PROGRES.ID – Kelompok perlawanan Lebanon, Hezbollah, mengungkap penggunaan drone serang baru yang disebut “sulit dideteksi” di tengah gelombang serangan balasan besar-besaran terhadap posisi militer dan permukiman Israel di wilayah utara Palestina yang diduduki, Senin (waktu setempat).
Dalam satu hari, Hezbollah melancarkan puluhan operasi militer yang menargetkan berbagai posisi militer Israel dan permukiman ilegal. Aksi ini disebut sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata serta serangan berulang Israel terhadap wilayah selatan Lebanon, khususnya di kota Tyre dan Nabatieh.
Media Lebanon, al-Ahed, melaporkan bahwa rangkaian serangan tersebut mencakup peluncuran rudal, tembakan artileri, hingga pengerahan drone tempur.
Untuk pertama kalinya, Hizbullah juga menggunakan drone baru yang diklaim “sulit dideteksi”. Media Israel menyebut sedikitnya 40 drone diluncurkan ke arah wilayah utara Israel dalam operasi tersebut.
Penyiar publik Israel, KAN, melaporkan salah satu drone yang dilengkapi dengan sistem panduan optik tahan terhadap gangguan elektronik jatuh di permukiman Kiryat Shmona. Disebutkan, hanya sebagian kecil drone yang berhasil dicegat, sementara lainnya menghantam target dan menyebabkan kerusakan signifikan.
Drone baru itu disebut mampu menghindari deteksi, bermanuver di dalam bangunan, membawa hingga 5 kilogram bahan peledak, dan menjangkau puluhan kilometer. KAN menyebutnya sebagai salah satu sistem udara paling canggih yang dimiliki Hizbullah.
Serangan dimulai sejak dini hari, dengan roket diarahkan ke Kiryat Shmona dan kota Dovev. Seiring berjalannya waktu, serangan drone menyasar kota Metula dan konsentrasi pasukan Israel di Shlomi.
Memasuki siang hari, Hizbullah meningkatkan intensitas serangan dengan serangan udara terfokus menggunakan drone bermuatan bahan peledak. Sasaran meliputi barak militer dan tempat tinggal pasukan di sejumlah lokasi seperti Yiftah, Beit Hillel, Kiryat Shmona, dan Margaliot.
Serangan juga dilaporkan menghantam konsentrasi pasukan dan infrastruktur militer di Misgav Am dan Kfar Giladi, serta barak di Avivim dan Liman. Basis militer Amiad di utara kota Tiberias turut menjadi target.
Pada sore hari, sejumlah wilayah seperti Kiryat Shmona, Metula, Dovev, Shlomi, Nahariya, Hanita, dan Malkia kembali dihantam serangan roket secara berulang.
Di sisi lain, serangan juga terus berlangsung di wilayah selatan Lebanon, menyasar pergerakan pasukan dan kendaraan militer di Ain Ebel, Bayada, Bint Jbeil, dan Rashaf menggunakan rudal serta artileri.
Hezbollah menyatakan bahwa pada malam hari, serangan diperluas ke “basis sensitif” di wilayah utara Palestina yang diduduki. Target termasuk pangkalan pelatihan brigade pasukan terjun payung di Karmiel, markas Divisi Golani di Shraga, serta pangkalan Tefen di timur Acre.
Selain itu, Hizbullah mengklaim berhasil menghancurkan struktur bawah tanah di Ma’alot-Tarshiha dan Yesud HaMa’ala melalui kombinasi serangan rudal dan drone.
Operasi militer dilaporkan terus berlanjut hingga malam hari, dengan sasaran untuk mengonsentrasikan pasukan di Malkia, Bayada, dan Rashaf menggunakan kombinasi drone, artileri, dan roket.
Hezbollah menegaskan bahwa serangan akan terus dilakukan hingga “agresi Amerika-Israel terhadap Lebanon benar-benar dihentikan.”
Eskalasi ini terjadi setelah serangkaian serangan Israel ke berbagai wilayah Lebanon dalam beberapa hari terakhir, yang disebut melanggar perjanjian gencatan senjata 2024. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan ratusan orang, termasuk perempuan dan anak-anak.
Menanggapi situasi tersebut, Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Naim Qassem, menyebut serangan Israel sebagai upaya menutupi kegagalan berulang menghadapi perlawanan.
Ia menegaskan bahwa perlawanan akan terus berlanjut “hingga napas terakhir,” dan pengorbanan yang telah terjadi justru akan memperkuat tekad untuk membebaskan wilayah dan mempertahankan martabat.












