PROGRES.ID – Operasi militer terbaru Israel yang memicu ketegangan kembali dengan Iran berakhir dengan hasil yang mengecewakan bagi Tel Aviv. Kesimpulan tersebut disampaikan analis senior keamanan harian Israel, Ronen Bergman, yang menilai perkembangan 24 jam terakhir menunjukkan kegagalan strategis yang sulit dibantah.
Dalam analisisnya di surat kabar Yedioth Ahronoth, Bergman menyebut rangkaian peristiwa yang diawali keputusan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu melancarkan serangan ke wilayah selatan Beirut justru berujung pada situasi yang tidak menguntungkan bagi Israel.
Menurutnya, tidak diperlukan komisi investigasi khusus untuk memahami jalannya peristiwa tersebut. Ia menilai fakta-fakta yang muncul di lapangan sudah cukup menggambarkan siapa yang memulai eskalasi, siapa yang memberikan respons, dan siapa yang pada akhirnya menentukan kapan konfrontasi dihentikan.
Bergman menjelaskan bahwa serangan Israel ke kawasan Dahiyeh, Beirut selatan, tidak dapat dipandang sebagai operasi yang berdiri sendiri. Berdasarkan pengalaman selama pekan sebelumnya, pemerintah dan militer Israel disebut telah memahami bahwa setiap serangan besar di Lebanon berpotensi memicu respons langsung dari Iran.
Karena itu, ketika keputusan untuk menyerang diambil, Tel Aviv diyakini sudah mempertimbangkan kemungkinan Teheran akan turun tangan secara langsung.
“Serangan tersebut bukan hanya langkah terhadap Lebanon atau Hizbullah, tetapi tindakan yang berpotensi kembali menghubungkan front Lebanon dengan front Iran,” tulis Bergman.
Ia menilai langkah itu justru mengakhiri strategi pemisahan medan konflik yang selama ini diupayakan Israel. Sebaliknya, operasi tersebut menciptakan kondisi yang mempertemukan kembali berbagai front konflik dalam satu eskalasi yang saling terkait.
Menurut analisis tersebut, respons Iran dilakukan secara terukur dan mengikuti kalkulasi yang matang. Teheran meluncurkan serangan rudal ke sejumlah target yang dianggap berkaitan dengan operasi Israel di Lebanon, sekaligus mengirimkan pesan bahwa setiap serangan terhadap Beirut selatan akan dibalas secara langsung.
Bergman menilai tujuan utama Iran bukan memulai perang besar-besaran, melainkan membangun aturan main baru dalam konflik yang sedang berlangsung.
“Dari sudut pandang Iran, kemampuan merespons secara langsung, memilih target, waktu serangan, dan skala operasi lebih penting dibanding besarnya kerusakan fisik yang ditimbulkan,” tulisnya.
Ia menambahkan bahwa Teheran berhasil menutup putaran konflik tersebut dengan posisi yang relatif menguntungkan. Menurut Bergman, Iran pada akhirnya menjadi pihak yang menentukan ritme eskalasi, termasuk kapan serangan dihentikan dan bagaimana respons diberikan.
Analisis itu juga menyoroti bahwa penghentian konfrontasi tidak terjadi karena keputusan Israel, melainkan setelah Iran mencapai kesepahaman dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait gencatan senjata.
Kesepahaman tersebut, menurut Bergman, pada akhirnya diterima Israel meskipun bukan atas inisiatifnya sendiri.
“Dalam perspektif strategis dan psikologis, ini merupakan hasil yang problematis bagi Israel karena memungkinkan Iran mengklaim telah membalas serangan, tidak mundur, dan mengakhiri putaran konflik sesuai syarat yang ditentukannya sendiri,” tulis Bergman.
Pandangan tersebut mencerminkan meningkatnya perdebatan di dalam Israel mengenai efektivitas strategi pemerintah dalam menghadapi Iran dan perkembangan konflik di Lebanon, terutama setelah sejumlah analis dan media mulai mempertanyakan capaian nyata dari operasi militer yang dilakukan dalam beberapa bulan terakhir.












