PROGRES.ID – Antrean mengular di depan tempat pemungutan suara (TPS) di seluruh Israel pada Selasa (27/10/2026). Warga memadati TPS untuk pemilu pertama sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dan perang berikutnya di Gaza, Lebanon, dan Iran, sementara para pemilih menyebutnya pemilu paling menentukan dalam sejarah negara itu. Hasil resmi belum keluar saat artikel ini ditulis.
Laju Partisipasi Tercepat dalam Hampir 50 Tahun
TPS dibuka pukul 07.00 dan ditutup pukul 22.00 waktu setempat. Komisi Pemilihan Pusat mencatat 16,7 persen pemilih sudah memberikan suara dalam tiga jam pertama, laju awal tercepat sejak 1981. Dalam lima jam pertama, angkanya mencapai 31,5 persen. Menurut Reuters, ini laju partisipasi tercepat sejak pemilu 1977 yang dikenal sebagai “pergolakan” dan membawa kubu kanan berkuasa untuk pertama kalinya. Ada sekitar 7,3 juta warga yang berhak memilih.
Dua Narasi yang Bertarung
Bagi kubu Netanyahu, pemilu ini soal kepemimpinan di masa perang. Ia membela rekamnya dengan menyebut diri satu-satunya pemimpin yang punya keteguhan menghadapi musuh Israel, dan berkampanye dengan dukungan Presiden AS Donald Trump. Netanyahu adalah pemimpin terlama Israel dengan 19 tahun berkuasa.
Bagi para pengkritiknya, kebijakan koalisi kanan itu memecah belah dan membuat Israel kian terisolasi secara internasional. Banyak lawan Netanyahu menilai pemilu ini berpusat pada pertanggungjawaban atas kegagalan keamanan 7 Oktober. Penantang utamanya adalah mantan Kepala Staf Militer Gadi Eisenkot. Ia sempat masuk kabinet perang Netanyahu setelah 7 Oktober, tetapi mundur setelah delapan bulan karena mengkritik kepemimpinannya. Eisenkot juga berjanji mengakhiri pengecualian de facto wajib militer bagi kaum ultra-Ortodoks.
Variabel Kunci: Suara Warga Arab Israel
Lebih dari lima jam setelah TPS dibuka, Netanyahu mengirim pesan kepada pendukungnya agar memilih, dengan alasan partisipasi tinggi terjadi di kalangan lawan kiri dan warga Arab, sekitar seperlima penduduk. Sebelumnya ia berulang kali memperingatkan basisnya soal tingginya partisipasi warga Arab, dengan slogan “Right or Palestine”. Kandidat Ahmad Tibi menyebut warga Arab memilih dalam jumlah “belum pernah terjadi sebelumnya”.
Peta koalisi juga pelik. Eisenkot menolak bermitra dengan partai Arab karena perbedaan nilai, meski sebagian skenario membayangkan mereka menopang pemerintahan minoritas demi menyingkirkan Netanyahu.
Mengapa 61 Kursi Begitu Sulit
Knesset punya 120 kursi, dan belum ada satu partai pun yang pernah meraih 61 kursi, sehingga Israel selalu diperintah koalisi. Partai kecil membutuhkan 3,25 persen suara untuk lolos.
Survei akhir sebelum masa tenang menunjukkan persaingan ketat, dengan hasil yang tidak seragam:
| Lembaga | Hasil |
|---|---|
| Kan, Channel 12, Channel 13 | Yashar (Eisenkot) unggul 22-23 kursi; blok oposisi unggul 2-6 kursi |
| Channel 12 | Blok anti-Netanyahu 70 kursi (termasuk 14 kursi partai Arab), blok koalisi 50 kursi |
| i24NEWS (Direct Polls) | Blok Netanyahu 59 kursi, Likud 26, Yashar 21 |
| Channel 14 (pro-Netanyahu) | Likud 30 kursi, Eisenkot sekitar 20 |
Dalam survei Kan soal kecocokan sebagai perdana menteri, Eisenkot unggul 44 persen berbanding 38 persen. Namun, tidak ada survei yang memproyeksikan salah satu blok mencapai 61 kursi.
Faktor Pemilih Baru dan Tuduhan Integritas
Channel 12 memperkirakan lebih dari setengah juta pemilih pemula, yang bisa menentukan 10 hingga 12 kursi. Di sisi lain, para pengkritik mengatakan Netanyahu mungkin mencoba meragukan integritas pemungutan suara, tuduhan yang dibantah kantornya.
Di Ramat Gan, dekat Tel Aviv, pemilih kiri berusia 81 tahun, Ruth Epstein, mengatakan pemilu ini yang terpenting dari semua yang ia ketahui.
Apa Selanjutnya
Hasil exit poll stasiun televisi dijadwalkan terbit pukul 22.00 waktu Israel (sekitar 03.00 WIB, Rabu), dan hasil resmi dikonfirmasi pada 4 November. Karena survei menunjukkan kebuntuan, negosiasi koalisi diperkirakan menentukan siapa yang memimpin Israel berikutnya.
Artikel ini ditulis ulang dari laporan Reuters dan diperkaya dari Time, CNN, NBC News, Times of Israel/Jerusalem Post, Israel National News, i24NEWS, dan Ynet per Selasa, 27 Oktober 2026. Kondisi dapat berubah seiring hasil penghitungan.

Komentar