PROGRES.ID – Di antara film horor lokal yang menggarap mitologi daerah, Kuyank termasuk judul yang ramai dibicarakan sejak tayang awal tahun ini. Film produksi Darihati Films itu menjadikan legenda urban Kalimantan sebagai pusat cerita, sekaligus memperluas semesta horor Saranjana. Berikut rangkuman lengkapnya.

Menurut Wikipedia Indonesia, Kuyank disutradarai Johansyah Jumberan, diproduksi Darihati Films, dan menjadi prekuel dari film Saranjana: Kota Gaib. Film ini dirilis di bioskop Indonesia pada 29 Januari 2026. Bahasa dalam film adalah Indonesia dan Banjar. Naskahnya ditulis Asaf Antariksa bersama Johansyah Jumberan.

Soal durasi, sumber berbeda. Wikipedia Indonesia mencatat 98 menit, sedangkan IMDb dan situs Suara.com menulis 1 jam 40 menit. Menurut Suara.com, Lembaga Sensor Film memberi film ini klasifikasi usia 13+.

Pemeran

Film ini dibintangi deretan aktor dan aktris ternama. Menurut data Bloody Disgusting dan Wikipedia, para pemain utamanya adalah:

Pemeran Peran
Rio Dewanto Badri
Putri Intan Kasela Rusmiyati
Ochi Rosdiana Fauziah
Jolene Marie Husnah
Dayu Wijanto Saidah
Barry Prima Utuh Ampong

Pemain lain meliputi Hazman Al-Idrus, Ananda George, Elizabeth Christine, dan Betari Ayu.

Tentang Apa Ceritanya?

Kisahnya berlatar tujuh tahun sebelum gerbang kota gaib Saranjana terbuka. Menurut Wikipedia Indonesia, Rusmiati adalah gadis kampung sederhana yang menikah dengan Badri, lelaki terpandang, meski ramalan menyebut pernikahan mereka akan membawa kesialan. Rumah tangga yang awalnya bahagia mulai goyah saat mereka tak kunjung dikaruniai anak.

Tekanan semakin berat ketika, menurut Wikipedia Banjar, mertua yang sejak awal menolak Rusmiati menyuruh Badri menikah lagi demi mendapatkan keturunan. Dihimpit rasa takut kehilangan suami dan martabat, Rusmiati menempuh jalan pintas dengan menuntut ajian Kuyang, ilmu hitam yang dipercaya memberi kecantikan dan keabadian. Ketika ajiannya terbongkar, amarah warga tak bisa dibendung.

Apa Itu Kuyang?

Menukil Detik.com, kuyang dikenal berwujud perempuan berambut panjang menjuntai yang bisa melepaskan kepalanya dari tubuh, dengan organ dalam seperti usus, jantung, dan hati menggantung di lehernya. Suara.com menambahkan bahwa makhluk mitologi Banjar ini dikenal memangsa bayi dan perempuan hamil.

Latar dan Produksi

Syuting dilakukan di sejumlah wilayah Kalimantan. Menurut Kaltengdaily, latarnya adalah Desa Sungai Tinggi, Nagara, Kecamatan Daha Utara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, wilayah tua Suku Banjar yang lekat dengan mitos dan kehidupan masyarakat sungai.

Sang sutradara, yang akrab disapa Uncle Jo, mengaku tidak melibatkan ritual mistis dalam proses syuting meski mengangkat legenda urban. Menurut Detik, ia menjaga produksi berjalan semaksimal mungkin secara profesional. Film ini juga diputar perdana dalam Special Screening Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-20 sebelum tayang di bioskop.

Capaian dan Respons

Dari sisi penonton, Kaltengdaily mencatat bahwa Kuyank meraih 57.356 penonton pada hari pertama dan 101.083 pada hari kedua penayangan.

Penilaian kritikus dan penonton beragam. IMDb mencatat skor 7,6 dari 10. Di Letterboxd, rata-ratanya 2,8 dari 5 berdasarkan 524 penilaian. Perbedaan ini menunjukkan film ini bukan tontonan yang disukai semua orang.

Satu ulasan di Letterboxd menilai teror yang dihasilkan tidak sekuat film pertama, Saranjana. Penulisnya juga mengaitkan film ini dengan upaya membangun sebuah “franchise” dengan harapan besar. Sebaliknya, Suara.com memuji representasi budaya Banjar yang kental, termasuk adat betapung tawar, dialog berbahasa Banjar dengan subtitle, dan mitos kuyang yang diadaptasi dengan hormat. Kaltengdaily membaca kuyang dalam film ini sebagai metafora tekanan sosial pada perempuan dalam pernikahan dan budaya patriarkal.

Di Mana Nonton?

Hingga artikel ini ditulis, Bloody Disgusting mencatat informasi streaming belum tersedia. Pembaca disarankan mengecek JustWatch atau platform streaming lokal untuk ketersediaan terbarunya.

Layak Ditonton?

Kalau Anda suka horor yang berpijak pada budaya lokal dan drama keluarga, Kuyank menawarkan keduanya. Kalau mengharapkan teror intens ala film pertama, sejumlah ulasan menyebut ekspektasi itu mungkin tidak sepenuhnya terpenuhi.