PROGRES.ID, NEW YORK – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan agenda utama delegasi negaranya dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) ke-81 adalah menyampaikan posisi Iran terkait konflik dengan Amerika Serikat dan Israel, sekaligus memperjuangkan kepentingan Iran di hadapan komunitas internasional.

Araghchi tiba di New York pada Senin (21/9/2026) untuk menghadiri rangkaian UNGA ke-81. Presiden Iran Masoud Pezeshkian dijadwalkan menyusul dan menyampaikan pidato di Sidang Umum PBB pada Rabu (23/9/2026).

Berbicara kepada wartawan setelah tiba di New York, Araghchi mengatakan Iran datang ke forum PBB dalam situasi yang menurut Teheran masih berkaitan erat dengan konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.

“Tujuan terpenting kami adalah hadir di platform internasional utama untuk menyampaikan posisi serta membela hak dan kepentingan rakyat Iran,” kata Araghchi, seperti dikutip media pemerintah Iran.

Menurutnya, PBB tetap menjadi salah satu forum diplomatik terpenting bagi negara-negara untuk menyampaikan sikap mereka kepada dunia, meskipun Teheran mempertanyakan efektivitas organisasi tersebut dalam menjalankan mandat perdamaian dan keamanan internasional.

Iran Soroti Kepercayaan terhadap PBB

Araghchi juga menyoroti tema UNGA tahun ini, yakni “Restoring Trust, Managing Transformation: A United Nations That Delivers for All.”

Menurut Araghchi, tema tersebut menunjukkan adanya persoalan kepercayaan terhadap institusi PBB. Ia menilai melemahnya kepercayaan tersebut berkaitan dengan persepsi bahwa sejumlah negara memiliki pengaruh besar terhadap proses pengambilan keputusan internasional.

Dalam pernyataannya, Araghchi juga mengkritik negara-negara Barat dan Eropa terkait respons mereka terhadap konflik di Palestina, Gaza, Lebanon, dan Iran.

Pernyataan tersebut merupakan posisi pemerintah Iran. Sejumlah isu yang disampaikan Araghchi juga menjadi bagian dari ketegangan diplomatik yang lebih luas antara Teheran, Washington, dan sekutu-sekutunya.

UNGA tahun ini berlangsung ketika konflik dan ketegangan di Timur Tengah masih menjadi salah satu agenda utama diplomasi internasional. Reuters melaporkan bahwa hampir 130 kepala negara menghadiri rangkaian pertemuan di New York di tengah perang di Timur Tengah dan Ukraina serta perdebatan mengenai relevansi PBB.

Pezeshkian Siapkan Agenda Diplomatik

Presiden Masoud Pezeshkian dijadwalkan menjadi salah satu tokoh utama dalam delegasi Iran di New York.

Selain menyampaikan pidato di Sidang Umum PBB, Pezeshkian dijadwalkan bertemu dengan sejumlah kepala negara dan pejabat senior. Agenda lainnya mencakup pertemuan dengan warga Iran di Amerika Serikat serta diskusi dengan akademisi, pakar, dan lembaga pemikir.

Kehadiran Pezeshkian menjadi penting karena Washington dan Teheran masih berada dalam hubungan yang tegang. Amerika Serikat sebelumnya menyatakan akan mengizinkan delegasi inti Iran, termasuk Pezeshkian dan Araghchi, menghadiri UNGA. Namun, delegasi Iran menghadapi sejumlah pembatasan selama berada di wilayah New York.

Araghchi sendiri mengatakan rangkaian pertemuan bilateral dengan para menteri luar negeri akan dimanfaatkan untuk membahas hubungan Iran dengan negara lain sekaligus menyampaikan posisi Teheran mengenai perkembangan regional.

Araghchi Bertemu Guterres

Tak lama setelah tiba di New York, Araghchi juga melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Sekretaris Jenderal PBB António Guterres.

Pembicaraan tersebut membahas agenda Sidang Umum PBB serta upaya organisasi internasional itu dalam mendorong perdamaian dan keamanan global.

Di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan, komunikasi antara Iran dan PBB menjadi salah satu jalur diplomasi yang tetap terbuka.

Konflik Iran-AS Jadi Sorotan

Kehadiran delegasi Iran berlangsung ketika hubungan Teheran dan Washington masih berada dalam kondisi tegang. Reuters melaporkan konflik antara Iran dan Amerika Serikat telah mengganggu jalur perdagangan energi dan pelayaran di kawasan, termasuk di sekitar Selat Hormuz.

Perkembangan tersebut juga berdampak pada pasar energi global. Harga minyak Brent pada 22 September 2026 tercatat kembali menembus US$100 per barel, sementara pasar menantikan kemungkinan perkembangan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat selama pekan UNGA.

Dengan demikian, forum UNGA ke-81 tidak hanya menjadi panggung bagi Iran untuk menyampaikan sikap politiknya, tetapi juga menjadi ruang diplomasi penting di tengah upaya internasional meredakan ketegangan di Timur Tengah.

Pezeshkian dijadwalkan menyampaikan posisi resmi Iran di hadapan para pemimpin dunia pada Rabu (23/9), sementara pertemuan bilateral di sela-sela UNGA berpotensi menjadi jalur pembahasan mengenai konflik, keamanan regional, dan hubungan Iran dengan negara-negara lain.