Arab Saudi Minta AS Hentikan Blokade Hormuz, Iran Siap Tutup Jalur Laut Kedua?

favicon progres.id
kapal kecil Iran patroli selat hormuz
Kapal cepat Iran berpatroli di perairan Teluk Persia. (Foto: PressTV)

PROGRES.ID – Ketegangan di kawasan Teluk semakin meningkat setelah Arab Saudi mendesak Amerika Serikat untuk menghentikan blokade di Selat Hormuz dan kembali ke jalur diplomasi bersama Iran.

Dorongan tersebut muncul di tengah kekhawatiran bahwa langkah Washington dapat memicu respons balasan dari Teheran. Sejumlah pejabat Arab memperingatkan bahwa Iran berpotensi membuka “front kedua” dengan menutup jalur vital lain di kawasan, yakni Bab el-Mandeb di Laut Merah.

Di sisi lain, Gedung Putih menegaskan posisinya. Juru bicara Anna Kelly menyatakan bahwa Presiden Donald Trump menginginkan Selat Hormuz tetap terbuka guna menjamin kelancaran distribusi energi global. Ia juga menambahkan bahwa pemerintah AS terus berkoordinasi dengan negara-negara Teluk untuk mencegah Iran menggunakan tekanan ekonomi terhadap pihak lain.

Laporan The Wall Street Journal menyebut Riyadh semakin cemas kebijakan blokade tersebut justru memicu eskalasi baru. Jika Iran benar-benar menutup Bab el-Mandeb, jalur alternatif ekspor minyak Arab Saudi ke Laut Merah berpotensi terganggu.

Selat Bab el-Mandeb sendiri merupakan penghubung utama antara Laut Merah dan Samudera Hindia, sekaligus jalur penting perdagangan global yang menghubungkan Asia dan Eropa melalui Terusan Suez.

Pejabat kawasan juga menilai Iran bisa memanfaatkan sekutunya, kelompok Houthi di Yaman, untuk mengganggu jalur tersebut. Analis dari lembaga New America, Adam Baron, menyebut Houthi memiliki kapasitas nyata untuk melancarkan gangguan terhadap pelayaran, sebagaimana terlihat dalam konflik sebelumnya.

Media Iran, Tasnim News Agency, bahkan menyinggung kemungkinan penutupan akses Laut Merah sebagai respons atas tekanan yang meningkat.

Kelompok Houthi sendiri diketahui menguasai sebagian besar garis pantai strategis di sekitar Bab el-Mandeb dan telah berulang kali menggunakan rudal serta drone untuk menyerang kapal. Meski intensitas serangan sempat menurun pasca-gencatan senjata Gaza pada 2025, arus pelayaran belum sepenuhnya pulih.

Bagi Arab Saudi, situasi ini menjadi ancaman serius. Selama ini, kerajaan mampu menjaga ekspor minyak hingga sekitar 7 juta barel per hari melalui jalur darat menuju Laut Merah. Namun, skema tersebut bisa terganggu jika Bab el-Mandeb ikut ditutup.

Sebelum konflik terbaru, sekitar 9,3 juta barel minyak per hari melintasi jalur tersebut. Angka itu kini dilaporkan menurun drastis akibat gangguan keamanan.

Penasihat pemimpin tertinggi Iran, Ali Akbar Velayati, sebelumnya juga memberi sinyal keras. Ia menyebut Teheran memandang Bab el-Mandeb sama strategisnya dengan Hormuz, dan memperingatkan bahwa aliran energi global dapat terganggu hanya dengan satu keputusan.

Di tengah situasi ini, negara-negara Teluk terus mendorong solusi diplomatik. Meski retorika publik kedua pihak terlihat keras, komunikasi melalui jalur tidak langsung dilaporkan masih berlangsung.

Namun, ancaman eskalasi tetap membayangi. Iran bahkan memperingatkan bahwa jika pelabuhan mereka di Teluk Persia dan Laut Oman terancam, maka stabilitas seluruh pelabuhan di kawasan bisa ikut terdampak.

Analis dari SEB, Erik Meyersson, menilai langkah Iran menutup jalur perdagangan bisa menjadi bentuk balasan strategis. “Jika ekspor mereka ditekan, maka mereka juga bisa mengganggu jalur ekspor pihak lain,” ujarnya.

Dengan situasi yang terus memanas, jalur energi global kini berada di bawah bayang-bayang gangguan besar yang dapat berdampak luas pada ekonomi dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *