Data Disensor Terbongkar! Israel Akui Ribuan Warganya Jadi Korban Luka hingga Tewas Akibat Serangan Iran

favicon progres.id
salah satu gedung di tel aviv
Salah satu gedung di Tel Aviv hancur akibat serangan rudal Iran (Foto: TasnimNews)

PROGRES.ID – Pemerintah Israel mengakui ribuan warganya mengalami luka akibat serangan rudal balasan Iran dalam periode 28 Februari hingga 25 Maret 2026. Data tersebut muncul di tengah pembatasan ketat informasi korban selama konflik berlangsung.

Menukil Tasnim News, Kementerian Kesehatan Israel mencatat sebanyak 5.473 orang mengalami luka dalam periode tersebut, termasuk 149 korban pada 25 Maret saja. Secara keseluruhan, sejak konflik dimulai pada Oktober 2023, jumlah korban luka yang dirawat di rumah sakit disebut mencapai lebih dari 80 ribu orang.

Meski demikian, angka tersebut dinilai belum mencerminkan kondisi sebenarnya. Otoritas Israel diketahui menerapkan sensor militer yang ketat terhadap publikasi data korban perang, sehingga memunculkan keraguan atas jumlah korban yang sesungguhnya.

Sejumlah analis menilai kemungkinan jumlah korban jiwa lebih tinggi dari laporan resmi, dengan mengacu pada perbedaan antara pernyataan pemerintah dan temuan di lapangan.

Di sisi lain, dampak konflik juga terasa pada kehidupan sehari-hari warga Israel. Kementerian Pendidikan menutup sekolah di sejumlah wilayah, termasuk kawasan utara dan Tel Aviv, sementara pembelajaran jarak jauh diberlakukan di daerah lain.

Gangguan juga terjadi di ranah digital, di mana sejumlah situs Israel dilaporkan menjadi target serangan siber. Di saat yang sama, peringatan keamanan dan spekulasi di media sosial meningkat terkait kemungkinan eskalasi serangan rudal dari Iran maupun Lebanon.

Tekanan politik domestik pun meningkat. Sejumlah pihak di Israel mengkritik pemerintahan Benjamin Netanyahu yang dinilai memanfaatkan situasi perang untuk kepentingan politik internal.

Pemerintah disebut tengah mengajukan perubahan anggaran dengan peningkatan belanja keamanan hingga puluhan miliar shekel, disertai alokasi tambahan untuk berbagai program domestik dan proyek yang terkait dengan koalisi pemerintahan.

evakuasi korban tewas israel
Petugas mengevakuasi jenazah tewas akibat serangan rudal Iran di Kota Arad (Foto: Telgram/X)

Kritikus menilai kebijakan tersebut bertujuan memperkuat posisi politik pemerintah di tengah tekanan, termasuk saat proses hukum yang dihadapi Netanyahu masih berlangsung.

Di tengah situasi tersebut, pejabat Israel juga mengakui adanya kerentanan di wilayah domestik. Kemampuan Iran dan Hizbullah dalam meluncurkan rudal dan drone jarak jauh dinilai mampu menjangkau berbagai wilayah dan infrastruktur penting di Israel.

Serangan berulang, bunyi sirene, serta kebutuhan untuk berlindung dalam waktu lama telah memicu rasa tidak aman di kalangan warga.

Meskipun Israel memiliki dukungan militer dan ekonomi dari negara Barat, kondisi keamanan yang tidak stabil dinilai dapat berdampak pada sektor strategis seperti teknologi, pariwisata, dan investasi asing.

Seiring berjalannya konflik, tekanan terhadap pemerintah juga meningkat. Sejumlah aksi protes dilaporkan terjadi, dengan sebagian warga menyerukan penghentian perang setelah gelombang serangan balasan dari Iran.

Media Israel juga mengakui bahwa sensor militer membatasi pelaporan data korban secara akurat. Informasi terkait lokasi serangan, terutama yang menyasar fasilitas militer dan keamanan, juga dibatasi untuk dipublikasikan.

Selain itu, laporan menyebut adanya perpindahan warga secara sukarela dari wilayah utara ke daerah yang dianggap lebih aman di bagian tengah dan selatan Israel, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap eskalasi konflik.

Situasi ini menunjukkan tekanan yang semakin besar di dalam negeri Israel, baik dari sisi keamanan maupun stabilitas sosial, di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda mereda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *