PROGRES.ID, TEHERAN – Iran dilaporkan menunda keberangkatan delegasi negosiasinya ke Swiss menyusul berlanjutnya serangan Israel di wilayah selatan Lebanon, yang dinilai melanggar kesepakatan awal antara pihak-pihak yang terlibat dalam proses diplomasi.
Mengutip sumber yang mengetahui perkembangan tersebut, Al Mayadeen melaporkan bahwa delegasi Iran sebenarnya telah bersiap melakukan perjalanan ke Swiss untuk memulai putaran pertama perundingan yang dijadwalkan berlangsung selama 60 hari.
Namun, rencana keberangkatan itu akhirnya ditangguhkan setelah Teheran menilai situasi di Lebanon tidak sejalan dengan komitmen yang telah disepakati sebelumnya.
Menurut sumber tersebut, Iran telah menyampaikan kepada Amerika Serikat dan para mediator bahwa situasi di Lebanon merupakan salah satu isu utama yang akan menentukan kelanjutan maupun keberhasilan proses negosiasi.
“Delegasi Iran sebenarnya sudah dalam proses menuju keberangkatan untuk memulai putaran pertama perundingan sebelum akhirnya memutuskan menangguhkan perjalanan tersebut,” kata sumber itu.
Teheran disebut memandang perkembangan di Lebanon sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan kerangka pembicaraan yang sedang dipersiapkan.
Sumber yang sama mengungkapkan bahwa Iran telah memperingatkan pihak Amerika Serikat dan para mediator mengenai dampak dari operasi militer Israel yang masih berlangsung di wilayah Lebanon.
Menurut Teheran, aktivitas militer Israel hingga kedalaman sekitar 10 kilometer di dalam wilayah Lebanon merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap poin pertama dalam memorandum of understanding (MoU) dan kesepakatan kerangka yang menjadi dasar proses diplomasi saat ini.
Pemerintah Iran menilai penghentian operasi militer di Lebanon merupakan syarat penting untuk menjaga momentum negosiasi dan memastikan seluruh pihak mematuhi komitmen yang telah disepakati.
Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari Israel maupun Amerika Serikat terkait laporan tersebut. Sementara itu, belum diketahui kapan delegasi Iran akan melanjutkan perjalanan ke Swiss dan memulai putaran perundingan yang telah direncanakan.
Perkembangan ini menambah ketidakpastian terhadap proses diplomasi yang sebelumnya diharapkan dapat membuka jalan bagi penyelesaian sejumlah isu strategis di kawasan Timur Tengah.












