PROGRES.ID, JAKARTA — Sebuah asteroid berdiameter sekitar 160 meter pernah menghantam kawasan Laut Utara puluhan juta tahun lalu dan memicu tsunami dengan ketinggian lebih dari 100 meter. Peristiwa dahsyat itu kini terungkap lebih jelas setelah para ilmuwan menemukan bukti kuat mengenai asal-usul Kawah Silverpit yang selama bertahun-tahun menjadi perdebatan di kalangan ahli geologi.

Laporan ScienceDaily yang mengutip penelitian Heriot-Watt University menjelaskan bahwa tumbukan tersebut diperkirakan terjadi sekitar 43–46 juta tahun lalu. Energi tumbukan begitu besar hingga melontarkan material batuan dan air laut ke atmosfer, sebelum material itu kembali jatuh dan menghasilkan gelombang raksasa.

Penelitian tersebut dipimpin oleh Uisdean Nicholson dari Heriot-Watt University di Edinburgh, Inggris. Tim peneliti menggabungkan pencitraan seismik, analisis mikroskopis sampel batuan, dan simulasi komputer untuk menguji bagaimana struktur Silverpit terbentuk.

Hasil penelitian mereka diterbitkan dalam jurnal ilmiah Nature Communications dengan judul Multiple lines of evidence for a hypervelocity impact origin for the Silverpit Crater. Temuan tersebut memperkuat kesimpulan bahwa Silverpit merupakan kawah tumbukan benda langit, bukan sekadar hasil proses geologi di bawah permukaan Bumi.

Kawah Silverpit Tersembunyi di Bawah Dasar Laut

Kawah Silverpit berada di bagian selatan Laut Utara, sekitar 130 kilometer dari pesisir Yorkshire, Inggris. Struktur utamanya memiliki diameter sekitar tiga kilometer dan tertimbun sekitar 700 meter di bawah dasar laut.

Di sekeliling kawah terdapat pola patahan melingkar yang membentang hingga sekitar 20 kilometer. Bentuk tersebut sejak awal menarik perhatian para ahli karena memiliki sejumlah karakteristik yang juga ditemukan pada kawah tumbukan benda langit.

Silverpit pertama kali diidentifikasi pada 2002 oleh para ahli geologi yang meneliti data bawah permukaan untuk kepentingan eksplorasi. Namun, asal-usulnya tidak langsung disepakati.

Sebagian ilmuwan meyakini struktur itu terbentuk akibat asteroid atau komet yang menghantam Bumi dengan kecepatan sangat tinggi. Pendapat lain menyebut pergerakan endapan garam di bawah tanah atau aktivitas vulkanik sebagai penyebab terbentuknya kawah.

Perdebatan bahkan berlanjut hingga 2009, ketika para ahli geologi membahas dan melakukan pemungutan suara mengenai kemungkinan asal-usul Silverpit. Pada saat itu, hipotesis tumbukan benda langit belum mendapatkan dukungan mayoritas.

Bukti baru yang diperoleh melalui penelitian terbaru akhirnya memberikan dasar yang lebih kuat untuk menjelaskan struktur tersebut sebagai kawah tumbukan.

Kristal Mineral Menjadi Petunjuk Penting

Salah satu temuan penting dalam penelitian ini berasal dari sampel batuan yang diambil melalui sumur eksplorasi minyak di sekitar kawasan Silverpit.

Para peneliti menemukan kristal kuarsa dan feldspar yang mengalami perubahan struktur akibat tekanan ekstrem. Dalam geologi, material semacam ini dikenal sebagai shocked minerals atau mineral yang menunjukkan jejak tekanan kejut.

Struktur mikroskopis pada mineral tersebut dapat terbentuk ketika batuan mengalami tekanan sangat tinggi, seperti yang dihasilkan oleh tumbukan benda langit berkecepatan tinggi.

Bukti mineral tersebut kemudian dipadukan dengan citra seismik yang memperlihatkan struktur internal kawah. Data seismik memungkinkan para ilmuwan memetakan lapisan batuan di bawah dasar laut melalui analisis gelombang suara yang dipantulkan dari berbagai lapisan geologi.

Gabungan bukti mineral dan citra seismik menjadi faktor penting dalam memperkuat hipotesis bahwa Silverpit terbentuk akibat tumbukan asteroid atau komet.

Bagaimana Tumbukan Asteroid Menghasilkan Tsunami 100 Meter?

Menurut rekonstruksi penelitian, benda langit yang menghantam Laut Utara memiliki lebar sekitar 160 meter dan datang dari arah barat dengan sudut tumbukan relatif rendah.

Dalam hitungan menit setelah tumbukan, material batuan dan air diperkirakan terlontar hingga membentuk kolom setinggi sekitar 1,5 kilometer. Ketika material tersebut kembali jatuh ke laut, perpindahan air dalam jumlah sangat besar memicu tsunami dengan ketinggian lebih dari 100 meter.

Nicholson menjelaskan bahwa tumbukan tersebut menciptakan semburan batuan dan air yang kemudian runtuh kembali ke laut, menghasilkan gelombang raksasa.

Tsunami akibat tumbukan asteroid berbeda dari gelombang biasa yang dibangkitkan angin. Gelombang tsunami terbentuk ketika massa air mengalami perpindahan secara mendadak, misalnya akibat gempa bumi, longsoran bawah laut, atau tumbukan benda langit.

Meski demikian, angka lebih dari 100 meter merupakan perkiraan berdasarkan simulasi komputer dan rekonstruksi ilmiah. Tidak ada pengukuran langsung yang dilakukan saat peristiwa itu berlangsung karena tumbukan terjadi puluhan juta tahun sebelum manusia modern muncul.

Karena itu, angka tersebut perlu dipahami sebagai hasil pemodelan mengenai dampak tumbukan purba, bukan ukuran gelombang yang tercatat secara langsung.

Tidak Sebesar Asteroid Pemusnah Dinosaurus

Walaupun menghasilkan dampak luar biasa, asteroid pembentuk Silverpit jauh lebih kecil daripada benda langit yang dikaitkan dengan kepunahan massal dinosaurus non-unggas sekitar 66 juta tahun lalu.

Tumbukan yang membentuk Kawah Chicxulub di wilayah Semenanjung Yucatán, Meksiko, melibatkan asteroid berukuran beberapa kilometer. Peristiwa itu dikaitkan dengan perubahan lingkungan global dan kepunahan sekitar 75 persen spesies tumbuhan serta hewan pada masa tersebut.

Sebaliknya, dampak Silverpit diperkirakan lebih bersifat regional, meskipun gelombang tsunami yang dihasilkan tetap sangat besar. Kedua peristiwa tersebut menunjukkan bahwa dampak benda langit dapat sangat berbeda, bergantung pada ukuran objek, kecepatan, sudut tumbukan, dan lokasi tabrakan.

Silverpit juga menambah daftar struktur tumbukan yang telah dikonfirmasi di Bumi. Kawah semacam ini relatif jarang ditemukan karena aktivitas tektonik, erosi, dan perubahan geologi terus mengubah permukaan planet selama jutaan tahun.

Pelajaran dari Tumbukan Purba

Konfirmasi asal-usul Silverpit tidak berarti ada asteroid besar yang sedang menuju Laut Utara. Penelitian ini merekonstruksi kejadian geologi pada masa lampau dan membantu ilmuwan memahami bagaimana tumbukan benda langit memengaruhi lautan serta kerak Bumi.

Temuan tersebut juga memperlihatkan pentingnya menggabungkan berbagai metode penelitian. Data seismik memberikan gambaran struktur bawah permukaan, sementara analisis mineral membantu mengidentifikasi jejak tekanan ekstrem yang sulit dijelaskan melalui proses geologi biasa.

Dengan bukti tersebut, Kawah Silverpit kini menjadi salah satu lokasi penting untuk mempelajari dampak tumbukan asteroid di lingkungan laut.

Penelitian ini memberikan gambaran tentang betapa besar energi yang dapat dilepaskan ketika benda langit menghantam Bumi. Meski peristiwa Silverpit terjadi puluhan juta tahun lalu, rekonstruksi ilmiahnya tetap relevan untuk memahami sejarah geologi planet dan potensi dampak tumbukan benda langit di masa mendatang.