PROGRES.ID – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah sebuah media Israel mengungkap dugaan keterlibatan Amerika Serikat dalam serangan yang dilancarkan Israel ke wilayah Iran. Informasi tersebut bertolak belakang dengan pernyataan resmi Gedung Putih yang menegaskan Washington tidak terlibat dalam operasi militer tersebut.
Laporan harian Israel Hayom pada Senin menyebutkan bahwa serangan Israel terhadap sejumlah target di wilayah Iran dilakukan setelah adanya koordinasi dengan Amerika Serikat. Informasi itu berasal dari sumber anonim yang dikutip media tersebut.
Pengungkapan tersebut muncul di tengah klaim pemerintah AS yang menyatakan tidak memiliki peran dalam serangan Israel ke sejumlah lokasi di wilayah barat dan tengah Iran pada Senin dini hari. Serangan itu semakin meningkatkan ketegangan di kawasan Asia Barat.
Media Axios, mengutip seorang pejabat militer AS, melaporkan bahwa militer Amerika tidak ikut serta dalam operasi yang dilakukan Israel terhadap Iran.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya mengatakan kepada Axios bahwa dirinya berencana menghubungi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk mendesaknya agar tidak melakukan aksi balasan terhadap serangan rudal Iran.
Namun, langkah Israel yang tetap melancarkan serangan menuai kritik dari sejumlah pihak di AS. Senator Chris Murphy menilai tindakan tersebut mempermalukan Trump karena dilakukan tidak lama setelah presiden AS menyerukan penahanan diri.
“Perang ini menjadi pukulan bagi Trump dan pengaruh Amerika secara umum. Ketika Trump mengatakan akan meminta Netanyahu untuk tidak membalas, namun dalam hitungan jam serangan tetap terjadi, situasi itu semakin memperburuk keadaan,” tulis Murphy melalui platform X.
Menurut sejumlah laporan, Trump telah berbicara dengan Netanyahu melalui sambungan telepon pada Minggu dan meminta Israel menghindari serangan lanjutan karena proses negosiasi dengan Teheran dinilai berada pada tahap yang krusial. Seorang pejabat AS yang dikutip Axios menyebut Trump mengatakan bahwa peluang mencapai kesepakatan dengan Iran semakin dekat.
Di sisi lain, pasar keuangan global merespons cepat meningkatnya ketegangan tersebut. Harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 3 persen pada perdagangan awal Senin dan kembali menembus level 96 dolar AS per barel. Kekhawatiran investor terutama tertuju pada potensi gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz yang menjadi jalur strategis perdagangan minyak dunia.
Eskalasi terbaru ini terjadi setelah Israel melancarkan serangan ke pinggiran selatan Beirut pada Minggu. Serangan tersebut menjadi yang pertama di kawasan itu sejak Amerika Serikat mengajukan proposal gencatan senjata di Lebanon pekan lalu.
Sebagai respons, angkatan bersenjata Iran pada Minggu meluncurkan rentetan rudal ke wilayah yang diduduki Israel. Teheran menyebut serangan tersebut sebagai balasan atas operasi militer Israel yang terus berlangsung di Lebanon meski terdapat kesepakatan gencatan senjata.
Media Israel melaporkan sirene peringatan berbunyi di berbagai wilayah, termasuk Dataran Tinggi Golan, Tiberias, Safed, Nazareth, Haifa, dan sejumlah kota lainnya.
Militer Israel menyatakan sistem pertahanan udara berada dalam status siaga tinggi. Sementara itu, Kementerian Pendidikan Israel memutuskan menutup seluruh sekolah dan pusat pendidikan untuk sementara waktu dengan alasan keamanan.
Iran menegaskan operasi rudal tersebut dilakukan sebagai tanggapan atas serangan Israel yang berlanjut di Lebanon, termasuk pengeboman wilayah pinggiran selatan Beirut.
Tak lama setelah serangan itu, Markas Khatam al-Anbiya yang merupakan komando pusat angkatan bersenjata Iran mengeluarkan peringatan keras kepada Israel. Mereka menegaskan bahwa serangan yang lebih besar dan lebih menghancurkan akan dilancarkan jika operasi militer Israel di Lebanon terus berlanjut.












