PROGRES.ID – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) kembali mengeluarkan pernyataan keras terkait kehadiran Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah.
Dalam pernyataan yang dirilis bertepatan dengan Pekan Pertahanan Suci (Sacred Defense Week), IRGC menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Israel pada akhirnya harus menerima kawasan yang terbebas dari apa yang mereka sebut sebagai kehadiran “jahat dan kriminal”.
IRGC juga menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran berada dalam kondisi siaga dan siap memberikan respons terhadap setiap tindakan agresi.
Pernyataan tersebut disampaikan pada Senin, 21 September 2026, menjelang peringatan dimulainya perang Iran-Irak pada 22 September 1980. Perang tersebut berlangsung selama delapan tahun dan menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah modern Iran.
IRGC Sebut Pertahanan Suci sebagai Pelajaran Strategis
Dalam pernyataannya, IRGC menggambarkan periode perang Iran-Irak sebagai lebih dari sekadar konflik militer.
Menurut IRGC, pengalaman tersebut menjadi periode yang memperkuat persatuan nasional, kohesi sosial, serta kemampuan pertahanan Iran.
IRGC juga menyebut pengalaman tersebut sebagai “sekolah strategis” yang membentuk kemampuan pertahanan dan daya tangkal Iran.
Menurut kelompok tersebut, pengalaman perang kemudian berkembang menjadi konsep pertahanan berlapis yang tidak hanya mencakup kemampuan militer, tetapi juga ranah siber, ekonomi, informasi, dan strategi.
IRGC menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran berada dalam kondisi siap menghadapi ancaman dan memberikan respons terhadap agresi.
IRGC Klaim Operasi True Promise Mengubah Konstelasi Keamanan
Dalam pernyataan yang sama, IRGC menyinggung sejumlah operasi yang disebut sebagai True Promise.
IRGC mengklaim operasi tersebut menunjukkan kemampuan Iran dalam menghadapi Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya. Menurut versi IRGC, rangkaian konflik tersebut turut mengubah dinamika keamanan di kawasan Timur Tengah.
IRGC juga menyoroti posisi Selat Hormuz sebagai salah satu bagian penting dalam keamanan regional dan perdagangan energi dunia.
Namun, berbagai klaim tersebut merupakan penilaian dari pihak Iran. Pernyataan IRGC tidak dengan sendirinya menjadi bukti independen bahwa seluruh perubahan yang diklaim telah terjadi sesuai gambaran tersebut.
IRGC Tuduh Lawan Beralih ke Perang Hibrida
IRGC juga menilai lawannya mulai menggunakan pendekatan yang lebih luas setelah konflik militer.
Menurut IRGC, bentuk tekanan tersebut mencakup perang hibrida, perang kognitif, tekanan ekonomi, dan perang media.
Teheran menyatakan akan menghadapi tekanan tersebut dengan mengandalkan kemampuan domestik, persatuan nasional, serta apa yang disebutnya sebagai “ekonomi perlawanan”.
IRGC menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran tetap berada dalam posisi siaga.
“Jari berada di pelatuk,” demikian gambaran yang digunakan IRGC untuk menegaskan kesiapan militernya menghadapi kemungkinan agresi. IRGC juga memperingatkan bahwa setiap serangan akan mendapatkan respons yang mereka sebut sebagai tegas dan menghancurkan.
Pesan IRGC untuk Amerika Serikat dan Israel
Pada bagian akhir pernyataannya, IRGC kembali menyampaikan pesan langsung kepada Washington dan Tel Aviv.
IRGC menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Israel cepat atau lambat harus menerima kawasan yang tidak lagi memiliki kehadiran mereka, sesuai dengan pandangan Iran mengenai tatanan keamanan regional.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa isu kehadiran militer dan pengaruh Amerika Serikat serta Israel masih menjadi salah satu titik utama dalam konflik dan ketegangan antara Iran dengan kedua negara tersebut.
Apa Itu Sacred Defense Week?
Sacred Defense Week atau Pekan Pertahanan Suci merupakan momentum yang diperingati Iran setiap tahun untuk mengenang dimulainya perang Iran-Irak.
Perang tersebut dimulai pada 22 September 1980 dan berlangsung selama delapan tahun.
Bagi pemerintah Iran, periode tersebut dipandang sebagai bagian penting dalam pembentukan identitas pertahanan nasional dan menjadi dasar narasi mengenai kemandirian serta daya tangkal militer Iran.
Pernyataan IRGC tahun ini disampaikan ketika konflik dan ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel masih berlangsung.
Di tengah situasi tersebut, IRGC menegaskan kesiapan militernya sekaligus kembali menyerukan perubahan tatanan keamanan di kawasan Timur Tengah.

Komentar