PROGRES.ID – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah meluncurkan lebih dari 100 rudal berat dan drone tempur, serta sekitar 200 roket, dalam gelombang ke-89 operasi balasan yang menargetkan posisi Amerika Serikat dan Israel di berbagai wilayah.
Dalam pernyataan pada Rabu, IRGC menyebut serangan tersebut dilakukan secara terkoordinasi bersama angkatan bersenjata Iran lainnya serta kelompok perlawanan di kawasan Asia Barat.
IRGC menyatakan sejumlah target militer Israel di Eilat, Tel Aviv, dan Bnei Brak menjadi sasaran, dengan laporan lokal yang diklaim menunjukkan adanya korban besar di pihak Israel.
Selain itu, IRGC mengklaim telah menargetkan lokasi persembunyian pasukan AS di Bahrain yang disebut menampung sekitar 80 personel.
Serangan juga diarahkan ke kelompok helikopter militer AS di pangkalan Al-Udayri menggunakan rudal balistik. IRGC menyebut satu helikopter hancur dan beberapa lainnya mengalami kerusakan berat.
IRGC menegaskan operasi tersebut masih akan berlanjut dengan serangan tambahan.
Dalam pernyataannya, IRGC juga menyoroti dampak konflik yang disebutnya sebagai “perang yang dipaksakan”, termasuk klaim mengenai meningkatnya tekanan terhadap pihak lawan serta dampak ekonomi global.
Dalam pernyataan lanjutan, IRGC menyebut angkatan lautnya melakukan lima operasi terpisah dalam gelombang ke-89 dengan menargetkan aset militer AS dan Israel menggunakan rudal balistik, rudal jelajah Qadr, serta drone peledak.

Salah satu target yang disebut adalah titik kumpul pasukan AS di luar pangkalan Armada Kelima di Bahrain yang diserang dengan kombinasi drone dan rudal. Laporan lapangan diklaim menunjukkan sejumlah perwira senior mengalami luka dan dilarikan ke rumah sakit di Manama.
IRGC juga menyatakan fasilitas persiapan helikopter Chinook dan hanggar penyimpanan di pangkalan Al-Udayri menjadi sasaran, dengan satu helikopter dilaporkan hancur.
Dalam operasi lainnya, dua sistem radar peringatan dini milik AS yang ditempatkan di struktur maritim di wilayah Uni Emirat Arab disebut berhasil dihancurkan secara presisi.
IRGC turut mengklaim telah menargetkan kapal tanker milik Israel bernama Aqua One di perairan tengah Teluk Persia, yang dilaporkan terbakar setelah serangan.
Selain itu, sejumlah gelombang drone peledak diluncurkan ke arah kelompok kapal induk AS USS Abraham Lincoln di Samudra Hindia utara. IRGC menyebut kapal tersebut mundur dari posisi sebelumnya berdasarkan data citra satelit.
IRGC juga menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap berada di bawah kendali penuh angkatan lautnya dan tidak akan dibuka bagi pihak yang disebut sebagai musuh.
Mengutip data intelijen, IRGC menyatakan serangan sebelumnya terhadap lokasi pertemuan perwira AS di Uni Emirat Arab menyebabkan 37 orang tewas dan sejumlah lainnya luka-luka.
Gelombang ke-89 Operasi “True Promise 4” merupakan bagian dari rangkaian serangan balasan Iran yang berlangsung hampir setiap hari sejak konflik meningkat pada 28 Februari.
Sejak saat itu, Iran melancarkan berbagai serangan rudal dan drone yang menyasar pangkalan militer AS di kawasan serta posisi Israel di wilayah pendudukan, yang disebut sebagai bentuk pembelaan diri.
Kelompok perlawanan di Lebanon, Irak, dan Yaman juga dilaporkan turut terlibat dalam serangan terkoordinasi terhadap kepentingan Amerika Serikat dan Israel di kawasan.












