PROGRES.ID – Sebuah serangan drone masif yang dilancarkan oleh kelompok bersenjata Lebanon, Hizbullah, menargetkan kamp militer Israel di dekat Binyamina, wilayah utara Israel, dan menewaskan empat tentara serta melukai tujuh lainnya.
Serangan ini semakin memperburuk eskalasi konflik antara Israel dan Hezbollah.
Serangan Mendadak Tanpa Peringatan Sirene
Hezbollah mengklaim bahwa serangan pada Minggu, 14 Oktober 2024 ini melibatkan “swarm” atau gerombolan drone yang diarahkan ke kamp Brigade Golani, salah satu unit infanteri elit militer Israel. Serangan terjadi di dekat Binyamina, selatan Haifa.
Menurut laporan Channel 12 Israel, tidak ada sirene peringatan yang berbunyi sebelum drone tersebut menghantam target.
Dalam pernyataan terpisah, Hizbullah juga menyebut telah meluncurkan serangan rudal ke basis logistik Tsnobar di Golan Heights yang diduduki Israel.
Serangan Amerika dan Bantuan Pertahanan untuk Israel
Pada hari yang sama dengan serangan ini, Amerika Serikat mengumumkan akan mengirimkan sistem pertahanan udara THAAD untuk memperkuat pertahanan Israel. Langkah ini diambil menyusul serangan rudal oleh Iran pada 13 April dan 1 Oktober terhadap Israel.
Menteri Pertahanan AS, Lloyd Austin, menyatakan bahwa Presiden Joe Biden telah memerintahkan pengerahan pasukan dan sistem pertahanan untuk mengamankan wilayah Israel dari ancaman rudal dan drone.
Dilema Pertahanan Israel: Drone Semakin Sulit Dicegah
Nour Odeh, reporter Al Jazeera yang melaporkan dari Amman, Yordania, menekankan bahwa meski Israel memiliki sistem pertahanan udara yang sangat maju dan berlapis-lapis, serangan drone tetap sulit dideteksi.
“Biasanya, sirene akan berbunyi saat ada ancaman masuk, memberi waktu bagi warga untuk berlindung. Namun, drone sering terbang di ketinggian rendah, sehingga lebih sulit diintersep,” jelas Odeh. “Memblokir drone dengan efektif justru dapat menempatkan banyak orang dalam bahaya.”
Eskalasi Konflik dan Harga yang Harus Dibayar
Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya serangan militer Israel ke Lebanon. Eskalasi konflik bermula setahun lalu, ketika Hezbollah mulai menembakkan roket ke utara Israel sebagai respons atas serangan Israel di Gaza.
Dalam beberapa pekan terakhir, Israel memperluas operasi militernya dengan serangan udara ke seluruh wilayah Lebanon dan mengirim pasukan darat ke selatan negara tersebut.
Lebih dari 2.100 warga Lebanon telah tewas sejak Oktober tahun lalu, mayoritas dalam beberapa pekan terakhir saat serangan semakin intensif. Sekitar 1,2 juta orang telah kehilangan tempat tinggal, menurut laporan resmi otoritas Lebanon.
Analisis: Serangan Balasan dengan Harga Tinggi
Menurut analis politik Israel Gideon Levy, serangan drone Hezbollah ini mengingatkan bahwa setiap serangan Israel ke Lebanon akan membawa konsekuensi besar.
“Ini baru permulaan. Mereka yang mendukung perang ini harus menyadari bahwa harganya akan sangat mahal,” ungkap Levy kepada Al Jazeera.
Solidaritas untuk Palestina dan Pertahanan Lebanon
Hezbollah menegaskan bahwa mereka akan terus menyerang Israel sebagai bentuk solidaritas dengan perjuangan rakyat Palestina di Gaza dan untuk melindungi Lebanon serta rakyatnya.
“Ini adalah bagian dari dukungan kami terhadap perlawanan yang terhormat rakyat Palestina, dan dalam pembelaan atas tanah dan martabat Lebanon,” tegas Hizbullah dalam pernyataannya.
Serangan drone terbaru ini menunjukkan bahwa konflik antara Hezbollah dan Israel bukan hanya sekadar pertempuran lokal, tetapi bisa berkembang menjadi perang penuh skala yang membawa kerugian besar bagi kedua belah pihak.












