PROGRES.ID, NEW YORK – Amerika Serikat dan Iran kembali melakukan kontak diplomatik di New York di tengah meningkatnya ketegangan akibat perang yang berlangsung berbulan-bulan. Pembicaraan tersebut menjadi kontak tingkat tinggi pertama antara kedua pihak sejak perundingan sebelumnya terhenti pada Juni 2026.
Pertemuan berlangsung di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan dimediasi Qatar. Dari pihak Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi terlibat dalam pembicaraan, sementara Amerika Serikat diwakili utusan khusus Presiden Donald Trump, Steve Witkoff, bersama Jared Kushner.
Kontak diplomatik itu berlangsung hanya beberapa jam setelah Trump menyampaikan pernyataan keras di hadapan Sidang Umum PBB. Presiden AS tersebut mengatakan dirinya menghadapi pilihan antara mencapai kesepakatan dengan Iran atau mengambil tindakan yang ia gambarkan sebagai “melenyapkan” Republik Islam tersebut.
Pembicaraan AS-Iran Dimediasi Qatar
Belum ada terobosan konkret yang diumumkan setelah pertemuan tersebut. Namun, Witkoff menyebut pembicaraan yang berlangsung melalui mediator telah menyelesaikan satu putaran diskusi yang diharapkan menghasilkan perkembangan konstruktif.
Witkoff mengatakan para mediator bergerak bolak-balik antara delegasi Amerika Serikat dan Iran selama proses pembicaraan.
“Para mediator akan melanjutkan pekerjaan mereka,” kata Witkoff dalam pernyataannya setelah pertemuan.
Presiden Trump kemudian menyebut pertemuan tersebut berlangsung sangat baik dan produktif. Ia juga menyatakan terdapat momentum menuju kemungkinan kesepakatan, meski belum ada rincian mengenai kesepakatan yang berhasil dicapai.
Iran Sampaikan Syarat untuk Mengakhiri Konflik
Dari pihak Teheran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi disebut menyampaikan sejumlah tuntutan Iran melalui jalur mediasi.
Salah satu isu utama adalah Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu pusat ketegangan dalam konflik.
Iran mengaitkan kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan sejumlah langkah dari Washington, termasuk penghentian blokade laut Amerika Serikat, pelepasan aset Iran yang dibekukan, serta berakhirnya perang di berbagai front.
Teheran juga kembali menuntut penghentian apa yang disebutnya sebagai tindakan agresi Amerika Serikat.
Menurut laporan terbaru, Iran bahkan menyatakan ada kemungkinan Selat Hormuz dibuka kembali dalam waktu sekitar tujuh hari apabila Washington mengambil langkah untuk mengurangi tekanan militer dan ekonomi terhadap Teheran.
Selat Hormuz Jadi Titik Penting Negosiasi
Persoalan Selat Hormuz menjadi sangat penting karena jalur perairan tersebut memiliki peran besar terhadap perdagangan energi dunia.
Konflik dan pembatasan pelayaran di kawasan tersebut telah memberikan tekanan terhadap pasokan energi dan harga bahan bakar. Karena itu, pembukaan kembali jalur tersebut menjadi salah satu kepentingan utama dalam upaya diplomatik untuk meredakan konflik.
Selain Qatar, sejumlah negara kawasan juga mendorong proses deeskalasi. Qatar menyatakan bekerja sama dengan Pakistan untuk membantu menurunkan ketegangan antara Washington dan Teheran serta menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Pertemuan Terjadi Setelah Ancaman Trump
Kontak diplomatik AS-Iran berlangsung setelah Trump menggunakan pidatonya di PBB untuk menyampaikan peringatan keras kepada Teheran.
Trump mengatakan ia harus menentukan apakah akan mencapai kesepakatan yang memungkinkan Iran membangun kembali negaranya atau mengambil tindakan yang jauh lebih keras.
Trump juga mengatakan dirinya berharap kesepakatan dengan Iran dapat tercapai setelah pemilu sela Amerika Serikat pada November mendatang.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa meski Washington masih membuka ruang untuk negosiasi, tekanan militer dan ekonomi tetap menjadi bagian dari pendekatan pemerintah AS terhadap Iran.
Iran Balik Merespons Ancaman AS
Ancaman Trump kemudian mendapat respons keras dari Teheran.
Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran menyebut pernyataan Trump sebagai bagian dari tekanan terhadap Iran dan memperingatkan bahwa negaranya siap memberikan respons militer jika kembali diserang.
Pihak Iran juga menyebut ancaman tersebut sebagai indikasi kelemahan strategis Amerika Serikat. Pernyataan itu merupakan posisi resmi Iran dan belum menunjukkan adanya kesepakatan dengan Washington.
Di sisi lain, kontak diplomatik tetap berlangsung melalui mediator. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa jalur komunikasi antara Washington dan Teheran belum sepenuhnya tertutup meski retorika kedua pihak masih sangat keras.
Konflik AS-Iran Masih Berlangsung
Perang antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran telah memicu rangkaian serangan dan ketegangan di kawasan sejak akhir Februari 2026.
Iran membalas serangan dengan menargetkan Israel serta sejumlah pangkalan Amerika Serikat di kawasan Teluk. Ketegangan kemudian meluas ke jalur pelayaran dan kawasan sekitar Selat Hormuz.
Amerika Serikat juga mempertahankan tekanan ekonomi dan maritim terhadap Iran sebagai bagian dari upaya mendorong Teheran menerima kesepakatan.
Sementara itu, Iran tetap menuntut agar tekanan militer dan ekonomi dihentikan sebelum membuka kembali ruang yang lebih luas bagi negosiasi.
Akankah Perundingan AS-Iran Berlanjut?
Pertemuan di New York belum menghasilkan kesepakatan final. Namun, keberadaan kontak diplomatik melalui mediator menjadi perkembangan terbaru dalam hubungan Washington dan Teheran setelah berbulan-bulan konflik dan kebuntuan perundingan.
Witkoff menyatakan mediator akan melanjutkan upaya mereka. Iran juga telah menyampaikan sejumlah syarat yang dianggap penting bagi Teheran, terutama terkait penghentian konflik, tekanan Amerika Serikat, dan masa depan Selat Hormuz.
Dengan demikian, perundingan AS-Iran kini kembali terbuka di tengah ancaman eskalasi militer. Perkembangan berikutnya akan sangat bergantung pada respons Washington terhadap tuntutan Teheran dan kemampuan mediator menjembatani perbedaan kedua pihak.

Komentar