PROGRES.ID – Ketegangan antara Iran dan Israel kembali meningkat setelah Iran meluncurkan rudal balistik strategis Sejjil untuk pertama kalinya sejak perang pecah pada akhir Februari 2026. Serangan tersebut menjadi bagian dari operasi militer balasan Iran yang dikenal sebagai Operation True Promise 4.
Serangan terbaru ini diumumkan oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) pada Minggu, 15 Maret 2026.
Gelombang Serangan Rudal ke-54
Dalam pernyataan resminya, IRGC menyebut bahwa serangan tersebut merupakan gelombang ke-54 dari operasi balasan terhadap Israel sejak konflik besar antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel dimulai pada 28 Februari.
Pada gelombang serangan ini, Iran tidak hanya meluncurkan satu jenis rudal, tetapi juga beberapa sistem senjata strategis sekaligus.
Beberapa rudal yang digunakan dalam serangan tersebut antara lain:
- Sejjil, rudal balistik berbahan bakar padat dengan jangkauan jauh
- Khorramshahr, rudal superberat dengan hulu ledak sekitar dua ton
- Khaybar-shekan, rudal penghancur bunker
- Qadr
- Emad
Menurut IRGC, peluncuran rudal Sejjil menjadi momen penting karena untuk pertama kalinya sistem senjata strategis tersebut digunakan dalam rangkaian operasi True Promise 4.
Target Serangan di Wilayah Israel
Militer Iran mengklaim bahwa rudal-rudal tersebut diarahkan ke sejumlah fasilitas penting Israel yang berada di wilayah pendudukan.
Target yang disebut menjadi sasaran meliputi pusat komando militer, fasilitas pengambilan keputusan strategis, serta infrastruktur yang berkaitan dengan operasi udara Israel.
Selain itu, Iran juga menyatakan bahwa beberapa fasilitas industri pertahanan Israel dan titik berkumpul pasukan militer berhasil diserang dalam operasi tersebut.
Serangan ini disebut sebagai bagian dari upaya Iran untuk melemahkan kemampuan militer Israel di tengah konflik yang semakin meluas.
Latar Belakang Perang Iran vs AS–Israel
Konflik besar ini dipicu oleh operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang dimulai pada 28 Februari 2026.
Serangan awal tersebut terjadi setelah terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, bersama sejumlah komandan militer senior dan warga sipil.
Serangan udara besar-besaran kemudian dilancarkan ke berbagai wilayah Iran, termasuk fasilitas militer dan beberapa area sipil. Serangan itu menyebabkan korban jiwa serta kerusakan besar pada infrastruktur.
Iran Balas dengan Rudal dan Drone
Sebagai balasan, Angkatan Bersenjata Iran meluncurkan berbagai operasi militer yang menargetkan posisi Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah.
Serangan balasan tersebut melibatkan gelombang rudal balistik serta drone tempur yang diarahkan ke wilayah Israel dan pangkalan militer Amerika di kawasan.
Penggunaan rudal Sejjil dalam serangan terbaru ini menandai peningkatan level eskalasi konflik, sekaligus menunjukkan bahwa Iran masih memiliki kemampuan militer strategis yang signifikan di tengah perang yang terus berkembang.












