Coba Intai Iran, Drone MQ-9 Reaper AS Ditembak Jatuh IRGC di Dekat Selat Hormuz

favicon progres.id
drone canggih dan mahal 4c triton
Drone mahal dan canggih milik Angkatan Laut Amerika Serikat jenis MQ-4C Triton (Foto: USN via The War Zone)

PROGRES.ID – Ketegangan militer antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan keberhasilan menembak jatuh pesawat nirawak tempur-pengintai MQ-9 Reaper milik Amerika Serikat di wilayah selatan Iran, dekat Selat Hormuz.

Dalam pernyataan resminya pada Rabu, IRGC menyebut drone canggih buatan General Atomics itu dihancurkan saat beroperasi di sekitar zona pertempuran yang tengah berlangsung di kawasan Teluk Persia bagian utara.

Menurut IRGC, sistem pertahanan udara mereka mendeteksi MQ-9 Reaper yang memasuki area operasi dari arah Selat Hormuz sebelum akhirnya ditembak jatuh di langit Kota Jam, Provinsi Bushehr.

Militer Iran menyatakan pesawat tanpa awak tersebut berupaya mendekati wilayah konflik yang sedang berlangsung dan dianggap sebagai bagian dari aktivitas militer Amerika Serikat di kawasan.

Insiden itu terjadi di tengah meningkatnya konfrontasi antara kedua negara menyusul serangan Amerika terhadap sejumlah fasilitas Iran di sekitar Selat Hormuz. Operasi tersebut dilaporkan berlangsung setelah insiden jatuhnya helikopter Apache milik Angkatan Darat Amerika Serikat beberapa waktu lalu.

Pada saat yang sama, media-media Arab melaporkan serangkaian ledakan baru di Bahrain. Sumber lokal menyebut sedikitnya 16 ledakan terdengar setelah serangan balasan yang diklaim dilakukan Iran terhadap sejumlah target militer Amerika di kawasan.

Sebelumnya, Iran mengumumkan serangan rudal dan drone terhadap berbagai fasilitas militer Amerika Serikat, termasuk markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain, serta pangkalan-pangkalan militer di Yordania dan Kuwait.

Seorang sumber militer Iran mengatakan evaluasi awal berdasarkan citra satelit dan laporan lapangan menunjukkan hasil operasi berjalan sesuai rencana. Berdasarkan data sementara, sekitar 70 persen target yang telah ditentukan berhasil dihantam.

Di sisi lain, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengakui telah melancarkan serangan terhadap sejumlah posisi pertahanan udara, radar pengawasan, dan fasilitas komando Iran di sekitar Selat Hormuz.

CENTCOM menyebut operasi tersebut sebagai langkah pertahanan diri yang proporsional terhadap ancaman terhadap pasukan Amerika dan lalu lintas pelayaran internasional di kawasan.

Namun, laporan dari Iran menunjukkan dampak serangan tidak hanya mengenai sasaran militer. Sejumlah foto dan rekaman yang beredar memperlihatkan kerusakan pada infrastruktur sipil di wilayah Hormozgan.

Otoritas setempat menyatakan dua reservoir air bersih berkapasitas besar di Distrik Bemani, Kabupaten Sirik, mengalami kerusakan berat akibat serangan tersebut.

Direktur Perusahaan Air dan Limbah Hormozgan mengatakan fasilitas yang rusak melayani kebutuhan air minum bagi sekitar 20.000 penduduk di Kota Kuhestak dan sepuluh desa di sekitarnya.

Akibat kerusakan itu, pasokan air bersih ke wilayah terdampak terputus dan pemerintah daerah terpaksa menyiapkan metode distribusi darurat untuk memenuhi kebutuhan warga.

“Kondisi menjadi sangat sulit karena suhu udara di wilayah ini berkisar antara 45 hingga 50 derajat Celsius,” ujar pejabat tersebut.

Pihak Iran menegaskan bahwa seluruh operasi militer yang dilakukan merupakan respons defensif terhadap serangan asing dan bertujuan menjaga kedaulatan negara.

Sementara itu, Markas Pusat Khatam al-Anbiya, yang mengoordinasikan operasi gabungan IRGC dan Angkatan Darat Iran, menggambarkan rangkaian serangan balasan terbaru sebagai operasi yang kuat dan terukur.

Komando tersebut juga memperingatkan bahwa apabila Amerika Serikat kembali melakukan serangan terhadap Iran, maka respons berikutnya akan jauh lebih luas dengan sasaran yang telah disiapkan sebelumnya di berbagai lokasi strategis kawasan Timur Tengah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *