PROGRES.ID, WASHINGTON – Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) tengah menyelidiki dugaan serangan siber yang menyebabkan gangguan pada sistem pendingin makanan di sejumlah fasilitas militer negara tersebut. Insiden yang terjadi pada Agustus 2026 itu diduga melibatkan peretas yang berhasil mengubah pengaturan suhu freezer secara ilegal.

Penyelidikan dilakukan setelah sedikitnya enam toko kebutuhan militer atau military commissary mengalami gangguan sistem pendingin. Akibatnya, sejumlah persediaan makanan beku dan produk lainnya mengalami kerusakan karena suhu penyimpanan meningkat secara tidak normal.

Laporan Reuters pada Kamis (29/10/2026) menyebutkan bahwa empat pejabat yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan Pentagon kini memperlakukan serangkaian kerusakan freezer itu sebagai dugaan peretasan.

Kasus ini menarik perhatian karena gangguan tidak sekadar membuat perangkat pendingin berhenti bekerja. Dalam salah satu kejadian, sistem freezer justru diduga diubah ke mode pencairan atau defrost, sehingga suhu meningkat dan makanan yang disimpan menjadi rusak.

Penyelidikan melibatkan sejumlah unit keamanan siber dan penegak hukum militer AS. Hingga kini, pemerintah Amerika belum mengungkap pelaku maupun memastikan negara atau kelompok yang bertanggung jawab atas insiden tersebut.

Enam Fasilitas Militer AS Terdampak

Gangguan sistem pendingin dilaporkan terjadi di sedikitnya enam toko kebutuhan militer yang berada di sejumlah instalasi militer Amerika Serikat.

Salah satu kejadian yang menjadi perhatian berlangsung di Fort Huachuca, Arizona.

Melalui akun media sosial resminya pada 26 Agustus, pihak Fort Huachuca menjelaskan bahwa freezer di fasilitas commissary mereka masuk ke mode defrost. Akibatnya, sistem justru memanaskan makanan yang tersimpan di dalam perangkat pendingin tersebut.

Kondisi itu menyebabkan persediaan makanan tidak lagi layak disimpan maupun dijual.

Commissary merupakan toko kebutuhan sehari-hari yang berada di lingkungan instalasi militer dan melayani anggota militer, keluarga mereka, serta kelompok lain yang memiliki hak berbelanja di fasilitas tersebut.

Karena itu, gangguan pada sistem penyimpanan makanan berpotensi memengaruhi kebutuhan logistik personel militer dan keluarga yang tinggal di lingkungan pangkalan.

Laporan Task & Purpose menyebutkan bahwa sejumlah instalasi militer dari Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara turut mengalami gangguan serupa.

Meski demikian, belum ada keterangan resmi mengenai total kerugian akibat kerusakan persediaan makanan tersebut.

Iran Diduga Terlibat, tetapi Belum Ada Konfirmasi Resmi

Di tengah penyelidikan, muncul dugaan bahwa kelompok peretas yang memiliki hubungan dengan Iran berada di balik serangkaian insiden tersebut.

Laporan Nextgov/FCW pada 29 Oktober mengutip dua sumber yang mengetahui persoalan itu. Keduanya menyebut pejabat Amerika mencurigai adanya keterlibatan peretas yang terkait dengan Iran.

Jika dugaan tersebut terbukti, insiden ini akan menunjukkan bahwa serangan siber dapat digunakan untuk mengganggu fasilitas pendukung militer Amerika, bahkan melalui perangkat yang tidak secara langsung berkaitan dengan sistem persenjataan.

Namun, dugaan keterlibatan Iran masih belum menjadi kesimpulan resmi penyelidikan.

Pentagon belum mengumumkan identitas pelaku ataupun memberikan bukti yang menghubungkan pemerintah Iran dengan gangguan freezer di fasilitas militer tersebut.

Karena itu, keterlibatan Iran masih harus diperlakukan sebagai dugaan yang sedang diperiksa, bukan fakta yang telah dipastikan.

Pentagon Libatkan Unit Keamanan Siber dan Penegak Hukum

Kasus ini kini ditangani melalui koordinasi sejumlah lembaga pemerintah Amerika Serikat.

Pentagon menyatakan bahwa salah satu unit Cyber Command sedang bekerja sama dengan berbagai lembaga pemerintah dan aparat penegak hukum untuk menyelidiki persoalan tersebut.

Selain itu, Defense Criminal Investigative Service (DCIS), lembaga investigasi kriminal di bawah inspektorat jenderal Departemen Pertahanan, memimpin penyelidikan gabungan.

Army Criminal Investigation Division (Army CID) juga dilibatkan melalui unit Cyber Field Office.

Juru bicara Army CID Thomas Hamilton mengatakan pihaknya bekerja sama dengan Defense Commissary Agency dan DCIS untuk mengetahui penyebab gangguan sistem pendingin di fasilitas militer.

Pihak Pentagon sendiri belum bersedia mengungkapkan rincian penyelidikan dengan alasan keamanan dan proses penegakan hukum yang masih berlangsung.

Belum diketahui apakah para penyelidik telah menemukan celah keamanan tertentu yang digunakan untuk mengakses sistem pengendali suhu freezer.

Penyelidikan Berkaitan dengan Serangan Freezer di Prancis

Menariknya, penyelidikan Amerika Serikat juga bersinggungan dengan serangkaian gangguan sistem pendingin yang terjadi di Prancis.

Pada Oktober ini, sejumlah supermarket dan fasilitas komersial di Prancis dilaporkan mengalami serangan siber terhadap perangkat pengendali pendingin.

Menurut laporan Reuters, serangan tersebut memengaruhi lebih dari 350 lokasi usaha. Peretas diduga berhasil mengambil alih pengaturan suhu perangkat pendingin sehingga makanan beku mengalami kerusakan.

Dalam beberapa kasus, suhu perangkat bahkan meningkat sangat tinggi hingga menyebabkan unit pendingin terbakar.

Pejabat militer Amerika Serikat diketahui telah menjalin komunikasi dengan aparat Prancis untuk memahami pola serangan tersebut.

Meski terdapat kemiripan metode, belum ada bukti yang memastikan bahwa insiden di pangkalan militer AS dan serangan terhadap supermarket di Prancis dilakukan oleh kelompok yang sama.

Penyelidikan lintas negara tersebut diharapkan dapat membantu mengidentifikasi kemungkinan kerentanan pada teknologi pengendali pendingin yang terhubung dengan jaringan digital.

Sistem Pendingin Jadi Ancaman Baru Keamanan Siber

Kasus ini memperlihatkan bahwa ancaman keamanan siber tidak selalu menyasar komputer pemerintahan, jaringan komunikasi militer, maupun sistem persenjataan.

Perangkat industri yang mengendalikan fasilitas sehari-hari juga dapat menjadi sasaran serangan apabila terhubung dengan internet dan memiliki perlindungan keamanan yang lemah.

Reuters mengutip penjelasan Bill Moore, CEO perusahaan keamanan siber industri Xona Systems, yang menyoroti meningkatnya risiko ketika perangkat pengendali yang awalnya dirancang untuk dioperasikan secara lokal mulai terhubung ke jaringan internet.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah penggunaan perangkat lama dengan firmware yang tidak diperbarui.

Perusahaan Denmark, Danfoss, sebelumnya menyampaikan bahwa sejumlah pengendali sistem pendingin yang mengalami serangan di Eropa merupakan perangkat usang atau menggunakan firmware versi lama. Kondisi tersebut berpotensi mempermudah akses ilegal.

Namun, Reuters belum dapat memastikan apakah perangkat pengendali buatan Danfoss digunakan pada freezer di pangkalan militer Amerika yang terdampak.

Jika dugaan peretasan ini terbukti, insiden tersebut menjadi peringatan bahwa keamanan infrastruktur pendukung militer perlu mendapat perhatian setara dengan sistem pertahanan utama.

Gangguan pada penyimpanan makanan mungkin terlihat sederhana. Akan tetapi, apabila serangan digital mampu melumpuhkan rantai pasokan kebutuhan dasar, dampaknya dapat meluas terhadap kesiapan operasional dan kesejahteraan personel militer.

Penyelidikan Pentagon kini menjadi penting untuk mengetahui apakah kerusakan freezer tersebut merupakan gangguan teknis biasa atau bagian dari upaya sabotase melalui serangan siber.