflik tidak hanya terlihat dari aspek militer dan geopolitik. Jika perang terus berlangsung, tekanan terhadap anggaran pertahanan AS juga berpotensi semakin besar.

CBO memperkirakan kebutuhan dana tambahan bisa berada pada kisaran US$2 miliar–US$3 miliar per bulan. Nilainya bahkan dapat lebih tinggi apabila tingkat kekerasan dalam konflik meningkat.

Konflik Belum Menunjukkan Jalan ke Perundingan

Di tengah tingginya biaya perang, upaya untuk membuka kembali pembicaraan antara AS dan Iran masih menghadapi hambatan.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan dirinya terbuka untuk kembali membahas kemungkinan kesepakatan dengan Iran. Pernyataan itu disampaikan Trump pada Senin (14/9) waktu setempat setelah beberapa pekan mengatakan bahwa waktunya belum tepat untuk mencapai kesepakatan guna mengakhiri perang.

Trump menyampaikan bahwa Iran menginginkan kesepakatan secara cepat dan mendesak. Ia juga mengatakan keputusan mengenai keterlibatan AS dalam pembicaraan tersebut masih terbuka.

Namun, Iran menolak sinyal tersebut sebagai dasar untuk segera melakukan negosiasi.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyampaikan sikap tersebut melalui media sosial X, sebagaimana diberitakan AFP pada Selasa (15/9/2026).

Rezaei menegaskan bahwa Iran tidak akan melakukan pembicaraan sebelum sejumlah persyaratan yang mereka ajukan terpenuhi.

Iran Ajukan Syarat untuk Mengakhiri Perang

Iran sebelumnya telah menyampaikan sejumlah tuntutan sebagai bagian dari persyaratan untuk mengakhiri konflik dan blokade di Selat Hormuz.

Di antara tuntutan tersebut adalah kompensasi atau ganti rugi perang serta pencabutan sanksi yang dikenakan terhadap Iran.

Situasi di sekitar Selat Hormuz juga menjadi salah satu faktor penting dalam konflik karena kawasan tersebut memiliki peran strategis dalam perdagangan dan pasokan energi global.

Dengan belum tercapainya kesepakatan antara Washington dan Teheran, biaya yang harus dikeluarkan AS masih berpotensi meningkat.

Jika estimasi CBO sebesar US$2 miliar–US$3 miliar per bulan terealisasi, setiap tambahan satu bulan konflik berarti ada potensi pengeluaran puluhan triliun rupiah bagi Departemen Pertahanan AS.

Rincian Biaya Perang AS-Iran

Biaya hingga 1 Agustus 2026: sekitar US$38 miliar
Setara rupiah: sekitar Rp671,9 triliun
Potensi biaya per bulan: US$2 miliar-US$3 miliar
Setara rupiah per bulan: sekitar Rp35,3 triliun-Rp53 triliun
Awal konflik: 28 Februari 2026
Lembaga yang menghitung: Congressional Budget Office (CBO)