PROGRES.ID – Korps Garda Revolusi Iran menyatakan telah meluncurkan gelombang ke-74 dalam Operasi “True Promise 4” yang menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat dan wilayah Israel bagian selatan. Dalam pernyataan resminya, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menegaskan bahwa operasi dilakukan sesuai skenario militer yang telah direncanakan dengan menggunakan taktik baru serta sistem persenjataan yang telah ditingkatkan.
IRGC menyebut sejumlah target utama dalam serangan terbaru ini meliputi pangkalan Amerika di Prince Sultan Air Base, Armada Kelima Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, serta basis kelompok Komala. Serangan dilakukan menggunakan rudal cepat seperti Emad missile, Fateh missile, dan Qiam missile, serta drone tempur dalam rangkaian serangan cepat yang berlangsung dalam beberapa hari terakhir.
Selain itu, IRGC juga mengklaim telah menghantam pusat militer dan keamanan Israel di sejumlah kota besar seperti Tel Aviv, Petah Tikva, Holon, dan Ramat Gan menggunakan rudal berat seperti Qadr missile, Khaybar Shekan missile, dan Khorramshahr-4 missile yang diklaim menghantam target secara langsung dengan daya hancur tinggi dan presisi.

Dalam pernyataannya, IRGC menilai bahwa arah perang kini telah berubah dan berbalik menguntungkan Iran. Mereka menyebut perubahan tersebut terjadi karena kebingungan dalam komando strategis militer Amerika Serikat, termasuk United States Central Command, serta melemahnya sistem pertahanan udara berlapis milik Amerika Serikat dan Israel di kawasan Asia Barat.
IRGC juga mengklaim bahwa gangguan pada sistem pendukung persenjataan Amerika menjadi salah satu faktor yang mengubah keseimbangan konflik. Mereka menyebut keberhasilan tersebut merupakan hasil dari strategi militer dan teknologi yang dikembangkan oleh angkatan bersenjata Iran.
Pernyataan ini menegaskan bahwa Iran menilai kini berada dalam posisi lebih unggul dalam konflik yang sedang berlangsung, meskipun pada awal konflik Amerika Serikat dan Israel adalah pihak yang memulai agresi militer.










