Bisnis  

Sempat Naik 1.500%, Saham DADA Kini Terjun Bebas! Ini Penjelasan Analis Pasar

favicon progres.id
ilustrasi trading saham
Ilustrasi perdagangan saham di bursa efek (Pexels)

PROGRES.ID – Pergerakan saham PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) kembali menjadi sorotan. Setelah sempat meroket tajam, kini saham properti ini justru terjun bebas hingga Auto Rejection Bawah (ARB) selama dua hari berturut-turut.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), pada Senin (13/10/2025), saham DADA ditutup anjlok 14,47 persen ke level Rp130 per saham dengan nilai transaksi mencapai Rp13,63 miliar. Di kolom offer, terdapat antrean jual mencapai 6,93 juta lot di harga ARB—setara dengan Rp90,12 miliar. Kapitalisasi pasar (market cap) DADA kini tinggal Rp966 miliar.

Padahal, hanya beberapa hari sebelumnya, saham DADA sempat menyentuh Rp240 per saham pada Jumat (10/10/2025). Lonjakan cepat itu terjadi tidak lama setelah emiten ini resmi keluar dari papan pemantauan khusus atau Full Call Auction (FCA).

Mengapa DADA Sempat Masuk ke Papan FCA?

Saham DADA sebelumnya masuk dalam papan FCA karena dua alasan utama:

  • Harga rata-rata saham di pasar reguler sempat berada di bawah Rp51 per saham.
  • Likuiditasnya tergolong sangat rendah, dengan nilai transaksi harian di bawah Rp5 juta dan volume kurang dari 10.000 saham selama tiga bulan terakhir.

Sejak akhir 2021, harga saham DADA sudah tertekan hingga di bawah level gocap. Kondisi makin sulit setelah aturan baru BEI diberlakukan pada 2023, yang membuat harga sempat jatuh ke titik terendah di Rp4 per saham pada Maret–April 2024.

Namun, sejak Agustus 2025, saham ini melonjak tajam hingga menembus Rp240, atau naik lebih dari 1.500% sepanjang tahun 2025—kenaikan fantastis yang diduga kuat dipicu oleh rumor pasar.

Analis Curiga Ada “Pump and Dump”

Mengutip IDXChannel.com, Founder WH Project, William Hartanto menjelaskan, pola pergerakan saham DADA menunjukkan indikasi kuat adanya praktik “pump and dump” atau pompom.

“Saya melihat ada indikasi pump and dump, meski distribusinya tidak terlalu besar,” ujar William, Senin (13/10/2025).

Istilah pump and dump atau yang populer di kalangan investor ritel sebagai “pompom saham”, adalah praktik manipulasi harga di mana sekelompok pihak menaikkan harga saham secara agresif melalui sentimen positif, lalu menjual saham mereka saat minat investor ritel sedang tinggi-tingginya.

William juga menyoroti munculnya sinyal negatif dari penurunan kepemilikan saham oleh pemegang lama, yang memicu aksi panic selling di pasar.

Data BEI menunjukkan, PT Karya Permata Inovasi Indonesia telah menjual sebagian besar sahamnya di DADA sebanyak 21 kali transaksi sejak Agustus hingga 29 September 2025.
Kepemilikannya pun menyusut dari 4,90 miliar lembar (65,96%) menjadi 4,35 miliar lembar (58,57%).

Rumor “Fantastis” Rp230.000 per Saham dan Investor Asing Lirik Backdoor Listing

Di tengah volatilitas tinggi, muncul pula isu liar di sejumlah media online yang menyebut harga saham DADA berpotensi melonjak hingga Rp230.000 per saham. Rumor ini dikaitkan dengan kabar masuknya investor besar asing seperti Vanguard Group dari Amerika Serikat, serta dua konglomerat Jepang, Kajima dan Mitsubishi Corp, yang disebut akan berinvestasi melalui proyek besar di Indonesia.

Namun, William menegaskan rumor itu tidak bisa dipercaya.

“Target harga Rp230 ribu itu tidak masuk akal. Kalau informasi sebesar itu benar, pasti tidak mungkin bocor ke publik duluan,” tegasnya.

Manajemen DADA Klarifikasi: Tidak Ada Fakta Material Baru

Merespons volatilitas harga yang ekstrem, manajemen DADA menegaskan tidak mengetahui adanya informasi atau kejadian material yang dapat mempengaruhi pergerakan saham.

Dalam keterbukaan informasi tertanggal 30 September 2025, perseroan menyatakan tidak memiliki fakta baru sesuai ketentuan POJK No. 31/POJK.04/2015 dan Peraturan I-E BEI.
Manajemen juga menegaskan tidak ada perubahan kepemilikan saham yang wajib dilaporkan ke OJK.

Dari sisi bisnis, DADA menyebut tengah melanjutkan serah terima unit proyek Apple 3 serta mempersiapkan pembukaan area komersial Plaza Convill sebagai bagian dari strategi pertumbuhan.

Selain itu, berdasarkan hasil RUPS dan public expose pada 4 September 2025, pemegang saham utama akan mengevaluasi kepemilikan saham dalam tiga bulan ke depan.

Kesimpulan

Dengan volatilitas tinggi, rumor bombastis, dan indikasi praktik pump and dump, saham DADA kini berada di titik krusial. Investor diimbau tetap waspada dan melakukan riset mendalam sebelum mengambil keputusan investasi.

Disclaimer: Keputusan investasi saham sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *