PROGRES.ID – Konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran memasuki babak berdarah. Tiga personel militer Amerika dilaporkan tewas dan lima lainnya mengalami luka serius saat terlibat dalam operasi gabungan AS–Israel terhadap Iran.
Kabar ini diumumkan langsung oleh Pentagon pada Minggu, menjadikannya korban pertama dari pihak Amerika sejak serangan besar-besaran dimulai pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Operasi militer tersebut, menurut Presiden Donald Trump, bertujuan mendorong perubahan kepemimpinan di Iran dan melumpuhkan kemampuan militer negara tersebut.
CENTCOM: Operasi Tempur Masih Berlangsung
Dalam pernyataan resmi yang diunggah di media sosial, United States Central Command (CENTCOM) menyebut selain korban tewas dan luka berat, sejumlah personel lainnya mengalami cedera ringan akibat serpihan ledakan dan gegar otak.
Sebagian dari mereka kini tengah menjalani proses pemulihan dan dipersiapkan untuk kembali bertugas.
“Operasi tempur skala besar masih berlangsung dan upaya respons kami terus berjalan,” demikian pernyataan CENTCOM.
Pihak militer AS juga menegaskan bahwa informasi lebih rinci, termasuk identitas prajurit yang gugur, belum akan diumumkan hingga 24 jam setelah keluarga terdekat menerima pemberitahuan resmi.
Iran Balas dengan Rentetan Rudal

Pengumuman korban dari pihak AS muncul di tengah gelombang serangan balasan Iran. Dalam 48 jam terakhir, Teheran dilaporkan meluncurkan sejumlah rudal ke pangkalan-pangkalan militer AS di berbagai wilayah Timur Tengah.
Media pemerintah Iran, mengutip Bulan Sabit Merah, menyatakan bahwa sedikitnya 201 orang tewas dan lebih dari 700 lainnya terluka akibat pemboman yang dilakukan AS dan Israel di berbagai kota Iran.
Angka tersebut belum diverifikasi secara independen.
Pemimpin Tertinggi Iran Gugur
Di tengah eskalasi konflik, Iran juga mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei, gugur dalam gelombang serangan awal operasi militer tersebut.
Khamenei telah memimpin Iran selama lebih dari tiga dekade dan menjadi figur sentral dalam kebijakan luar negeri serta strategi pertahanan negara itu.
Kematian tokoh kunci tersebut diperkirakan akan berdampak besar terhadap stabilitas politik Iran dan dinamika konflik yang sedang berlangsung.
Konflik Memanas, Dunia Waspada
Dengan jatuhnya korban di kedua belah pihak dan serangan balasan yang terus berlanjut, situasi di Timur Tengah semakin tidak menentu. Ketegangan antara AS, Israel, dan Iran kini berisiko meluas menjadi konflik regional yang lebih besar.
Dunia internasional pun menyerukan penahanan diri dari semua pihak guna mencegah eskalasi yang dapat mengancam stabilitas global, termasuk pasar energi dan keamanan kawasan.












