Hizbullah Klaim 10 Operasi dalam Sehari, Israel Mulai Tarik Pasukan

favicon progres.id
tentara israel lari
Ilustrasi sebuah momen tentara israel menggendong rekannya yang terluka saat perang melawan Hizbullah (Dok. Telegram Hizbullah)

PROGRES.ID – Ketegangan di wilayah Lebanon selatan kembali meningkat setelah kelompok Hizbullah mengklaim telah melancarkan sedikitnya 10 operasi militer terhadap pasukan Israel dalam satu hari, Kamis (30/4/2026). Jumlah tersebut disebut sebagai yang tertinggi sejak diberlakukannya gencatan senjata antara kedua pihak.

Dalam pernyataan resminya, Hizbullah menegaskan bahwa serangkaian serangan itu dilakukan sebagai respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Israel, termasuk serangan terhadap warga sipil serta penghancuran rumah dan desa di wilayah selatan Lebanon.

Sejak pagi hingga malam hari, operasi dilaporkan berlangsung di sejumlah titik strategis. Pada pukul 08.45 waktu setempat, kelompok tersebut menyasar artileri bergerak kaliber 155 mm di selatan Yarin menggunakan drone serang, yang diklaim berhasil mengenai target.

Serangan berlanjut pada pukul 10.00 dengan menargetkan dua tank Merkava di Bint Jbeil. Setengah jam kemudian, Hizbullah mengaku berhasil menembak jatuh drone militer Israel jenis Hermes 450 di atas wilayah Nabatieh menggunakan rudal darat ke udara.

Rentetan operasi berikutnya mencakup serangan terhadap tank di Qantara, serta sejumlah target militer lain seperti konsentrasi pasukan dan kendaraan Israel di berbagai desa, termasuk Blat, Shebaa, Bayyada, Mais al-Jabal, Taybeh, dan kembali di Qantara. Mayoritas serangan disebut menggunakan drone bunuh diri dan menghasilkan “serangan tepat sasaran”.

Hizbullah juga menyatakan bahwa operasi ini merupakan bagian dari “hak untuk melawan pendudukan” dan upaya mempertahankan wilayah serta warga Lebanon dari ancaman yang dianggap terus meningkat.

Di sisi lain, militer Israel mengonfirmasi adanya korban akibat serangan tersebut. Seorang perwira perempuan dan seorang prajurit dilaporkan mengalami luka sedang setelah drone bermuatan bahan peledak jatuh di wilayah Lebanon selatan.

Media Israel turut melaporkan bahwa total korban luka di pihak militer mencapai 36 orang, dengan beberapa di antaranya dalam kondisi serius.

Sementara itu, seorang koresponden Channel 15 Israel menyebut intensitas serangan yang diklaim Hizbullah pada hari itu menjadi yang paling tinggi sejak kesepakatan gencatan senjata diumumkan.

Di tengah situasi tersebut, muncul pula indikasi perubahan taktis di pihak Israel, menyusul laporan penarikan sejumlah unit tempur utama dari wilayah selatan Lebanon. Langkah ini dinilai bukan sekadar rotasi rutin, melainkan kemungkinan respons terhadap meningkatnya risiko serangan di lapangan.

Hingga kini, situasi di perbatasan Lebanon-Israel masih tetap tegang, dengan kedua pihak saling menuding sebagai pihak yang memicu eskalasi terbaru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *