PROGRES.ID – Dalam sehari, Norwegia berpindah dari panggung pujian ke sasaran amarah Presiden AS Donald Trump. Setelah menyebut negara itu “sh*thouse” dalam kampanye di Michigan, Oslo membalas dengan pesan yang tenang: pemerintah Norwegia tidak menentukan siapa pemenang Nobel Perdamaian.

Pujian Sabtu, Hujatan Minggu

Perubahan nada Trump terjadi cepat. Sehari sebelumnya, dalam acara di Georgia, Trump justru menjadikan Norwegia contoh sumber imigran yang diinginkan, sambil menghina Libya, Yaman, Haiti, dan Somalia.

Pada Minggu (25/10/2026), arah angin berbalik. Di hadapan pendukung di Michigan, Trump berkata ia tidak jatuh cinta pada Norwegia, menyebut negara itu “payah”, lalu melontarkan julukan kasar tersebut. Ia juga mengancam AS akan menerima lebih sedikit imigran Norwegia. Pernyataan itu muncul saat Trump menyinggung bahwa ia tidak menerima Nobel Perdamaian tahun ini.

Ketegangan dipicu keputusan Komite Nobel bulan ini yang memberi penghargaan kepada hakim Afrika Selatan, Navi Pillay. Trump menyebut keputusan itu “noda yang tak terhapuskan” bagi Norwegia. Ia juga menggambarkan Pillay sebagai perempuan yang tidak dikenal siapa pun. Trump kembali mengklaim layak menang karena menyelesaikan “delapan perang”. Namun, sejumlah konflik yang ia sebut masih belum tuntas.

Jawaban Oslo: Kami Tidak Memilih

Pada Senin (26/10/2026), Menteri Luar Negeri Espen Barth Eide tampil di radio NRK. Ia mengatakan Trump tahu betul bahwa Komite Nobel bersifat independen. Eide menilai ledakan emosi itu terkait tekanan musim kampanye.

Menurutnya, Trump pada dasarnya meminta partainya memikul sesuatu yang jelas membuat mereka tidak nyaman, demi membantu satu kandidat. Menlu Norwegia dan Komite Nobel Norwegia sama-sama menekankan bahwa hadiah itu diputuskan terlepas dari pemerintah.

Bukan Kali Pertama

Pola ini bukan hal baru. Pada Januari, Trump mengirim pesan kepada Perdana Menteri Jonas Gahr Støre yang menyatakan ia tidak lagi merasa wajib “berpikir murni soal perdamaian” setelah gagal menang Nobel. Støre menjawab bahwa hadiah itu diberikan oleh komite independen.

Beberapa hari sebelumnya, pemimpin oposisi Venezuela María Corina Machado menyerahkan medali Nobelnya kepada Trump di Gedung Putih. Komite Nobel menegaskan bahwa pemegang medali tidak mengubah status peraih hadiah yang tercatat dalam sejarah.

Ada Ketegangan Lain: Dana Kekayaan Negara

Perselisihan ini juga berlangsung di latar belakang yang lebih luas. Norwegia dan AS sempat berbeda soal keputusan investasi dana kekayaan negara Norwegia senilai 2,3 triliun dolar AS, yang dikritik sekutu Trump. Sementara itu, Norwegia, anggota NATO yang berbatasan dengan Rusia, meningkatkan kerja sama pertahanan dengan Eropa.

Bagi Norwegia, isu utamanya bukan hinaan itu sendiri, melainkan salah paham soal siapa yang memutuskan Nobel Perdamaian. Pemerintah berulang kali menyatakan tidak memiliki peran. Bagi Washington, pernyataan Trump menandai babak baru dalam hubungannya dengan Oslo yang tampak makin naik-turun.

 

Artikel ini dikurasi dan diperkaya dari laporan Reality Tea, Newser, People (via Yahoo), Clash Report, dan Reuters yang dikutip media tersebut, per Selasa, 27 Oktober 2026.