PROGRES.ID – Serangan rudal Iran menghantam Pangkalan Udara Prince Sultan Air Base di Arab Saudi pada Jumat, menyebabkan 10 tentara Amerika Serikat terluka, termasuk dua orang dalam kondisi serius. Serangan tersebut juga dilaporkan merusak beberapa pesawat pengisian bahan bakar militer milik AS dan melibatkan penggunaan drone.
Informasi mengenai serangan tersebut disampaikan oleh pejabat Amerika Serikat dan Arab Saudi yang mengetahui insiden tersebut. Hingga laporan ini diterbitkan, pihak United States Central Command belum memberikan tanggapan resmi.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan tantangan terbesar setelah perang berakhir adalah mencegah Iran memberlakukan biaya bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Ia menyebut langkah tersebut sebagai tindakan ilegal dan berbahaya bagi dunia. Rubio juga memperkirakan konflik masih akan berlangsung antara dua hingga empat minggu.
Serangan terhadap pangkalan udara di Arab Saudi terjadi di tengah peningkatan kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Pentagon sebelumnya mengonfirmasi bahwa unsur markas dan brigade tempur dari 82nd Airborne Division akan dikerahkan ke Timur Tengah. Divisi yang berbasis di Fort Bragg tersebut dikenal sebagai pasukan reaksi cepat yang biasanya dikirim lebih dulu dalam situasi krisis.
Selain itu, Marinir dan pelaut dari 31st Marine Expeditionary Unit yang beranggotakan hingga 5.000 personel dan beberapa kapal perang juga dilaporkan bergerak menuju Timur Tengah setelah Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyetujui permintaan bantuan dari CENTCOM untuk menghadapi serangan Iran di kawasan.
Unit lain, 11th Marine Expeditionary Unit, yang merupakan bagian dari Boxer Amphibious Ready Group, juga disebut berpotensi menjadi pasukan tambahan. Unit tersebut sebelumnya melakukan latihan serangan amfibi skala besar pada 2 Maret di Marine Corps Base Camp Pendleton sebelum diberangkatkan ke wilayah operasi.
Dalam operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang disebut Operation Epic Fury sejak 28 Februari, dilaporkan 13 personel militer tewas dan hampir 300 lainnya terluka. Sebagian besar korban luka disebut telah kembali bertugas, namun sebelum serangan terbaru ini, masih ada 10 tentara AS yang berada dalam kondisi serius.
Serangan di Arab Saudi ini menandai eskalasi terbaru dalam konflik yang terus meluas di kawasan Timur Tengah, dengan peningkatan pengerahan pasukan dan serangan militer di berbagai lokasi strategis.












