PROGRES.ID — Glycidyl methacrylate (GMA), senyawa kimia yang disebut oleh perusahaan pengangkut bahan kimia sebagai material dalam insiden kebocoran di Toledo, Ohio, Amerika Serikat, menjadi perhatian karena potensi bahayanya terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.
Bahan kimia ini digunakan sebagai bahan antara dalam pembuatan berbagai material industri, termasuk resin akrilik dan epoksi. Meski memiliki manfaat dalam proses manufaktur, glycidyl methacrylate juga memiliki sifat berbahaya, seperti dapat mengiritasi mata, kulit, dan saluran pernapasan, serta memicu reaksi alergi pada kulit. Informasi keselamatan dari Organisasi Buruh Internasional (ILO) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencantumkan sejumlah risiko tersebut.
Dalam insiden di Toledo pada Selasa malam, 20 Oktober 2026, MC Tank Transport Inc. menyatakan peralatan yang berkaitan dengan operasinya terlibat dalam pelepasan bahan berbahaya dan mengidentifikasi bahan yang bocor sebagai glycidyl methacrylate. Namun, pembaruan awal pemerintah Kota Toledo menyebut identitas zat tersebut belum dikonfirmasi oleh petugas. Dengan demikian, identifikasi perusahaan perlu dibedakan dari konfirmasi resmi otoritas.
Apa Itu Glycidyl Methacrylate?
Glycidyl methacrylate merupakan senyawa organik dengan rumus molekul C₇H₁₀O₃ dan nomor CAS 106-91-2. Senyawa ini juga dikenal dengan nama 2,3-epoxypropyl methacrylate.
Menurut basis data PubChem milik National Institutes of Health Amerika Serikat, senyawa tersebut memiliki massa molekul sekitar 142,15 gram per mol. Informasi keselamatan kimia internasional menggambarkannya sebagai cairan tidak berwarna dengan bau khas.
GMA berfungsi sebagai bahan antara dalam produksi polimer, khususnya resin epoksi, resin vinil, dan resin akrilik. Material hasil pengolahannya dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari perekat dan pelapis hingga produk komposit dan aplikasi industri lainnya.
Penggunaan GMA dalam industri tidak berarti bahan mentahnya aman untuk ditangani tanpa pengendalian khusus. Risiko paparan bergantung pada konsentrasi, durasi kontak, jalur masuk ke tubuh, serta kondisi penanganan dan ventilasi.
Risiko Paparan terhadap Kesehatan
Kekhawatiran utama terkait glycidyl methacrylate adalah efeknya terhadap mata, kulit, dan sistem pernapasan. Kartu keselamatan kimia ILO dan WHO menyebut paparan jangka pendek dapat menyebabkan iritasi berat pada mata, kulit, dan saluran pernapasan.
Gejala yang mungkin muncul meliputi batuk, sakit tenggorokan, kesulitan bernapas, kemerahan pada kulit, rasa nyeri, serta gangguan pada mata. Kontak berulang atau berkepanjangan juga dapat menyebabkan sensitisasi kulit, yaitu kondisi ketika sistem kekebalan menjadi lebih reaktif terhadap zat tertentu sehingga paparan berikutnya dapat memicu reaksi alergi.
Bahan tersebut dapat masuk ke tubuh melalui inhalasi, kontak kulit, maupun tertelan. Karena itu, risiko tidak hanya berkaitan dengan menghirup uap, tetapi juga dengan menyentuh cairan atau permukaan yang terkontaminasi.
ILO dan WHO menggolongkan bahan ini sebagai cairan yang mudah terbakar, berbahaya jika tertelan, beracun ketika bersentuhan dengan kulit, serta berpotensi menimbulkan alergi kulit. Bahan ini juga dinyatakan beracun bagi organisme perairan.
Besarnya risiko pada suatu kejadian kebocoran tidak dapat ditentukan hanya dari nama bahan kimia. Penilaian membutuhkan data seperti jumlah zat yang terlepas, konsentrasi di udara, lamanya paparan, kondisi cuaca, serta hasil pengukuran dari petugas di lapangan.
Berpotensi Menimbulkan Kebakaran dan Reaksi Kimia
Selain risiko kesehatan, glycidyl methacrylate memiliki karakteristik kimia yang memerlukan penanganan hati-hati. Basis data CAMEO Chemicals milik National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menyebut bahan tersebut mudah terbakar dan dapat mengalami polimerisasi, yakni reaksi ketika molekul-molekulnya bergabung membentuk rantai polimer.
Proses polimerisasi dapat dipicu oleh panas, katalis, atau kondisi tertentu. NOAA juga memperingatkan bahwa reaksi bahan ini dengan asam kuat, basa kuat, dan zat pengoksidasi dapat berlangsung hebat serta menimbulkan bahaya kebakaran.
Karena sifat tersebut, penanganan tumpahan tidak seharusnya dilakukan oleh warga tanpa peralatan dan pelatihan khusus. Petugas tanggap darurat perlu menentukan metode pengendalian berdasarkan kondisi aktual, karakteristik bahan, dan potensi reaksi dengan material lain.
Mengapa Kebocoran di Toledo Memicu Kekhawatiran?
Menurut Associated Press, insiden pelepasan bahan berbahaya di Toledo terjadi di kawasan industri pada Selasa malam. Warga dalam radius satu mil atau sekitar 1,6 kilometer dari lokasi diperintahkan mengungsi, sementara perintah berlindung di dalam ruangan diberlakukan untuk wilayah yang lebih luas pada tahap penanganan berikutnya.
Petugas memperingatkan bahwa paparan berlebihan terhadap bahan kimia yang diduga terlibat dapat menyebabkan iritasi, sakit kepala, pusing, kelelahan, mual, dan muntah. Warga juga diminta tidak menilai risiko hanya berdasarkan tampilan kabut atau udara di sekitarnya.
Dalam pembaruan awal pada Rabu, pemerintah Kota Toledo menyatakan belum ada laporan korban luka maupun korban jiwa dan menegaskan bahwa tidak terjadi ledakan. Pada saat yang sama, otoritas mengatakan identitas zat yang terlepas belum dikonfirmasi secara resmi. MC Tank Transport kemudian mengidentifikasi bahan tersebut sebagai glycidyl methacrylate dalam pernyataannya kepada media.
Belum tersedianya data publik mengenai konsentrasi bahan kimia di udara dan jumlah zat yang terlepas membuat dampak paparan terhadap masyarakat belum bisa dihitung secara pasti. Identifikasi zat saja tidak cukup untuk menyimpulkan tingkat bahaya yang dialami setiap penduduk.
Langkah Keselamatan Jika Diduga Terpapar
Panduan keselamatan kimia menekankan pentingnya menjauhi area kebocoran dan mengikuti instruksi otoritas setempat. Dalam keadaan darurat, warga tidak disarankan mendekati lokasi untuk mengambil gambar atau mencoba mengidentifikasi bahan dari bau maupun warna udara.
Jika berada di wilayah yang terkena perintah berlindung di dalam ruangan, masyarakat perlu mengikuti instruksi resmi, menutup pintu dan jendela, serta mematikan sistem ventilasi yang menarik udara dari luar jika diperintahkan. Orang yang berada di zona evakuasi harus meninggalkan kawasan sesuai arahan petugas.
Apabila seseorang mengalami batuk, sesak napas, iritasi mata, pusing, atau gejala lain setelah kemungkinan terpapar, ia perlu menjauh dari sumber paparan dan mencari pertolongan medis. Kontak langsung dengan bahan kimia juga memerlukan penanganan segera sesuai arahan tenaga medis atau petugas bahan berbahaya.
NOAA menyarankan bahwa penanganan tumpahan dan pembersihan harus dilakukan oleh personel yang memiliki perlindungan serta peralatan yang sesuai. Area tidak boleh dimasuki kembali sebelum dinyatakan aman oleh petugas berwenang.
Insiden Toledo menunjukkan bahwa bahan kimia yang digunakan secara luas dalam manufaktur tetap dapat menimbulkan risiko serius ketika terlepas di luar sistem penanganan yang terkendali. Penentuan dampak sebenarnya membutuhkan hasil pemantauan lingkungan dan keterangan resmi mengenai bahan, konsentrasi, serta kondisi paparan.

Komentar