PROGRES.ID – Lionel Messi meninggalkan Rosario ketika usianya baru 13 tahun. Ia pergi ke Spanyol bersama keluarganya demi mengejar peluang yang saat itu sulit didapatkan di tanah kelahirannya.
Namun, ribuan kilometer dari Argentina ternyata tidak pernah membuat Messi benar-benar meninggalkan identitasnya sebagai orang Argentina.
Justru, kecintaannya terhadap negeri kelahiran menjadi salah satu benang merah paling kuat sepanjang perjalanan kariernya.
Kisah itu kembali terasa ketika Messi mengakhiri perjalanan panjangnya bersama Timnas Argentina. Setelah lebih dari dua dekade membela Albiceleste, perpisahan tersebut menjadi penutup perjalanan seorang anak Rosario yang tumbuh menjadi salah satu figur terbesar dalam sejarah sepak bola dunia.
Pergi ke Barcelona demi Masa Depan
Messi menghabiskan masa kecilnya di Rosario. Ketika masih muda, ia didiagnosis mengalami kekurangan hormon pertumbuhan yang membutuhkan biaya pengobatan tidak sedikit.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan keluarganya menerima kesempatan dari Barcelona. Klub raksasa Spanyol itu bersedia membantu biaya pengobatan Messi sekaligus memberinya jalan untuk mengembangkan kemampuan sepak bolanya.

Pada akhirnya, keputusan tersebut mengubah kehidupan Messi.
Ia berkembang melalui akademi Barcelona dan perlahan menjelma menjadi bintang dunia. Trofi demi trofi diraih bersama klub Catalan tersebut.
Akan tetapi, ketika kesempatan untuk memilih negara datang, Messi tetap memandang Argentina sebagai rumahnya.
Padahal, sebagai pemain yang tumbuh dan berkembang di Spanyol, ia memiliki peluang untuk memperkuat La Roja.
Messi memilih jalan yang berbeda.
Ia ingin mengenakan seragam biru-putih Argentina.
Memilih Argentina, Meski Tekanan Begitu Besar
Keputusan tersebut ternyata bukan jalan yang mudah.
Messi datang ke tim senior Argentina ketika publik sedang mencari penerus Diego Maradona. Nomor 10, kaki kiri, kemampuan menggiring bola dan gaya bermainnya membuat perbandingan dengan Maradona hampir tidak terhindarkan.
Ekspektasi yang melekat kepadanya begitu besar.
Ironisnya, ketika Messi memenangkan hampir semua gelar bersama Barcelona, kesuksesan serupa tidak langsung datang bersama Argentina.
Ia bahkan menjadi sasaran kritik.
Ada yang mempertanyakan kecintaannya kepada Argentina. Ada pula yang mempersoalkan sikapnya ketika lagu kebangsaan dimainkan sebelum pertandingan.
Kritik itu terasa semakin berat karena Messi terus gagal membawa Argentina menjadi juara.
Empat Final yang Membuat Messi Hampir Menyerah
Puncak kekecewaan terjadi setelah Copa América Centenario 2016.
Argentina kembali kalah di final dari Chile. Kekalahan tersebut menjadi final keempat yang gagal dimenangkannya bersama tim nasional.
Messi sempat memutuskan pensiun dari sepak bola internasional.
Namun, keputusan itu tidak bertahan lama.
Ia kembali ke Timnas Argentina dan terus mencoba.
Dalam sebuah pernyataan yang kembali dikenang, Messi menegaskan keinginannya mengakhiri karier dengan mempersembahkan sesuatu untuk Argentina.
Pesannya sederhana: kegagalan bukan alasan untuk berhenti mengejar mimpi.
Perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil.
Dari Air Mata ke Trofi
Titik balik datang pada Copa América 2021.
Argentina mengalahkan Brasil di final dan Messi akhirnya mengangkat trofi senior pertamanya bersama tim nasional.
Gelar tersebut seolah menghapus sebagian besar luka masa lalu.
Setahun kemudian, pencapaian yang jauh lebih besar datang.
Di Qatar pada 2022, Messi membawa Argentina menjadi juara dunia.
Trofi yang selama bertahun-tahun menjadi obsesi itu akhirnya berada di tangannya.
Kesuksesan tersebut juga mengubah cara publik Argentina memandang Messi. Jika sebelumnya ia kerap dibandingkan dengan Maradona dan dianggap belum memberikan cukup banyak untuk negaranya, setelah Qatar 2022 Messi justru dipeluk sebagai pahlawan nasional.
Messi Tak Pernah Menyangkal Dari Mana Ia Berasal
Inilah yang membuat kisah Messi sebagai seorang perantau menjadi menarik.
Sebagian besar karier profesionalnya berlangsung di luar Argentina. Ia membangun legenda di Barcelona dan kemudian melanjutkan kariernya di Major League Soccer bersama Inter Miami.
Namun, ketika harus memilih identitas sepak bola, ia tidak pernah ragu.
Argentina tetap menjadi pilihannya.
CNN menyoroti sisi tersebut dalam artikel karya Esteban Campanela yang terbit 31 Agustus 2026. Narasi artikel itu menempatkan perjalanan Messi sebagai kisah seorang anak Argentina yang pergi mencari kesempatan lebih baik, tetapi tidak pernah kehilangan keterikatannya dengan tanah kelahirannya.
Perpisahan yang Sarat Emosi
Pada penghujung karier internasionalnya, Messi kembali menunjukkan betapa kuat hubungannya dengan Argentina.
Dalam pesan perpisahannya, ia mengungkapkan rasa terima kasih kepada para pendukung Argentina dan menegaskan kecintaannya kepada negaranya.
Kalimat penutup yang ia tuliskan menjadi gambaran sederhana mengenai identitas yang selama ini ia bawa ke mana pun pergi:
“Terima kasih Tuhan karena telah menjadikanku orang Argentina.”
Bagi Messi, menjadi perantau tidak berarti kehilangan rumah.
Ia memang meninggalkan Rosario ketika masih anak-anak. Ia tumbuh di Spanyol, menjadi bintang di Barcelona, lalu melanjutkan kariernya di Amerika Serikat.
Tetapi setiap kali mengenakan jersey Argentina, Messi kembali menjadi anak Rosario yang mengejar mimpi.
Dan pada akhirnya, ia berhasil membawa pulang sesuatu yang selama bertahun-tahun begitu sulit diraih: Piala Dunia untuk Argentina.
Perjalanan Messi bersama Timnas Argentina pun berakhir bukan sebagai kisah tentang seorang pemain yang pergi dari negaranya, melainkan tentang seorang anak yang pergi jauh untuk mengejar mimpi—lalu kembali membawa pulang kejayaan untuk tanah kelahirannya.

Komentar