PROGRES.ID — Partai-partai politik yang mewakili warga Arab Palestina di Israel berpotensi mencatat pencapaian bersejarah dalam pemilu parlemen 2026. Hasil exit poll yang dirilis sejumlah stasiun televisi Israel memperkirakan dua kekuatan politik utama dari kelompok tersebut, yakni Joint List dan Ra’am, dapat mengumpulkan total 18 kursi di Knesset, parlemen Israel yang memiliki 120 anggota.

Proyeksi itu menjadi sorotan karena jumlah tersebut akan melampaui perolehan gabungan kedua partai pada periode parlemen sebelumnya. Berdasarkan laporan The Times of Israel dan The Jerusalem Post, Joint List diperkirakan memperoleh 10–11 kursi, sedangkan Ra’am atau United Arab List diproyeksikan meraih tujuh kursi.

Jika angka tersebut bertahan hingga penghitungan resmi selesai, partai-partai Arab akan mencatat representasi yang belum pernah dicapai sebelumnya dalam sejarah pemilu Israel. Namun, angka 18 kursi saat ini masih berupa proyeksi exit poll, bukan hasil akhir yang telah disahkan oleh Komite Pemilihan Umum Israel.

Peningkatan dukungan tersebut juga muncul bersamaan dengan kenaikan partisipasi pemilih dari komunitas Arab Palestina yang memiliki kewarganegaraan Israel. Perkembangan ini berpotensi mengubah perhitungan politik dalam pembentukan pemerintahan berikutnya, terutama karena kubu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan kelompok oposisi sama-sama belum memiliki mayoritas yang jelas dalam sejumlah proyeksi awal.

Exit poll: Joint List dan Ra’am diproyeksikan meraih 18 kursi

Laporan sejumlah media Israel menunjukkan hasil yang relatif berdekatan, meskipun terdapat perbedaan dalam proyeksi jumlah kursi.

Sumber

Joint List Ra’am Total
Channel 11 (Kan)

11

7

18

Channel 12

11

7

18

Channel 13

10

7

17

Sumber: Israel Hayom dan The Jerusalem Post, laporan exit poll pemilu 27 Oktober 2026.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan representasi politik warga Arab Palestina di Israel bukan sekadar muncul dalam satu survei. Beberapa lembaga penyiaran memberikan proyeksi yang serupa, yakni gabungan 17 hingga 18 kursi bagi kedua partai.

Perlu dicatat, hasil exit poll merupakan perkiraan berdasarkan survei terhadap pemilih setelah memberikan suara. Perolehan akhir dapat berubah ketika seluruh surat suara dihitung dan hasil resmi diumumkan.
Mengapa perolehan 18 kursi menjadi bersejarah?

Knesset memiliki 120 kursi, sehingga setiap tambahan kursi dapat memengaruhi keseimbangan kekuatan politik. Jika memperoleh total 18 kursi, Joint List dan Ra’am akan menguasai 15 persen dari keseluruhan kursi parlemen.

Menurut The Times of Israel, kedua partai tersebut sebelumnya memiliki total 10 kursi di Knesset. Dengan demikian, proyeksi 18 kursi menunjukkan potensi peningkatan delapan kursi dibandingkan komposisi parlemen sebelumnya.

Peningkatan tersebut penting karena partai-partai Arab selama ini menghadapi hambatan dalam membangun koalisi pemerintahan. Walaupun memiliki perwakilan di parlemen, mereka kerap berada di luar pemerintahan yang dibentuk oleh partai-partai Yahudi.

Namun, pengaruh politik tidak hanya ditentukan oleh jumlah kursi. Kemampuan menjalin kesepakatan dengan partai lain, menentukan dukungan terhadap calon perdana menteri, serta memengaruhi agenda kebijakan juga akan menentukan sejauh mana perolehan tersebut dapat diterjemahkan menjadi kekuatan politik nyata.

Tingkat partisipasi pemilih Arab meningkat tajam

Salah satu faktor yang disorot media internasional adalah meningkatnya partisipasi pemilih dari komunitas Arab Palestina di Israel.

Al Jazeera, mengutip laporan Channel 12, menyebut partisipasi di komunitas tersebut diperkirakan mencapai sekitar 80 persen. Angka awal itu disebut melampaui rekor partisipasi pada 1999. Sementara itu, partisipasi pemilih secara nasional dilaporkan mencapai 77,7 persen, tingkat tertinggi sejak 1999 menurut data Komite Pemilihan Umum Israel.

Kenaikan partisipasi tersebut menjadi perkembangan penting karena tingkat keikutsertaan pemilih Arab sebelumnya kerap menjadi salah satu faktor yang menentukan perolehan kursi partai-partai yang mewakili komunitas tersebut.

Partisipasi yang tinggi dapat memperbesar peluang partai-partai Arab memperoleh dukungan elektoral. Namun, hubungan antara tingkat kehadiran pemilih dan jumlah kursi tetap bergantung pada distribusi suara, ambang batas elektoral, serta metode pembagian kursi dalam sistem pemilu Israel.

Dengan demikian, angka partisipasi yang tinggi memberikan konteks bagi peningkatan proyeksi kursi, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh penyebab perubahan hasil pemilu.

Siapa Joint List dan Ra’am?

Dua kekuatan politik yang menjadi sorotan dalam pemilu ini memiliki latar belakang dan pendekatan politik yang berbeda.

Joint List merupakan aliansi politik yang mencakup Hadash, Ta’al, dan Balad. Aliansi ini menyatukan kelompok dengan orientasi politik kiri, nasionalisme Arab, dan nasionalisme Palestina. Perbedaan ideologi di antara anggotanya membuat Joint List menjadi wadah berbagai kepentingan politik warga Arab di Israel.

Sementara itu, Ra’am, yang dipimpin Mansour Abbas, dikenal sebagai partai Arab yang pernah mengambil bagian dalam koalisi pemerintahan Israel pada 2021–2022. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa partai Arab dapat memainkan peran dalam pembentukan pemerintahan, meskipun keterlibatan mereka masih menjadi persoalan kontroversial dalam politik Israel.

Kedua partai memiliki kepentingan yang berkaitan dengan representasi warga Arab, tetapi tidak selalu memiliki strategi yang sama dalam menghadapi partai-partai Yahudi maupun menentukan dukungan terhadap pemerintahan.

Partai Arab berpotensi menjadi penentu pembentukan pemerintahan

Proyeksi 18 kursi membuat posisi partai-partai Arab menjadi semakin penting dalam negosiasi politik pascapemilu.

Dalam hasil exit poll yang diperbarui, kubu Netanyahu dan blok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot masing-masing diproyeksikan memperoleh 51 kursi. Sementara itu, Joint List dan Ra’am diperkirakan menguasai 18 kursi.

Tidak satu pun dari dua blok utama tersebut mencapai ambang mayoritas 61 kursi. Karena itu, dukungan partai-partai di luar kedua blok dapat memengaruhi proses pembentukan pemerintahan.

Pemimpin Ra’am, Mansour Abbas, mengatakan kepada Channel 12 bahwa kedua kubu telah menghubungi partainya. Ia juga menyatakan bahwa berdasarkan angka sementara yang tersedia, belum ada pemerintahan yang memiliki dukungan cukup.

Meski demikian, besarnya perolehan kursi tidak otomatis membuat partai-partai Arab menjadi bagian dari kabinet. Sejumlah pemimpin oposisi sebelumnya menyatakan tidak akan membentuk koalisi bersama partai-partai Arab. Sikap tersebut berpotensi menyulitkan upaya membangun pemerintahan alternatif meskipun kedua partai Arab memperoleh dukungan besar.

Dengan demikian, peran mereka dapat berupa dukungan terhadap pemerintahan dari luar koalisi, keterlibatan dalam negosiasi politik, atau tetap berada di luar pemerintahan.

Hasil pemilu masih menunggu penghitungan resmi

Meski sejumlah exit poll menunjukkan perolehan gabungan hingga 18 kursi, hasil tersebut belum menjadi keputusan final.

Komite Pemilihan Umum Israel masih harus menyelesaikan penghitungan suara sebelum komposisi Knesset yang baru dapat ditetapkan. Media Israel melaporkan hasil resmi diperkirakan diumumkan pada awal November 2026, dengan 4 November disebut sebagai tanggal perkiraan.

Perbedaan antara exit poll dan hasil penghitungan resmi dapat memengaruhi jumlah kursi setiap partai, terutama jika persaingan berada di sekitar ambang batas elektoral. Oleh sebab itu, klaim mengenai rekor 18 kursi harus tetap dikaitkan dengan proyeksi survei sampai hasil akhir tersedia.

Jika proyeksi tersebut terkonfirmasi, pencapaian ini akan menjadi tonggak penting bagi representasi politik warga Arab Palestina di Israel. Namun, dampaknya terhadap kebijakan dan pembentukan pemerintahan baru masih akan ditentukan oleh negosiasi setelah pemilu.