CNN Ungkap Telepon Panas Trump-Netanyahu, Presiden AS: Kalau Bukan Karena Saya, Kamu Sudah Masuk Penjara!

favicon progres.id
trump telepon
Presiden AS Donald Trump saat melakukan percakapan melalui telepon (Foto: Bussines Insider)

PROGRES.ID – Hubungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan memanas setelah keduanya terlibat percakapan telepon yang disebut sebagai salah satu yang paling tegang sejak Trump kembali ke Gedung Putih pada 2024.

Laporan eksklusif yang pertama kali diungkap Axios dan dibahas CNN menyebut Trump meluapkan kemarahannya kepada Netanyahu terkait rencana Israel memperluas operasi militer terhadap Hizbullah di Lebanon.

Mengutip sejumlah pejabat Amerika Serikat, Axios melaporkan Trump mendesak Netanyahu membatalkan rencana serangan besar-besaran ke pusat Kota Beirut serta menghentikan perluasan operasi darat Israel di Lebanon selatan.

Seorang pejabat AS yang mengetahui isi percakapan tersebut menggambarkan Trump menggunakan kata-kata keras kepada Netanyahu. Dalam laporan itu, Trump disebut menilai langkah Israel berpotensi menggagalkan upaya diplomasi yang sedang dilakukan Washington untuk mengakhiri konflik regional dan membuka jalan menuju kesepakatan dengan Iran.

“You’re f***ing crazy. You’d be in prison if it weren’t for me. I’m saving your ass. Everybody hates you now. Everybody hates Israel because of this,” ujar Trump yang marah kepada Netanyahu dalam sambungan telepon yang dikutip CNN dari Axios.

Jurnalis Axios, Barak Ravid, mengatakan sejumlah sumber di lingkaran dekat Trump menyebut Presiden AS semakin yakin bahwa Netanyahu bertindak di luar kendali dan berisiko memperluas konflik di Timur Tengah.

Menurut Ravid, Trump saat ini lebih fokus mendorong deeskalasi dan mengakhiri perang yang melibatkan Iran serta berbagai front konflik lain di kawasan.

Ia menambahkan bahwa Gedung Putih menilai rencana Israel meningkatkan operasi di Lebanon, termasuk kemungkinan pengeboman besar di Beirut, dapat memicu eskalasi baru yang justru menghambat proses negosiasi yang sedang berlangsung.

Laporan tersebut muncul di tengah sinyal baru dari media pemerintah Iran yang menyebut pembicaraan terkait penghentian perang kembali bergerak ke arah positif. Sebelumnya, Teheran sempat mengindikasikan penghentian komunikasi dengan Washington akibat operasi militer Israel di Lebanon selatan.

Ravid menjelaskan bahwa Iran dalam beberapa pekan terakhir disebut berupaya meningkatkan tekanan terhadap Israel melalui Hizbullah untuk memperkuat posisi tawarnya dalam perundingan. Namun ketika Israel merespons dengan eskalasi militer, Teheran kemudian menuding pihak lawan memperburuk situasi.

Meski sejumlah pengumuman gencatan senjata telah muncul, kondisi di lapangan masih jauh dari stabil. Pertempuran antara pasukan Israel dan Hizbullah di Lebanon selatan dilaporkan masih berlangsung, termasuk serangan drone dan operasi darat yang terus terjadi di beberapa sektor.

Pada saat yang sama, diplomat Israel dan Lebanon dijadwalkan bertemu di bawah mediasi Amerika Serikat guna membahas mekanisme implementasi gencatan senjata yang lebih jelas dan mengikat.

Sementara itu, mantan Duta Besar AS untuk Uni Eropa, Gordon Sondland, menilai percakapan keras antara Trump dan Netanyahu bukan sesuatu yang luar biasa.

Dalam wawancara dengan CNN, Sondland menggambarkan hubungan kedua pemimpin tersebut layaknya saudara yang kerap berdebat secara terbuka namun tetap memiliki hubungan politik yang erat.

Meski demikian, laporan mengenai kemarahan Trump menjadi sorotan karena muncul di tengah meningkatnya tekanan politik domestik di Amerika Serikat. Sejumlah survei terbaru menunjukkan tingkat ketidakpuasan publik terhadap Netanyahu dan kebijakan Israel terus meningkat, termasuk di kalangan pemilih Partai Republik yang selama ini dikenal kuat mendukung Israel.

Perkembangan terbaru ini dinilai dapat menjadi indikator adanya perbedaan pandangan yang semakin nyata antara Washington dan Tel Aviv mengenai arah konflik di Timur Tengah, terutama terkait Lebanon, Iran, dan upaya mencapai kesepakatan diplomatik yang lebih luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *